<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259</id><updated>2011-04-21T20:38:54.497-07:00</updated><title type='text'>Berita</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-112327829073853189</id><published>2005-08-05T14:41:00.000-07:00</published><updated>2005-09-20T15:34:01.356-07:00</updated><title type='text'>Apa Kata Alquran Tentang Tsunami?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Apa Kata Alquran Tentang Tsunami?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Nasaruddin Umar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gurubesar Ilmu Tafsir UIN Jakarta dan Wakil Direktur Pusat Studi Alquran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dalam penerbangan menuju Milan, Italia, di samping saya duduk seorang relawan yang baru saja pulang dari Aceh. Ia memperkenalkan diri sebagai emergency field co-ordinator pada Medecins Frontieres Arsen Zonder Grenzen, Belanda. Saya juga memperkenalkan diri sebagai gurubesar ilmu tafsir di UIN Jakarta yang akan mengikuti seminar dan workshop di Bellagio, Italia. Diskusi kami menarik karena ia juga aktif mempelajari kitab-kitab suci dan sangat kagum terhadap tulisan-tulisan Karel Armstrong, mantan seprofesinya sebagai perawat, yang kini menjadi penulis produktif tentang Islam. Di sela-sela perbincangan kami ia mendesakkan sebuah pertanyaan, What does the Qur'an really say about Tsunami in Aceh?. Ia merasa bingung terhadap pernyataan tokoh-tokoh agama di berbagai media di Indonesia. Ada yang mengatakan tsunami sebagai hukuman (punishment), yang lain mengatakan musibah biasa meskipun dahsyat (calamity), dan ada juga yang mengatakan balabencana (disaster). Sesungguhnya ia ingin menanyakan perbedaan antara azab, musibah, dan bala di dalam Alquran. Pertanyaan ini cukup berat, untung saja inti pertanyaan ini baru saja saya bahas di dalam khutbah Idul Adha di Mesjid Istiqlal yang baru lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga istilah tersebut memang sering digunakan agak rancu di dalam masyarakat, terutama pascatsunami. Jika pembicaraan diarahkan untuk menyabarkan masyarakat yang tertimpa musibah maka peristiwa tsunami diasumsikan mushibah atau bala. Jika diarahkan untuk mengingatkan kepada para pendosa dan orang-orang yang melampaui batas maka peristiwa tsunami diasumsikan azab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia, alam, dan bencana&lt;br /&gt;Di dalam Alquran, ketiga istilah tersebut dapat dibedakan. Azab lebih banyak digunakan untuk menyatakan siksaan dan hukuman Tuhan terhadap para pendosa dan orang-orang yang melampaui batas. Azab hanya ditujukan kepada para pendosa, sedangkan orang yang baik-baik luput dari azab itu. Sedangkan musibah dan bala lebih banyak digunakan untuk menyatakan ujian dan penderitaan kepada orang-orang, baik kepada para pendosa maupun kepada orang yang baik-baik. Perbedaan antara musibah dan bala hanya terletak pada skalanya. Musibah skalanya lebih besar dan lebih luas, sedangkan bala skalanya lebih terbatas dan umumnya bersifat personal. Sebab musabab musibah terkadang sulit dijelaskan karena lebih banyak bersifat makro dan akumulatif, sedangkan bala lebih banyak bersifat mikro dan kasuistik, misalnya kecerobohan seseorang berpotensi mendatangkan bala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kasus memang agak sulit dipetakan secara skematis. Perilaku menyimpang dan dan perbuatan melampaui batas manusia sebagai makhluk mikrokosmos seringkali berbanding lurus dengan perilaku ganas alam raya sebagai makhluk makrokosmos. Alam raya memang telah ditundukkan (taskhir) untuk mengabdi kepada kepentingan manusia sebagai khalifah di bumi (khalaif al-ardl), akan tetapi alam raya sepertinya memberi syarat sepanjang manusia menjadi khalifah yang baik dan benar. Kapan manusia tidak lagi bersahabat dengan alam, bahkan merusaknya, maka alam pun tidak akan bersahabat, bahkan tidak segan-segan ''menghukum'' sendiri manusia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dialektis antara makhluk mikrokosmos dan makhluk makrokosmos banyak diuraikan di dalam Alquran. Antara lain misalnya hujan yang tadinya pembawa rahmat (QS al-An'am/6:99), tiba-tiba menjadi sumber malapetaka banjir yang memusnahkan areal kehidupan (QS al-Baqarah/2:59). Gunung-gunung yang tadinya sebagai pasak bumi (QS al-Naba'/78:7), tiba-tiba memuntahkan debu, lahar panas, dan gas beracun (QS al-Mursalat/77:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin yang tadinya mendistribusi awan (QS al-Baqarah/2:164) dan menyebabkan penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Kahfi/18:45), tiba-tiba tampil begitu ganas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilalewatinya (QS Fushshilat/41:16). Laut yang tadinya begitu pasrah melayani mobilitas manusia (QS al-Haj/22:65), tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya (QS al-Takwin/81:6). Kilat dan guntur tadinya menjalankan fungsi positifnya, melakukan proses nitrifikasi (nitrification process) untuk kehidupan makhluk biologis di bumi (QS al-Ra'd/13:12), tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya, menetaskan larva-larva betina (telur hama) yang kemudian memusnahkan berbagai tanaman para petani (QS al-Ra'd/13:12). Disparitas flora dan fauna tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS al-Ra'd/13:4), tiba-tiba tumbuh dan berkembang menyalahi keseimbangan dan pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia (QS al-A'raf/7:132).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azab, mushibah, dan bala dalam Alquran memang ada. Azab yang merupakan siksaan yang ditujukan kepada umat-umat terdahulu yang melampaui batas, seperti umat Nabi Nuh yang keras kepala dan diwarnai berbagai kedlaliman (QS al-Najm/53:52), dihancurkan dengan banjir besar dan mungkin gelombang tsunami pertama dalam sejarah umat manusia (QS Hud/11:40); umat Nabi Syu'aib yang penuh dengan korupsi dan kecurangan (QS al-A'raf/7:85; QS Hud/11:84-85) dihancurkan dengan gempa yang menggelegar dan mematikan (QS Hud/11/94); umat Nabi Shaleh yang kufur dan dilanda hedonisme dan cinta dunia yang berlebihan (QS Al-Syu'ara'/26:146-149) dimusnahkan dengan keganasan virus yang mewabah dan gempa (QS Hud/11:67-68).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dan penyimpangan seksual (QS Hud/11:78-79) dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat (QS Hud/11:82); penguasa Yaman, Raja Abraha, yang berusaha mengambil alih Ka'bah sebagai bagian dari ambisinya untuk memonopoli segala sumber ekonomi, juga dihancurkan dengan cara mengenaskan sebagaimana dilukiskan dalam surah Al-Fil (QS al-Fil/105:1-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kerja azab Tuhan di dalam Alquran hanya menimpa kaum yang durhaka dan tidak menimpa atau mencederai orang-orang yang shaleh dan taat pada Tuhan. Sedangkan cara kerja mushibah dan bala tidak membedakan satu sama lainnya. Contoh adzab misalnya Nabi Nuh dan orang-orang taat yang menyertainya selamat dari terpaan banjir besar. Nabi Syu'aib dan pengikut setianya selamat dari amukan gempa yang menggelegar. Nabi Shaleh dan segelintir pengikut setianya selamat dari serangan wabah virus yang mematikan secara massal itu. Nabi Luth dan pengikut setianya juga terbebas dari bencana alam yang mengerikan itu. Demikian pula virus dahsyat yang dibawa oleh serangga Ababil hanya menghancur luluhkan pasukan Abrahah. Dalam riwayat, Abu Thalib, kakek Nabi yang menyaksikan bencana itu tidak ikut korban dalam bencana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk azab yang pernah menimpa umat terdahulu antara lain: 1) banjir besar (mungkin ini gelombang tsunami pertama) seperti yang ditimpakan pada umat Nabi Nuh; 2) bencana alam dahsyat berupa suara yang menggemuruh seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Syu'aib; 3) tanah longsor dahsyat seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Luth; 4) Virus hewan yang menular kepada manusia secara mengerikan, seperti yang menimpa umat Nabi Shaleh. Menurut Prof Opitz, seorang ahli sejarah penyakit, kemungkinan virus ini virus anthrax karena gejalanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, hari pertama warna kulit mereka berwarna kuning, hari kedua berwarna merah, mungkin karena terjadi pendarahan yang hebat sehingga pori-pori mengeluarkan darah, dan hari ketiga berwarna hitam, mungkin karena empedu pecah dan seluruh cairan dalam tubuh berwarna hitam. Ujung hari ketiga virus ini bekerja pada sistem saraf termasuk sistem pendengaran, maka mereka mati bergelimpangan seperti mendengarkan suara yang amat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azab lain berbentuk bakteri yang mematikan dibawa oleh serangga sebagaimana ditujukan kepada umat pasukan Abrahah. Dalam Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh, kata thair dalam surah al-Fil diartikan dengan serangga yang membawa virus dan kata al-hijarah min sijjil diartikan semacam zat yang mematikan. Cara kerja virus ini menurut Prof Opitz agak mirip dengan virus Ebola yang mengenaskan itu. Azab Tuhan sulit dipredeksi dan tidak akan pernah bisa ditangkal oleh kekuatan manusia. Sedangkan musibah dan bala ada kemungkinan untuk diprediksi dan diupayakan penangkalnya, antara lain dengan bentuk doa sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-112327829073853189?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/112327829073853189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=112327829073853189' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/112327829073853189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/112327829073853189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/08/apa-kata-alquran-tentang-tsunami.html' title='Apa Kata Alquran Tentang Tsunami?'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110650463861380479</id><published>2005-01-23T10:22:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T15:37:43.720-07:00</updated><title type='text'>Anak Bertemu Kembali Dengan Ayah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Anak Bertemu Kembali Dengan Ayah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALATIN SAH, 44, warga Nanggroe Aceh Darusalam (NAD), salah seorang korban gempa dan gelombang tsunami yang selamat Selasa (18/1) sekira pukul 09.00, sengaja mengenakan jaket dan topi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia, sehari sebelumnya tiba di Kota Medan dan langsung menuju Posko Kemanusiaan Aceh Sepakat di Jl. Imam Bonjol No.42 Medan, yang tidak begitu jauh dari Bandara Polonia.&lt;br /&gt;Dia mengaku sengaja mengenakan pakaian dan topi untuk membuktikan apakah anak pertamanya Tajuz Gibransah yang selamat dari terjangan tsunami Minggu (26/12), masih menandai dan ingat padanya. Saya sangat gembira karena masih bisa menemukan Azus (panggilan akrabnya), meskipun hingga kini istri saya Misnawati dan seorang anak saya bernama Raisa Kamila berusia satu tahun, belum ditemukan, ungkap Salatin Sah, PNS Dinas PU Kota Banda Aceh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan hari itu, Azus bocah berusia 3,5 tahun yang menjadi darah-dagingnya itu beberapa menit memandangi sang ayah, kemudian berteriak dengan suara bocahnya memanggil sang ayah. Keduanya pun berangkulan.Si kecil seperti tidak hendak lepas dari gendongan si ayah, lalu kemudian menanyakan adik dan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan si Azus kecil, membuat Salatin haru-biru dan tidak kuasa dia membendung airmatanya. Dia menciumi si anak yang terpisah sejak musibah bencana alam dahsyat melanda NAD dan sebagian Sumatera Utara. Anak adalah harta paling berharga di dunia ini, terlebih lagi saya rasakan setelah peristiwa yang tidak disangka dan tentu tidak diinginkan semua orang, tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertemuan di Posko Aceh Sepakat, Salatin mengaku mendapat obat dari kesedihan yang dialaminya sejak musibah yang menggemparkan dunia internasional itu. Yang diketahui Salatin, ayah dan dan ibu mertuanya selamat, dan kini menjalani perawatan medis di Bagan Siapi-api. Dia cukup berat bahkan sangat berhati-hati menuturkan peristiwa musibah bencana alam itu. Bahkan pada bagian tertentu kisahnya dia seperti emosional hingga airmatanya mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ketua Umum DPP Aceh Sepakat H Fauzi Usman yang mendapingi Salatin mengungkapkan, bocah Azus sebelumnya diselamatkan oleh Ny Endang Suwarya istri Pangdam Iskandar Muda. Ny. Endang Suwarya juga mengalami musibah bencana itu dan ikut tergulung dalam gelombang tsunami yang menghantam Banda Aceh. Isteri Pangdam Iskandar Muda ini pun menitipkan Azus di RS Malahayati Medan, dengan pesan agar si bocah dirawat sebaik-baiknya. Sementara dia berobat ke Bandung, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa hari menjalani perawatan medis di RS Malahayati, akhirnya Aceh Sepakat membawa Azus ke Posko di Jl. Imam Bonjol Medan yang langsung diawasi oleh H Fauzi Usman dan kawan-kawan. Di sana Tim Kesehatan Kemanusiaan dari Korea sedang memberikan pelayanan gratis pemeriksaan dan perobatan 'free' kepada warga pengungsi korban tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Allah SWT berkehendak, itulah awalnya yang menjadi pertemuan sang ayah dan si anak yang tinggal satu-satunya. Kisahnya memang singkat. Dua hari sebelumnya, sepupu Salatin bernama Nur Wahidah yang juga pengungsi dari NAD datang dan memeriksakan kesehatan di Posko tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditakdirkan Tuhan, dia berpapasan dengan Tajuz Gibransah alias Azus yang memang dia kenal dan si bocah pun mengenalnya di salah satu ruangan di Posko tersebut. Spontan hari itu juga dia menelefon ke Banda Aceh, kepada keluarga di sana menginformasikan bahwa Azus selamat dan berada di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu Salatin spontan berangkat ke Kota Medan dari Banda Aceh untuk bertemu dengan darah dagingnya yang selamat, meski sejak kejadian dia merasakan anak yang satu ini benar-benar selamat. Bathin saya menyatakan Azus selamat, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang gerak bathin Salatin terbukti ketika hari itu dia menemukan Azus, salah seorang dari 2 anaknya ketika berumahtangga dengan Misnawati, yang belum ditemukannya. Ketua Umum DPP Atjeh-Sepakat H Fauzi Usman didampingi Kepala Bagian Hubungan Antar Kota dan Daerah (HAKDA) Pemko Medan H Ikrom Helmi Nasution, SH, mengatakan dari sikap serta spontanitas si Azus ketika bertemu ayahnya, memberikan keyakinan benar bocah itu adalah anak Salatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kami memerlukan wawancara dan dialog dengan Salatin untuk lebih meyakinkan kami bahwa Azus benar-benar anak Salatin, dan tentunya diiringi surat-surat serta administrasi yang diperlukan, ujar Fauzi Usman. Mana tahu, lanjutnya, kelak ada perubahan atau hal-hal tertentu, maka kami bisa menghubungi Salatin dan anaknya Azus, selain menghindari munculnya permasalahan serta isu-isu yang berkaitan dengan nasib bocah-bocah dari keluarga yang hilang atau korban musibah gempa-tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Salatin terus memangku Azus dan tidak ingin melepaskan anaknya, dia semakin erat dan ketat merangkul dan memeluk si bocah Azus. Kemarin dia tampak sangat gembira, tetapi kemurungannya hari ini mungkin dikarenakan tentang adiknya Raisa Kamila dan ibunya Misnawati belum ditemukan, kata Fauzi (FKUI /WASPADA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengungsi Aceh Tewas Akibat Hirup Lumpur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban tsunami, Nurbaiti, 35, penduduk Aceh Besar, meninggal dunia Selasa (18/1) setelah menjalani perawatan di ruang ICU RSU Pirngadi Medan. Ketua Komite Medik RSU Pirngadi Medan Dr. Amran Lubis, SpJ yang dikonfirmasi Waspada mengatakan, korban meninggal dunia akibat terkena aspirasi pneumoni (terhirup lumpur) saat terjadi bencana alam di NAD.&lt;br /&gt;Lumpur yang terhirup itu kemudian masuk ke dalam sel paru-paru. Bila lumpur yang terhirup itu hanya sebatas saluran pernafasan, kemungkinan masih bisa diselamatkan, ujar Amran. Menurut pihak keluarga, suami dan kedua anak korban lebih dulu meninggal pada 26 Desember. (FKUI /WASPADA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110650463861380479?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110650463861380479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110650463861380479' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110650463861380479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110650463861380479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/anak-bertemu-kembali-dengan-ayah.html' title='Anak Bertemu Kembali Dengan Ayah'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110640810397139044</id><published>2005-01-22T07:28:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T15:40:25.656-07:00</updated><title type='text'>Kesaksian Korban Tsunami, Yunizar, Abdul, dan Halimah .....</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Kesaksian Korban Tsunami, Yunizar, Abdul, dan Halimah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air Laut Sempat Surut dari Pinggir Pantai Sekira 1 Kilometer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU 26 Desember 2004. Yunizar (35) mengikat perahu boat-nya di sebatang pohon kelapa yang ada di kawasan pariwisata Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar atau sekira 20 km arah barat Kota Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski waktu belum menunjukkan pukul 8.00 WIB, Yunizar mengakhiri kegiatannya memancing di laut. Entah kenapa, hanya sedikit ikan yang dia peroleh hari itu. Padahal permintaan ikan segar untuk hari Minggu biasanya banyak, seiring berdatangannya para wisatawan yang doyan ikan bakar di sepanjang Pantai Lampuuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunizar sempat merasakan gempa saat kapalnya merapat di pantai. Akan tetapi, gempa itu tak kuat terasa. Saat gempa pertama berkekuatan 8,9 richter itu, dia masih berada di tengah laut. "Saya melihat kondisi laut tiba-tiba agak aneh saat itu," katanya kepada "PR", baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ungkapannya itu, yakni pada hari Minggu (26/12), ombak tidak memecah bibir pantai, namun bergeser terus ke tengah hingga membentuk gelombang setinggi 10 meter. Dirinya yang sudah lima tahun bergelut profesi sebagai nelayan tahu betul setiap "perubahan" air laut. Apalagi dia tinggal di Desa Balee, Kemukiman Lampuuk yang terletak di garis pantai. Tapi dari semua pengetahuannya tentang laut, hanya satu yang terlewati, malah sialnya justru inilah yang paling penting, yaitu dia tidak tahu bahwa akan ada gelombang tsunami selepas gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa ia termangu melihat ombak raksasa itu bergerak perlahan menuju pantai dari arah tengah laut. Dari laut, terlihat gerakannya lambat, sehingga membuat Yunizar sempat terpaku hingga 10 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, posisinya sendiri sudah berada di tepi pantai dan hendak melabuhkan perahunya. Ketika sadar bahwa ombak itu bisa mencapai daratan, Imran sudah terlambat untuk secepatnya lari ke perkampungan. Dia akhirnya memutuskan naik ke atas sebuah pohon pinus yang berjajar di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama dia tiba di pucuk pohon pinus, dia melihat ada dua gelombang setinggi 10 meter dan 15 meter itu susul menyusul mendekati bibir pantai. Warnanya hitam pekat. Gelombang pertama langsung menghantam dirinya yang sedang bertengger di atas pohon pinus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunizar memeluk batang pinus yang kasar itu dengan sekuat tenaga. Mulutnya membaca doa. Dia berhasil, pegangannya cukup kuat. Setelah menghantam pohon pinus, ombak itu kemudian bergerak menghantam pemukiman Lampuuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempatnya tinggal selama ini. Dalam sekejap, pemukiman yang berada di tepi pantai itu rata dengan tanah. Penderitaannya ternyata belum selesai. Gelombang susulan setinggi mencapai 15 meter kembali datang dan menghantam dirinya. Kali ini pegangannya pada pohon pinus terlepas. Yunizar langsung terjun bebas ke air laut yang penuh dengan kayu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali dia dibawa berputar-putar selama dua jam. Kadang dirinya terantuk kayu dan seng. Cukup banyak air laut bercampur lumpur itu yang terminum olehnya. "Sampai akhirnya saya berhasil meraih sebuah papan. Papan itu yang menyelamatkan saya," katanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, dia merasa sangat lemah. Di atas papan itu, Imran tertidur saking lelahnya. Dia baru bangun ketika jam di tangannya menunjukkan pukul 15.00 WIB. Dia masih di air saat papannya mengarahkannya ke dekat pemukiman Lamlhom, Aceh Besar, sekira tiga kilometer dari Kemukiman Lampuuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunizar beruntung karena selamat dari gelombang tsunami. Tapi tak urung, ia kehilangan 15 orang anggota keluarganya, termasuk istri dan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;KENYATAAN senasib juga dialami Abdul (37). Pria asal pemukiman Lampuuk ini kehilangan orang terdekatnya. Bahkan, 30 anggota keluarga besarnya lenyap digerus tsunami. Abdul mengaku dibawa gelombang ke pemukiman Lamlhom, sehingga akhirnya terpaksa mengungsi di sana. Namun dia menolak disebut sebagai pengungsi asal Lamlhom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan hanya Yunizar dan Abdul yang diseret hingga Lamlhom. Ada 750 warga Lampuuk lainnya yang selamat yang juga didamparkan di sana. Jumlah ini tentu saja tak seberapa dibanding jumlah penduduk Lampuuk yang mencapai 6.000 jiwa dan tersebar di lima desa itu. Dari 750 orang yang selamat itu, semuanya ada laki-laki. Jarang terlihat anak-anak atau perempuan. "Untuk selamat memang selain perlindungan Allah juga ditentukan kuat tidaknya kita bertahan di air," kata Yunizar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditemui "PR" saat itu, mereka sedang membuat tenda di kawasan Lamlhom. Pengungsi Lampuuk yang paling banyak terdapat di Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) Lamlhom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syukurlah, di Lhamlom ini air bersih cukup banyak. Kalau tidak bisa bahaya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara, saat "PR" berada disana, mereka bertahan dengan bantuan yang sekadarnya dari para dermawan. Tapi kini "PR" pun tidak tahu dan hanya berharap, mudah-mudahan Yunizar beserta pengungsi lainnya telah mendapat bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu jawaban, ketika ditanya apa keinginan mereka selepas bencana? Jawab mereka "Kami ingin pulang, kembali ke daerah kami."&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;LAIN lagi cerita korban tsunami bernama Halimah. Wanita (31) asal Kampung Belakang, Meulaboh. Minggu pagi itu (26/12) setelah gempa dirinya pergi ke pantai bersama ratusan warga kampung lainnya. Orang ramai ke sana, karena ingin melihat air laut kering (surut). "Betul, saya melihat air kering sampai sekira 1 kilometer," katanya kepada "PR"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan Halimah ini senada dengan Yunizar dan Abdul. Memang, saat itu konon banyak warga terpesona melihat fenomena alam yang belum pernah tersaksikan mata itu. Malah tak sedikit orang dewasa dan anak-anak berebutan menangkapi ikan-ikan yang menggelepar di pasir yang tadinya dasar laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hampir setengah jam orang-orang berebutan ikan, tapi ya Allah sekejap terdengar suara bergemuruh dari arah laut. Saya melihat gulungan air bah setinggi sekira 10 meter dari kejauhan. Saat itulah orang-orang mulai panik dan berlarian," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekuat tenaga dirinya berusaha lari ke arah kampung mereka. Saat itulah dia masih melihat banyak orang yang berjatuhan dan kesulitan untuk berdiri. Anak-anak yang tadi menangkapi ikan juga terlihat panik. Saat menoleh ke belakang, gulungan air yang mengalir cepat itu terlihat semakin dekat menyapu apa saja yang menghalangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halimah beruntung, meski terjatuh sampai tiga kali, dia terus berlari dan sampai ke perkampungan. Karena panik, dia sembarangan masuk ke rumah orang. Rumah itu berdinding permanen. "Saya rasa, saya pasti aman di situ karena dindingnya batu," katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi air terus menerjang. Malah semakin kencang dan terus meninggi. Merasa kurang aman, Halimah lalu memanjat langit-langit rumah. Dia lalu memukul asbes rumah itu sampai pecah, naik ke kuda-kuda rumah dan sampai ke atap rumah. "Tanganku sampai luka," katanya sambil menunjukkan bekas luka yang sudah mengering. Ternyata di situ sudah banyak orang. Air terus meninggi. "Tolong, tolong, tolong," jerit orang yang terseret air di tengah deru air. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, selain menangis ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 31 tahun tinggal di kampung itu, tak pernah dia melihat air naik setinggi itu. Air terus naik. "Seingat saya gelombang air datang sampai tiga kali. Dan yang kedua paling parah sampai menelan sejumlah rumah di kampung kami," katanya sambil mengingat kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena takut ikut terseret arus, ia pun lalu pindah ke rumah lain yang lebih tinggi. Dari situlah matanya merekam semua pemandangan yang memilukan. Banyak orang yang terseret arus tapi tidak bisa berenang karena tersangkut kayu dan bahan-bahan bangunan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian perlahan-lahan air mulai surut. Merasa sudah aman, Halimah lalu turun dan mencoba mencari suami dan anaknya yang terpisah saat lari menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ke Masjid Agung, karena orang banyak berkumpul di situ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, mereka masih hidup dan berada di Masjid Agung. Malam itu mereka menumpang tidur di rumah orang yang tidak terkena hantaman tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, mayat-mayat masih berserakan. Didorong rasa lapar, sang suami Anwar lalu berusaha mencari makanan ke toko-toko yang sudah porak-poranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untunglah kami bisa menemukan biskuit dan Indomie. Selama dua hari, hanya itulah yang bisa kami makan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu (29/12), bantuan bahan makanan mulai datang. Karena merasa masih trauma, dirinya bersama keluarganya lalu mengungsi ke Medan dengan menggunakan transportasi darat. Karena tidak punya saudara di Medan, mereka lalu bergabung bersama pengungsi lainnya di posko bencana. Sedikit lega karena banyak orang dan jauh dari kampungnya, juga berada di posko tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, Halimah cuma bisa berharap bantuan dari pemerintah. "Saya dengar, keluarga yang terkena bencana akan mendapat uang besar," tanyanya kepada "PR".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya pemerintah membangunkan kembali rumah mereka, ia bersama suami dan anaknya, masih ingin kembali ke Meulaboh. "Tapi kalau tidak, saya tak mau ke sana lagi. Apalagi kami sudah tidak punya apa-apa di sana. Tolonglah sampaikan pesan kami ini," lanjutnya menutup cerita. (Rizwan/"PR")***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110640810397139044?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110640810397139044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110640810397139044' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110640810397139044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110640810397139044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/kesaksian-korban-tsunami-yunizar-abdul.html' title='Kesaksian Korban Tsunami, Yunizar, Abdul, dan Halimah .....'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110623294811284396</id><published>2005-01-20T06:53:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T15:42:33.130-07:00</updated><title type='text'>Karomah dari Tanah Duka</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Karomah dari Tanah Duka&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam keajaiban dan kebesaran Allah, nampak di Aceh. Mulai dari besarnya gelombang sampai cara-cara selamat yang tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, daerah Krueng Raya yang berada di pantai barat Privinsi Nanggroe Aceh Darussalam ramai. Seperti biasa. Perkampungan di garis pantai itu, dipenuhi anak-anak yang turun bermain di bibir laut. Di daerah itu pula, Taufik bin Ahmad tinggal bersama istri dan seorang anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sederhananya berdiri di samping sebuah meunasah, atau mushalla, An Nur. Di meunasah itu pula, Taufik bin Ahmad setiap malam sampai subuh mendirikan shalat tahajud dengan sujud-sujud panjangnya. Mengajar ngaji anak-anak kecil dari perkampungan pantai dan juga berdakwah. Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu, hari Ahad (26/12) langit juga cerah. Awan putih bergumpal dan berarak di langit biru. Tapi tiba-tiba bumi berguncang dengan kuatnya. Kepanikan, sesaat melanda penduduk perkampungan di garis pantai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak lama. Kepanikan yang mengepung segera sirna. Maklum, gempa memang bukan hal yang aneh pagi penduduk Serambi Mekkah ini. Tapi bukan karena itu saja, air pantai yang surut hingga lebih dari satu kilometer yang menyisakan ikan-ikan yang menggelepar di pantai begitu menggoda penduduk. Berduyun anak-anak dan juga orang dewasa, turun ke pantai yang garisnya sudah jauh surut. Mereka berebut ikan yang menari-nari di atas pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tidak dengan Taufik bin Ahmad. kepada SABILI ia mengaku perasaannya begitu ngeri melihat air surut dari pantai dengan cepatnya. Ia berteriak-teriak pada orang-orang untuk tak turun ke pantai. “Jangan. Jangan ke pantai,” pekiknya. Tapi tak ada yang hirau pada teriakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berlari dan bilang pada istrinya, untuk segera menjauh dari pantai. Meski ia tak tahu apa yang bakal terjadi, perasaannya mengatakan ada yang tak wajar. Ia menyuruh istri dan anaknya untuk kembali ke rumah. Tak berapa lama, hanya dalam hitungan tak sampai beberapa menit ombak yang seperti tembok tingginya datang bergulung-gulung. Menggulung pantai, orang dan rumah-rumah. Taufik bin Ahmad pun terpisah dari anak dan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Taufik dan anaknya, masuk ke dalam meunasah. “Saya yakin, Allah tidak akan berbuat apa-apa dengan meunasah ini. Saya yakin, Allah akan menyelamatkan meunasah dan orang-orang di dalamnya,” ujar istri Taufik pada SABILI beberapa hari setelah badai usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, meunasah itu tak apa-apa. Meunasah sederhana yang terbangun dari papan itu memang terbawa arus sampai beratus-ratus meter dari tempatnya berdiri semula. Begitu juga istri dan anak Taufik bin Ahmad. Dari dalam meunasah ia merasakan hantaman ombak tsunami, pusaran air yang menggulung-gulung. Tapi meunasah itu selamat, begitu juga anak dan istri Taufik bin Ahmad. Beberapa jam setelah air surut, suami, istri dan anak itu bertemu. Dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tak jauh dari sana, masih di Krueng Raya, tangki-tangki Pertamina yang berukuran besar, dari besi dengan bobot berton-ton telah poranda. Bentuk aslinya telah hilang oleh gelombang tsunami yang menghantam. Meunasah kecil An Nur yang sederhana, adalah keajaiban Allah yang dituturkan oleh keluarga Taufik bin Ahmad, keluarga yang selamat di dalam rumah Allah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di Kreung Raya, keajaiban dipertontonkan pada manusia. Sebuah dayeuh atau pesantren, Darul Hijrah namanya, adalah saksi sekaligus penerima dari karomah yang luar biasa itu. Pesantren yang berdiri di tepi pantai itu cukup indah dengan pemandangan langsung ke arah pantai. Tapi itu adalah pemandangan sebelum gelombang tsunami menghantam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pantai sudah tak seperti dulu lagi, Darul Hijrah masih tetap seperti semula. Dayeuh dengan enam bangunan yang terbuat dari rumah panggung papan itu bahkan tak bergeser sedikit pun. Puluhan santrinya selamat, tak kurang suatu apa.&lt;br /&gt;Menurut keterangan santri dan penduduk sekitar, gelombang tsunami memang menerpa. Namun, tepat di sekitar dayeuh, arus gelombang seakan melemah. Bahkan gelombang seolah terbelah dan membiarkan dayeuh selamat dari terjangan tsunami. Padahal, sekali lagi, Pertamina yang tak jauh dari tempat itu, hanya berjarak beberapa kilometer saja, lantak oleh tsunami. Tangki-tangki besar yang berbobot mati berton-ton penyok, tak sesuai bentuk asalnya. Bahkan tangki-tangki itu tak berdiri di tempatnya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren atau dayeuh lain yang selamat adalah Nasrul Muta’alimin, di kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Dayeuh yang berada hanya beberapa ratus meter saja dari laut yang menjadi pusat tsunami ini selamat tak kurang suatu apa. Begitu juga para santrinya, tak seorang pun menjadi korban. Menurut seorang santri, Halimah, yang ditemui SABILI, para penghuni pesantren mengamati terjangan tsunami sejak awal. Detik demi detik. Sementara itu, di dalam pesantren, seluruh santri dan guru berzikir tak putus dan memanjatkan doa tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan alhamdulillah, doa mereka seakan terjawab. Gelombang air yang begitu dahsyat itu seolah terpisah saat sampai di Pesantren Nasrul Muta’alimin. Air hanya lewat dengan begitu tenang di bawah bangunan pesantren yang berbentuk rumah panggung. “Kami semua membaca al-Qur’an dan berdoa tak henti-henti ketika ombak laut datang,” ujar Halimah yang saat itu tak menyangka akan begitu banyak korban yang ditelan tsunami yang melintas di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Kreung Raya pun tetap utuh seperti sedia kala. Air memang sempat masuk ke bangunan masjid. Tak tak satu pun tiang atau sudut bangunan masjid ini yang roboh. Masjid ini masih berdiri kokoh di ujung muara kreung (sungai, Aceh). Jika melihat posisi masjid yang benar-benar nyaris di bibir pantai, rasanya mustahil bagi akal untuk menerimanya tetap berdiri tak kurang suatu apa. Allah memang telah memilih apa yang hendak diselamatkan, dan apa pula yang hendak dilumatkan.&lt;br /&gt;Daerah garis pantai Kreung Raya memang menyimpan banyak cerita setelah tsunami reda. Di pantai itu pula ulama besar dari abad silam, Syiah Kuala dimakamkan. Makam yang indah di tepi pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi pantai itu pula, dua malam sebelum bencana, menurut keterangan penduduk yang selamat, beberapa anggota Brimob yang beragama Kristen merayakan malam Natal. Acara cukup meriah, ujar seorang penduduk yang selamat. Tapi tak hanya perayaan Natal. Pada malam berikutnya, perayaan Natal berganti dengan pesta. Tak jelas, apakah orang-orang yang berada di tempat tersebut sama dengan orang-orang sebelumnya, tapi yang jelas, malam itu lebih meriah dengan malam sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta api unggun hingga pagi hari. Tenda-tenda juga didirikan. Suara-suara perempuan terdengar oleh penduduk dari kejauhan. Entah sedang berlangsung pesta apa di pantai dekat makam Syekh Syiah Kuala itu. Pesta memang terus berlangsung hingga sinar matahari memecahkan gelap langit. Penduduk sekitar menceritakan, orang-orang tersebut bahkan masih berada di pantai saat gempa mengguncang. Peserta pesta semalam itu, dituturkan, terkaget-kaget juga saat air pantai surut hingga jauh ke laut. Mereka terbengong-bengong dan tak tahu apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat seperti itulah, air datang. Tapi anehnya, menurut penduduk, air tak hanya datang dari arah laut. Air keluar dari arah makam. Air hitam, tinggi menjulang. Dan para peserta pesta pun terkepung. Dari depan mereka, arah laut, sebelum sempat sadar, gelombang dengan kecepatan setara jet komersial datang menghantam. Sedangkan dari belakang, air yang memancar tinggi, setinggi pohon kelapa dan juga bagai tembok, panjangnya menghalangi jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah cerita yang dituturkan penduduk Kreung Raya itu? Tentang air hitam yang keluar dengan dahsyat dari areal makam? Wallahu a’lam. Yang jelas, makam Syiah Kuala yang berusia ratusan tahun itu kini telah hilang, nyaris tak meninggalkan bekas di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban dan karomah lain diperlihatkan lewat pemeran lain. Kali ini hewan-hewan, bukan manusia. Sebelum gempa dan gelombang tsunami menghantam, tanda-tanda yang disampaikan oleh alam dan hewan telah bertebaran. Kawanan burung putih terbang berarak-arak di langit kota Banda Aceh. Menurut kakek nenek dan orang-orang dulu, jika kawanan burung putih melintas di atas langit, akan ada bencana yang datang dari laut. Begitu juga jika air laut surut dengan cepat dari pantai. Orang tua dulu telah memberikan nasihat turun-temurun, jika air surut dengan cepat, depat-cepat lari naik ke hutan. Karena tak lama, ombak setinggi pohon kelapa akan segera datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bencana terjadi pun, keajaiban yang ditunjukkan oleh alam dan binatang juga terjadi. Mayat-mayat yang terbengkalai di mana-mana, hingga hari ini dikhawatirkan menimbulkan gelombang bencana susulan. Gelombang wabah kolera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hingga hari ini, dua pekan lebih setelah hari bencana, belum diketahui ada korban selamat yang terjangkit kolera. Dan ini adalah keajaiban lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban yang lain adalah, tak ada lalat-lalat yang mengerumuni mayat yang sudah pasti akan membantu cepatnya penyebaran virus atau bakteri kolera. Keheranan akal ini dicermati dengan teliti oleh dr. Mastanto dari Posko Keadilan Peduli Umat (PKPU). “Saya heran, benar-benar tidak ada lalat. Saya tak bisa membayangkan kalau lalat-lalat ada. Kolera pasti tak terbendung,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban dan karomah, kebesaran dan karunia Allah memang tak pernah absen dari kehidupan manusia. Asal kita pandai membaca tanda-tanda, kebesaran Allah selalu ada di mana-mana. Dan seharusnya, kebesaran itu pula yang akan membuat kepala kita kian tertunduk, hati dan jiwa kita kian mengerti bahwa hidup tidak lain kecuali untuk beribadah. Kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herry Nurdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sabili cybernews 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110623294811284396?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110623294811284396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110623294811284396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110623294811284396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110623294811284396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/karomah-dari-tanah-duka.html' title='Karomah dari Tanah Duka'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110617582035280742</id><published>2005-01-19T14:58:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T15:44:35.180-07:00</updated><title type='text'>Selalu Teringat Teriakan Minta Tolong Kedua Anaknya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Selalu Teringat Teriakan Minta Tolong Kedua Anaknya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenah Ingin Pulang ke Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERIBU cerita duka seakan tak pernah berhenti mengalir dari bumi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Di balik cerita-cerita lara itu, siapa sangka apabila salah satu di antaranya menimpa warga Jawa Barat yang semula tinggal di Jln. Linggawastu No. 130 A-25 RT 01/16, Wastukancana Kota Bandung.&lt;br /&gt;Orang yang sedang dirundung malang itu adalah Nenah Hanefi (39) warga Leung Bata Timur, Lorong Nya Aling No. 42 Kota Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, akibat gelombang tsunami, ibu asal Bandung itu kehilangan dua putranya yakni Sukri Heryansyah (18) dan Taufikurohman (14) dalam waktu sekejap. Hingga sekarang peristiwa tersebut seakan tidak mau lenyap dari benak Nenah. Lambaian tangan serta teriakan minta tolong kedua anaknya pada saat-saat terakhir mereka mau berpisah, terus menghantui dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi psikis Nenah pun menjadi terganggu. Dia kini harus menjalani terapi khusus di Medan agar psikisnya kembali ke semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kisah nestapa itu dituturkan langsung oleh Husni Johan (43) yang tiada lain adalah suami Nenah sendiri. Husni menganggap perlu membagi cerita duka yang menimpa istrinya tersebut, kerena merasa terharu atas kehadiran para relawan asal Jawa Barat yang gigih membantu korban gempa dan tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika melihat ada relawan mengenakan baju bertuliskan Jawa Barat, dia menangis terisak-isak. Bahkan kepada para relawan dia mengutarakan keinginannya untuk kembali ke Bandung," tutur Husni Johan (43), suami Nenah ketika dihubungi di Posko Bantuan Jawa Barat untuk korban gempa dan tsunami di Leumboro Banda Aceh, Senin (17/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, Nenah pertama kali menginjakkan kaki di bumi Banda Aceh pada tahun 1986. Waktu itu Nenah mengikuti dirinya yang ditugaskan mengajar di sekolah kejuruan di Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dari perkawinan mereka dikaruniai lima orang putra, masing-masing Sukri Heryansyah, Taufikuroman, Alfizar Fikri, Aris Munandar, dan Ilham Yunaldi.&lt;br /&gt;Selama berpuluh-puluh tahun mereka hidup dengan damai dan sejahtera di Kota Banda Aceh. Bahkan, dari hasil jerih payah mencari nafkah di Banda Aceh, mereka mampu membangun rumah di Lorong Nya Aling Jln. Leung Bata Timur. Dalam waktu-waktu luang, mereka menghabiskannya untuk bercengkerama di rumah tersebut, hingga akhirnya datang malapetaka yang pasti tidak akan terlupakan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Minggu 26 Desember 2004, dua dari lima putra mereka lenyap tersapu tsunami. Demikian pula rumah mereka tempat bernaung dari panas dan hujan ikut rata dengan tanah kerena tergerus gelombang pasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah kejadian jenazah Taufikurohman berhasil ditemukan. Namun jenazah kakaknya hingga kini masih belum diketahui secara pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, pada saat kejadian sebenarnya mereka sedang berkumpul bersama di dalam rumah sambil menonton acara televisi. Ketika sedang asyik-asyiknya tiba-tiba bumi berguncang. Sambil meneriakkan takbir mereka sekeluarga berhamburan ke luar untuk menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun belum lagi reda rasa kaget mereka, terdengar teriakan-teriakan lain yang lebih menyayat hati. Semua warga yang berhamburan ke luar tiba-tiba lari terbirit-birit, karena melihat ada air setinggi pohon kelapa mengejar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Johan, melihat hal itu secara reflek dia segera meraih anak-anaknya yang masih kecil untuk mencari perlindungan ke tempat yang aman. Sementara dua anaknya yang sudah sedikit besar diperintahkan berlari sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan Husni Johan dan Nenah jatuh ke ruangan Masjid Al'Badar yang terletak sekira 150 meter dari rumah mereka. Ternyata pilihan mereka berlindung di tempat ibadah sangat tepat. Sebab ketika air mulai naik, mereka pun sudah berhasil naik ke langit-langit masjid yang memang lebih tinggi dari bangunan-bangunan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, nasib dua anak mereka yang lain tidak semulus nasib adik-adiknya. Sebelum keduanya berhasil menyusul, sebuah gelombang besar talah menghantam tubuh mereka dan menghanyutkannya entah ke mana. Husni dan Nenah tidak bisa berbuat banyak, karena mereka pun harus menjaga nasib anak-anaknya yang masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka hanya bisa menatap pilu bencana yang menimpa kedua anak-anaknya. Dalam hati kecil mereka terus-menerus memanjatkan doa agar kedua anaknya bisa selamat. Akan tetapi, Tuhan berkendak lain. Esoknya, Taufikurohman ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Sementara Sukari Hernansyah hingga kini belum ditemukan. Sukri dilaporkan kepada petugas sebagai salah satu korban hilang dalam bencana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis tersedu-sedu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa gempa dan tsunami yang telah merenggut nyawa ke dua anaknya, membuat Nenah bertapakur. Dia pun kemudian teringat akan ibunya, Nunung yang tinggal di Jln. Linggawastu Kota Bandung. Karena impitan derita yang terlalu menekan pikirannya, Nenah sering kali mencucurkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika dia melihat para relawan asal Jawa Barat bekerja membantu para korban, air matanya tidak terbendung. Dia menangis sesenggukan sambil mengutarakan keinginannya untuk pulang ke Bandung. Namun apa daya, jangankan untuk ongkos ke Bandung, semua harta benda termasuk rumahnya lenyap disapu tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya dia hanya bisa memohon kepada relawan untuk menyedikan tiket ke Bandung. Melihat hal itu, para relawan Jawa Barat yang dikoordinasi oleh Rumah Zakat Indonesia Dompet Sosial Ummul Qurro (RZI DSUQ), berinisiatif mengumpukan uang secara suka rela. Akhirnya dalam waktu singkat terkumpul uang sebesar Rp 2,5 juta yang rencananya akan diserahkan kepada Nenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan, Nenah yang tengah dirundung duka itu bisa menginjakkan kakinya lagi di Bumi Parahiyangan untuk bertemu dengan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami akan segera menyerahkan uang tersebut setelah Ibu Nenah pulang dari Medan. Dan kami pun berdoa agar Ibu Nenah sekeluarga diberi kekuatan batin dalam menerima semua takdir Allah tersebut," tutur Asep Mulyadi, Ketua Pelaksana Posko Jabar Peduli Aceh, di Leumbaro. (Dodo R./Marsis S.)***&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/20/cinta02.htm"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/20/cinta02.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110617582035280742?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110617582035280742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110617582035280742' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110617582035280742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110617582035280742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/selalu-teringat-teriakan-minta-tolong.html' title='Selalu Teringat Teriakan Minta Tolong Kedua Anaknya'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110607621518862607</id><published>2005-01-18T11:19:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T15:48:44.430-07:00</updated><title type='text'>Bocah-bocah yang Selamat Itu Berkisah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Bocah-bocah yang Selamat Itu Berkisah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG bocah laki-laki berpegangan erat di sebuah papan. Warga yang bergerombol di sebuah jembatan pada Jumat (31/12) lalu melihatnya. Mereka mengamatinya sesaat, lalu segera menolong. Bocah itu sudah tak bernyawa. Tubuhnya diayun-ayun riak air, membentur-bentur pilar jembatan. Warga mengangkatnya dari air, meletakkannya bersama jenazah lain untuk dikuburkan secara massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu tidak seberuntung Aulia (11) dan Mohammad (4), yang berhasil lolos dari maut ketika gempa bumi dan gelombang dahsyat tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam, Minggu (26/12). Aulia kepada Gordon Weiss, Koordinator Media dan Operasi Kedaruratan UNICEF (Badan Dunia untuk Dana Darurat bagi Anak-anak), mengisahkan, ia lari sekencang-kencangnya ketika gelombang pasang mulai menerjang. Secara naluri, ia hanya mengikuti langkah kakak laki-lakinya, menuju daratan yang lebih tinggi, sebuah perbukitan di belakang rumah mereka. Terbata-bata ia mengenang, ia nyaris tertelan gelombang saat itu, kalau saja ibunya tidak segera meraihnya, menariknya kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad tergulung ombak hingga ke laut bersama ibunya. Ibunya, sambil memeluk erat Mohammad, sempat berpegangan pada dahan sebatang pohon yang tercerabut hingga ke akar-akarnya dan tergulung ombak. Namun, karena derasnya air, pegangan ibunya terlepas dari pohon itu. Mohammad terus memeluk ibunya, yang dengan sisa-sisa kekuatannya mencoba meraih pohon lain yang hanyut dan tergulung gelombang pasang. Mereka bertahan di pohon itu, hingga air menyurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukjizat&lt;br /&gt;Gempa bumi dan gelombang pasang tsunami meninggalkan trauma pada anak-anak yang mengalaminya. Mulyawan Putra (4), yang berhasil menyelamatkan diri bersama ayah, ibu dan adiknya, dalam waktu yang lama ketakutan jika melihat gerombolan orang. Bahkan, sesekali ia pingsan. Dengan pelan ia mengaku, ketika menyelamatkan diri, dari balik punggung ayahnya ia melihat segerombol orang digulung ombak. Pemandangan itu membuatnya ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bocah Thailand menceritakan pengalamannya saat luput dari bencana dahsyat itu.&lt;br /&gt;Oat (3) sedang sarapan bersama ibunya ketika gelombang mematikan itu menghantam kampungnya di Baan Nam Kem, Minggu itu. Ayah Oat yang bekerja sebagai nelayan, sedang melaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya langsung menyambarnya ketika gelombang tsunami mulai datang dan lari sekencang mungkin. Tetapi usahanya sia-sia. Gelombang pasang menggulungnya. Satu hal yang tetap diingatnya adalah tidak melepaskan Oat sedetik pun. Ia, yang tak bisa berenang, berjuang sekuat tenaga, hingga terlihat serombongan orang bertengger di atap sebuah mobil. Ia berteriak-teriak minta tolong, dan orang-orang itu meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang bagi mereka, atap mobil itu tidak cukup tinggi ketika gelombang pasang susulan menerpa. Semua orang di atap kendaraan itu terseret gelombang pasang. Oat terlepas dari tangan ibunya, dan tergulung-gulung gelombang. Si ibu yang tak bisa berenang nekat terjun ke air, meraihnya, dan memanggulnya. Dengan sisa-sisa kekuatan, ia terus berjuang lepas dari jebakan air, menggapai sebuah pohon dan bertahan di tempat itu hingga datang pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oat terserang demam. Ia terlalu banyak kemasukan air laut. Tubuhnya berubah kuning. Bersyukur, setelah dirawat di rumah sakit keadaannya mulai membaik," kata ibunya.&lt;br /&gt;Namun, penderitaan keluarga itu belum berakhir. Kini Oat diliputi trauma. Ia sering ketakutan, lalu tiba-tiba saja tubuhnya menggelung, mengerut. Demi anaknya, keluarga itu kini memutuskan pindah ke Ranong, tempat yang lebih aman, dan gelombang tsunami tak akan mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trauma juga melingkupi Ing (11). Ia selamat karena sempat melarikan diri bersama neneknya. Mereka ditolong orang-orang yang melarikan diri dengan naik truk. "Gelombang pasang itu tinggi sekali, setinggi pohon pinus. Kami yang berada di truk menangis menjerit-jerit ketakutan," katanya mengenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing mendapati rumah bibinya, tempat ia tinggal selama ini, rata dengan tanah. Kenyataan itu membuatnya takut. Ia tak ingin tinggal di wilayah itu lagi. "Saya tak sempat menyelamatkan bibi yang selama ini memelihara saya. Saya hanya mendapati baju dan jam tangannya," ia menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diew (3) luput dari bencana alam karena mukjizat. Ketika gelombang pasang datang menggulung wilayah pantai barat Thailand pada Minggu (26/12) itu, ia terseret gelombang. Namun, tubuhnya tersangkut pepohonan mangrove. Tiga hari kemudian ia ditemukan tim pencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia sedang berada di rumah tetangga ketika gelombang pasang pertama melanda. Saya mendengar orang-orang berteriak untuk menyuruh kami lari. Segera saya mendapatkannya, lalu kami lari sekencang mungkin. Saya terluka, konsentrasi saya terpecah, dan Diew terlepas dari saya," kata Suparat (28), ibu Diew.&lt;br /&gt;Dalam kepanikan dan kesakitan ia mencari-cari Diew, tetapi gelombang pasang susulan menerjangnya. Suparat memusatkan perhatian untuk menyelamatkan diri, dalam kondisi badan yang sudah sangat lelah dan lemah. Ia selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diew ditemukan tim pencari tiga hari kemudian dalam keadaan lemah. Tubuhnya penuh bekas gigitan nyamuk. Namun, ia tidak tampak ketakutan. "Lapar," kata Diew ketika ditemukan. Ia juga minta Coca-Cola. Sungguh mukjizat, ia tidak terluka serius, kecuali tergores di sana-sini dan penuh bekas gigitan nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain lapar, Diew mengatakan sangat merindukan ibu dan ayahnya. "Takut gelap. Manggil-manggil, tapi tidak ada yang datang," ia berkisah. Suparat menambahkan, anaknya itu menggerak-gerakkan pohon mangrove ketika mendengar orang datang. Diew, kata tim pencari, telah menolong dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Suparat bersyukur bencana itu tidak membuat anaknya trauma. Diew bahkan sudah berenang di laut. Kini ia mendapat julukan baru, "iron man", si manusia besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Berbagai sumber/UNICEF.org/A-18)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Suara Pembaruan Daily&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110607621518862607?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110607621518862607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110607621518862607' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110607621518862607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110607621518862607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/bocah-bocah-yang-selamat-itu-berkisah.html' title='Bocah-bocah yang Selamat Itu Berkisah'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110599912787587110</id><published>2005-01-17T13:54:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T15:51:38.090-07:00</updated><title type='text'>Pak, Masih Bisakah Puteri Sekolah...?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kamis, 13 Januari 2005 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Pak, Masih Bisakah Puteri Sekolah...?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KETIKA Kompas menjenguknya di ruang perawatan Rumah Sakit Haji Adam Malik, Medan, Selasa (11/1), buku Soal-soal Ulangan untuk Kelas V Sekolah Dasar tampak terpegang erat di tangan kiri Puteri (15). Ia tampak terusik dengan kehadiran beberapa orang di dekat ranjangnya. Sempat melirik, tetapi beberapa saat kemudian matanya terus asyik kembali membaca kalimat demi kalimat pada buku yang membahas soal-soal ulangan berbagai mata pelajaran Kelas V SD itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA ditanya buku apa yang dibaca, Puteri menjawab pelan, "Sedang membahas soal-soal mata pelajaran Agama dan Ilmu Pengetahuan Alam. Karena lagi sakit, jadi belajarnya di rumah sakit saja. Supaya jangan ketinggalan pelajaran kalau kembali ke sekolah nanti," kata Puteri.&lt;br /&gt;Tetapi, sembari meringis menahan sakit, Puteri tiba-tiba menaruh buku di tangannya, digeletakkan begitu saja di kasur. Ia coba duduk dan menatap tajam dengan kening berkerut. "Tetapi, Pak, masih bisakah Puteri sekolah?" ucapnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, raut muka Puteri tampak memerah menahan amarah, kesal. Ia hanya diam. Tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya, Puteri berpaling dan memejamkan matanya. Butiran bening tampak membasahi pipi gadis kecil belasan tahun asal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia terlihat sangat kesal ketika menyadari tangan kanannya sudah tidak utuh lagi. Kalau sudah begitu, ia berubah jadi pemarah. Puteri seolah tidak bisa menerima kenyataan yang dialami sekarang. Ia pun merasa dihantui kalau cacat tangannya akan membuat ia tidak bisa sekolah lagi," tutur Nurhaimah, warga asal Banda Aceh yang bersimpati atas nasib Puteri saat ditemui ketika mendampingi gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puteri memang tampak trauma dan terpukul. Jika ditanya kisahnya sampai selamat dari bencana itu, ia malah diam dan melihat dengan tatapan kosong. Kalau sudah begitu, butiran air mata tampak jatuh di pipinya. Puteri pun tak banyak cakap, memilih memalingkan muka dan tampak memejamkan matanya dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil pelajar kelas V Sekolah Dasar (SD) Negeri 87 Ulee Lheue, Banda Aceh, yang semula periang itu kini berubah drastis menjadi pendiam. Tidak ada tawa ceria, kecuali rasa sedih dan menyesali nasib. Bahkan, kalau ia ingat masa depan dan kelanjutan sekolah, Puteri malah kadang berubah temperamental. Ia marah, tetapi entah kepada siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sikap Puteri yang perasa, sensitif, dan kadang emosional itu bagaimanapun bisa dimaklumi. Sebab, gelombang tsunami setinggi 10-an meter yang menghantam rumahnya di Ulee Lheue, 26 Desember 2004, telah membalikkan hidup dan masa depan Puteri ke titik nol.&lt;br /&gt;Ibunya, Sahniati, memang selamat dan kini setia mendampingi di RS Adam Malik, Medan. Akan tetapi, ayahnya dan dua adiknya sampai kini belum diketahui nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu yang membuat Puteri terpukul. Bencana tsunami telah membuat Puteri kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Tangan kanannya harus diamputasi. Ia kini hanya memiliki satu tangan, tangan kiri. "Kadang, dalam gerakan refleks, Puteri lupa tangan kanannya sudah tidak utuh lagi. Pada saat itulah ia jadi emosional, sensitif. Kalau sudah begitu, Puteri hanya diam dan air matanya menetes," jelas Sahniati, yang terus memberi semangat hidup kepada Puteri yang kini menjadi anak semata wayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sahniati, anaknya kini penuh kegamangan. Ia kadang-kadang tidak percaya diri dan ragu-ragu apakah ia masih bisa sekolah, menulis, atau mandiri seperti keadaannya selama ini. "Kami beruntung ada relawan PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang 24 jam menemaninya. Relawan ini menghibur dan memberi semangat bahwa tangan cacat tidak menjadi halangan bagi orang untuk belajar. Inilah yang sekarang memompa semangat Puteri sehingga ia mulai terlihat percaya diri dan berambisi untuk sekolah kembali," tutur Sahniati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hasrat Puteri untuk belajar tetap tinggi, terbukti ketika Kompas datang menjenguknya di RS Adam Malik. Ketika itu, Puteri spontan minta dibelikan buku-buku. Ia pun menyodorkan sejumlah daftar buku bacaan, seperti buku Himpunan Soal-soal Ulangan untuk Kelas V SD, Kupas Tuntas untuk SD, Gembira Belajar Sains, majalah Bobo, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih banyak, Pak," ucap Puteri ketika Kompas menyerahkan buku-buku yang dimintanya. Dalam sekejap, perhatiannya tercurah ke buku-buku itu. Meski mungkin asanya masih teramat perih, untuk sesaat Puteri tampak bisa melupakan kepedihan atas kehilangan satu bagian raganya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI anak-anak seusia Puteri, bencana tsunami mungkin tidak akan dilupakan seumur hidup. Gelombang dahsyat yang berawal dari gempa bumi itu telah merenggut semua yang mereka kasihi, ya orangtua, adik, kakak, saudara, teman, rumah, dan gedung sekolah mereka. Bahkan juga merenggut bagian terpenting dari tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puteri memang tidak sendirian. Meski angka konkret belum terdata, barangkali ada ratusan atau ribuan anak usia sekolah yang mengalami nasib tragis seperti yang dialami Puteri. Hati mereka mungkin sangat luka, teramat perih. Namun, karena tidak berdaya, jeritannya hampir-hampir tidak ada yang mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah Suwardi yang kini terbaring di ruang perawatan RS Malahayati, Medan. Pelajar sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Banda Aceh ini pun mengalami nasib tragis karena kini ia kehilangan kaki kiri. "Dengan satu kaki seperti ini, apa saya masih bisa sekolah? " ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajar yang sebelumnya tinggal di Lampase, Banda Aceh, itu kini mengaku hanya sebatang kara. Kedua orangtua dan saudaranya sampai kini belum diketahui keberadaannya. "Setelah digulung tsunami beberapa menit, saya akhirnya nyangkut di satu pohon. Inilah yang membuat nyawa saya selamat. Tetapi, sayang kaki kiri saya terpaksa diamputasi karena kata dokter sudah membusuk," kata Suwardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang tsunami memang membuat banyak anak usia sekolah kehilangan segala-galanya. Maliki Syahputra (11), juga pelajar SMP di Krueng Cut, Banda Aceh, sedikit beruntung. Kakinya bisa diselamatkan kendati sudah patah dan luka-luka parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, tsunami memang sudah reda. Akan tetapi, bencana itu menyisakan banyak luka di "Tanah Rencong" tersebut. Sekarang, sepertinya hanya satu isi tangis anak-anak di bumi Serambi Mekkah, "Pak, masih bisakah kami sekolah...?" (ahmad zulkani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110599912787587110?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110599912787587110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110599912787587110' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110599912787587110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110599912787587110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/pak-masih-bisakah-puteri-sekolah.html' title='Pak, Masih Bisakah Puteri Sekolah...?'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110598600095278672</id><published>2005-01-17T10:11:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T16:02:47.076-07:00</updated><title type='text'>Reuni di Mata Ie</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Tanggal: 16 January 2005 Kategori: Reportase &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Reuni di Mata Ie&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tak pernah terlintas dalam pikiran Sofyan Musa (43) untuk meninggalkan istri dan kedua putrinya dijemput maut. Tapi nyaris seperti itulah yang terjadi pada hari Minggu, 26 Desember lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, pegawai Kantor Kependudukan dan Mobilitas Penduduk Provinsi NAD ini mengajak dua dari empat putrinya berjalan-jalan, melihat usahanya di kawasan Jeulingke. Maka ditinggalkan lah dua orang putri dan istrinya, Teti (28), di rumah mereka di Desa Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Sofyan dan dua orang putrinya itu juga mendekati daerah maut. Yang jelas, saat gelombang datang, keluarga itu terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sambil mengendong anak yang baru berumur 2,5 tahun dan memegang tangan anak usia enam tahun, lari ke jalan. Di sana mayat sudah bergelimpangan karena digilas bus, truk atau kendaraan lainnya, jelas Teti sambil menggeleng-geleng kepala, lalu menangis terbayang tragedi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Teti, tak semua jenasah yang bergelimpangan di jalan-jalan itu akibat gempa atau gelombang tsunami, tapi ada juga karena digilas kendaraan roda empat, ketika terjadi kepanikan yang luar biasa dan setiap orang berusaha menyelamatkan jiwanya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang disaksikan Teti. Gelombang tsunami belum lagi sampai di Desa Garot, tapi puluhan korban sudah berjatuhan di Jalan Elak, Banda Aceh. Jalan Elak itu dua jalur. Tapi tidak ada yang menggunakan jalur ke arah Simpang Dodik, semua ke arah Keutapang. Saya pikir betul-betul saat itu dunia dah kiamat, jelas ibu empat anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memacu kendaraan ke arah Simpang Dodik tentu sama dengan menyongsong maut. Simpang Dodik adalah pintu masuk menuju Lamteumen, sebuah kawasan yang babak belur dihajar gelombang tsunami. Padahal, jaraknya sekitar 4-5 kilometer dari pantai Ulee Lheue atau Lamawe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil menghindari air bah, Teti yang hanya mengenakan baju tidur itu, tanpa pikir panjang, lalu menyetop bus PMTOH yang melaju ke arah Medan. Namun baru di Seulimum, Aceh Besar ia minta turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpikir di pikiran saya Bang Yan (suaminya), sudah meninggalkan saya serta dua anaknya yang masih duduk di kelas IV dan III SD, kata Teti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teti tak asal menduga. Jeulingke tak terlalu jauh dari garis pantai. Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB pada hari naas itu, Teti semakin lemas, ketika mendengar orang menyebut-nyebut daerah Jeulingke gelombangnya sangat tinggi dan dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana nasib Sofyan? Inilah yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membawa dua orang putrinya dan pamit hendak pergi ke Jeulingke, Sofyan berubah pikiran. Di depan Masjid Raya Baiturrahman ia mengubah rute perjalanan, memilih Jalan Cut Meutia yang menurutnya lebih cepat sampai di tujuan. Sebab, bila melintasi Simpang Lima tentu memakan waktu lama akibat lampu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata keengganannya berjumpa lampu merah itulah yang menyelamatkan jiwa Sofyan dan kedua putrinya. Tepat di depan BRI Cabang Banda Aceh, ia melihat air hitam pekat setinggi pohon kelapa. Begitu melihat pemandangan yang seumur hidup tak pernah dilihatnya itu, ia langsung menghentikan laju sepeda motor dinasnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan mencabut kunci kontaknya dan langsung membawa lari kedua putrinya ke arah Masjid Raya Baiturrahman. Sambil lari, pikiran saya mengatakan tempat yang lebih aman ke Masjid Raya, kisah Sofyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kurang 50 meter lagi sampai di masjid, Mona, putrinya yang nomor dua mengeluh capek. Ayah, Mona capek dan Mona pakai sepatu baru ini, kata bocah itu sambil ngos-ngosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan saja sepatu itu dan kuatkan, sudah mau sampai ini, jawab Sofyan menguatkan putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan sendiri mengaku setengah putus asa mendengar teriakan putrinya. Walaupun saya juga sudah ngos-ngosan, sambil ngomong sudah mau sampai, tangan kedua anak saya harus saya tarik paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di masjid, Sofyan melihat seorang bilal (tukang adzan, red), justru sedang menyapu lantai. Ia lalu segera meminta bilal mengumandangkan adzan karena air bah sudah besar dan sudah sampai di Jalan Cut Meutia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bilal itu tidak melaksanakan adzan, melainkan ia turun ingin menyaksikan air yang saya ceritakan itu, jelas Sofyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan mengaku sebagai orang pertama yang masuk masjid, baru disusul seorang anak muda. Melihat sang bilal tak mengindahkan permintaan Sofyan, anak muda itu lalu menawarkan diri. Tapi sial, mikrofon masjid gagal difungsikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan sudah berada di dalam masjid. Tapi ayah yang memegang erat tangan kedua anaknya itu masih merasa tidak aman. Dia lalu mencari pintu untuk naik ke lantai selanjutnya. Saya baru merasa aman ketika saya sudah berada di tingkat tiga, ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sanalah, Sofyan dan kedua putrinya menyaksikan kotanya digerus air bah. Saat itu, ratusan orang sudah berada di bagian atas masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat air mulai surut, Sofyan bergegas hendak pulang untuk melihat istri dan dua anaknya di rumah. Namun, sesampainya di bawah, ia melihat banyak mayat sudah bergelimpangan di halaman masjid, bahkan ada yang tergolek di tangga masjid. Perasaan gundah semakin membucah. Apa yang terjadi di rumahnya? Apakah istri dan dua anaknya yang masih kecil selamat? Atau bernasib seperti jenasah-jenasah yang disaksikannya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sambil melihat-lihat jalan mana yang bisa dilewati, karena di depan masjid penuh dengan puing-puing bangunan, Sofyan kemudian melintasi jalan bekas Hotel Aceh. Tapi sesampainya di depan Geunta Plaza, ada orang berteriak, Air naik lagi, air naik lagi&lt;br /&gt;Begitu saya dengar ada orang mengatakan air naik lagi, saya langsung masuk komplek Geunta Plaza. Sampai di sana ada orang melarang, karena bangunan itu tidak kokoh lagi akibat gempa tadi. Tapi saya katakan kami bukan berlindung dari gempa, melaikan menghindari dari air,kata Sofyan seraya menambahkan bahwa teriakan air datang itu ternyata tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, sesampainya di rumahnya di Desa Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, ia mendapati rumahnya telah kosong. Istrinya dan dua anak yang ditinggalkannya sudah tak ada. Namun air di rumahnya hanya setinggi tumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya bertambah kacau. Ke mana harus mencari. Kemudian ia keluar tanpa tujuan pasti. Dan inilah yang dilakukannya: sambil berjalan, setiap ditemukan jenasah, ia melihat apakah itu istri dan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah sekian lama, ia pun memilih pulang ke rumah, dan di sana ia menulis pesan bahwa ia dan dua anaknya selamat dan sekarang berada di rumah teman di Mata Ie. Sofyan pun lalu menuliskan alamatnya secara jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya pulang melihat istri ndak ada lagi, pikiran saya kacau dan terpikir apakah saya harus tinggal bersama dua anak? kata Sofyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran yang sama, yang juga mendera Teti yang saat itu tengah galau di Seulimum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan maghrib sudah berkumandang. Beberapa orang baru saja mengerjakan shalat. Teti dengan menuntut kedua putrinya, tiba di Mata Ie. Dan keluarga itupun berkumpul kembali. [dan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://acehkita.com"&gt;acehkita.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110598600095278672?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110598600095278672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110598600095278672' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110598600095278672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110598600095278672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/reuni-di-mata-ie.html' title='Reuni di Mata Ie'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110598450270955684</id><published>2005-01-17T09:52:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T16:11:02.796-07:00</updated><title type='text'>Hilangnya Sang Anak Tunggal</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Hilangnya Sang Anak Tunggal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah satu jam lebih Yusuf (32) duduk bengong di ruang tunggu Rumah Sakit Umum Fakinah, Banda Aceh. Kemeja kotak-kotak coklat yang dikancing hingga pergelagan tangannya begitu lusuh. Tangan kirinya menggengam botol air mineral yang berisi setengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditatapnya satu per satu tenaga medis yang lalu lalang membawa bungkusan plastik putih berisi obat-obatan. Sesekali dia mengernyitkan dahi kepada seorang personel militer Australia yang mengajaknya tersenyum. Tersembul sedikit luka dari wajahnya yang kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua minggu saya berkeliling Banda Aceh untuk mencari anak saya. Tapi, hingga sekarang anak saya belum ada kabarnya, Yusuf membuka perbincangan pada acehkita, Sabtu (15/1) sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah hatinya adalah Rizal, anak satu-satunya hasil perkawinan warga Ulee Lheu, Kecamatan Meuraksa, Kota Banda Aceh ini dengan Yunizar, wanita asal Tapak Tuan, Aceh Selatan. Menurut Yusuf, Rizal hilang setelah tsunami menghancurkan kawasan pesisir kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal berusia enam tahun. Rencananya, kami akan memasukkan Rizal ke sekolah dasar pertengahan tahun ini, kata Yusuf, sembari menunjukkan selembar foto anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat seorang bocah berwajah manis, kulit putih dan mata kebiruan. Bagi Yusuf, Rizal adalah segalanya. Rizal selalu mengobati lelahnya saat baru pulang dari kantor tempat Yusuf bekerja di sebuah perusahaan swasta. Anak semata wayang ini pula yang selalu menemaninya tidur atau jalan-jalan sore keliling kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya kehilangan dia, ujar Yusuf. Lalu dia terisak sesaat. Kemudian, dia mencoba kembali tenang. Yusuf memulai ceritanya, sebuah kisah pahit yang kini menjadi mimpi terburuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, 26 Desember 2004. Yusuf baru saja bangun dan beranjak dari tidurnya. Sedikit kesiangan, karena dia sengaja bangun lebih telat pada hari Minggu. Yusuf terbangun setelah Rizal mengguncang pundaknya beberapa kali. Rizal mengatakan ada gempa yang baru saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman itu saya begadang sambil nonton televisi. Kalau tidak dibangunkan Rizal, mungkin saya masih terus tidur, cerita Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kabar gempa dari anaknya, Yusuf masih berusaha tenang sambil perlahan menuju ruang tamu rumahnya yang berukuran 4 x 6 meter. Di sana, Yusuf berusaha menenangkan anak dan istrinya dengan cara duduk di lantai sambil berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih tenang saat gempa masih kecil. Dan saya benar-benar tenang setelah gempa reda sesaat, katanya. Menurut Yusuf gempa pertama terjadi lima menit sebelum jam 08.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, katanya, sungguh di luar dugaan. Gempa kembali terjadi. Kali ini kekuatannya lebih dahsyat. Tubuh saya terjerembab begitu saja. Lalu saya mencoba bangun dan menggendong Rizal menuju halaman depan rumah. Tangan kiri saya merangkul pundak istri, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar rumah, ternyata Yusuf mendapati ratusan warga dan tetangganya berteriak ketakutan. Sesekali pekik takbir Allahu Akbar terdengar dari mulut-mulut mereka. Yusuf bahkan melihat langsung dengan kedua matanya saat beberapa bangunan rumah dihadapannya tumbang mencium tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tidak aman, Yusuf langsung menyusul gerombolan warga yang mulai berlarian ke arah jalan raya. Rizal tetap berada di gendongan sambil menangis ketakutan. Sedangkan Yunizar, istrinya, berlari mengikuti sang suaminya sambil mengangkat rok dan menjinjing sepasang sandal jepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah Yusuf mendengar gemuruh yang begitu besar dari arah pantai. Dia mengaku sempat mengalihkan pandangan ke belakang. Masya Allah... Saya melihat air setinggi pohon kelapa sekitar seratus meter di belakang saya, ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kaki Yusuf untuk menyelamatkan nyawa diri, anak dan istrinya ternyata kalah cepat dengan arus tsunami yang dahsyat. Semua warga panik. Masing-masing berupaya menyelamatkan diri. Tak ada guna lagi berpaling ke belakang, kendati teriakan tolong dari warga terus berkecamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meminta istri saya untuk melepas genggaman tangannya, lalu dia menurut dan lari sambil menangis. Sementara saya, sudah bertekad, jika pun saya mati, saya tidak akan melepas Rizal dari gendongan, sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Tuhan berkehendak lain. Niat Yusuf yang membara untuk tetap bersama anak tunggalnya diluluhlantakkan oleh gelombang yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya terlepas dari gendongan ketika air mulai meninggi dan menenggelamkan dada saya,cerita Yusuf yang sudah tampak tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Kunjung Jumpa&lt;br /&gt;Beberapa menit setelah air laut surut ke pantai, Yusuf mulai panik karena kehilangan buah hati yang begiru dicintainya. Yunizar yang berhasil selamat dengan memanjat sebatang pohon tinggi, berdiri di sebelahnya sambil memeluk pundak suami dari arah belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, saya masih tidak yakin dengan kejadian yang baru saja saya alami. Saya berharap agar semua itu mimpi. Tapi ternyata itu nyata, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah yakin situasi kembali aman, perlahan Yusuf dan istrinya mulai berjalan mencari Rizal. Dia terus berjalan ke berbagai arah. Dia tak mengenali lagi kampungnya. Bahkan, Yusuf tidak bisa mengenali lagi lorong-lorong yang biasanya dilalui saat pulang dari kantor. Tidak ada lagi rumah di sana. Yang tersinya hanya balok-balok kayu dan genangan lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencari anak saya di sana sampai maghrib. Tapi Rizal tidak ditemukan. Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan kampung itu untuk mengungsi ke desa terdekat, ungkapnya. Yusuf tak sendiri. Ratusan warga lain yang selamat ikut mengungsi bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Yusuf kembali ke kampungnya untuk mencari anaknya. Tapi nihil, Rizal tetap tidak ditemukan. Demikian juga esoknya dan seterusnya. Buah hatinya yang baru bisa mengayuh sepeda ini lenyap bak ditelan samudera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari selama seminggu, saya menunggui tiap-tiap jenazah korban yang dievakuasi oleh relawan. Saya berharap, jika pun anak saya sudah meninggal dunia, saya bisa melihat jasadnya untuk terakhir kali. Tapi tidak berhasil juga, kata Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dia menangis tanpa menghiraukan orang yang sedang keluar masuk pintu utama RSU Fakinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, Yusuf masih berusaha menemukan anaknya. Puluhan lokasi penampungan pengungsi sudah didatanginya. Sejumlah rumah sakit tempat perawatan korban selamat sudah dijenguknya. Tapi Rizal, anak tunggalnya itu belum ditemukan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, nasib Yusuf makin terasa getir setelah istrinya terpaksa dirawat di salah satu posko kesehatan tim medis asing akibat kelelahan dan kondisi kesehatan fisiknya yang menurun. [dan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Monday, January 17, 2005 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dika - Banda Aceh, 2005-01-17 08:48:36 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110598450270955684?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110598450270955684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110598450270955684' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110598450270955684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110598450270955684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/hilangnya-sang-anak-tunggal_17.html' title='Hilangnya Sang Anak Tunggal'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110596298928336309</id><published>2005-01-17T03:52:00.000-08:00</published><updated>2005-09-20T16:13:59.313-07:00</updated><title type='text'>Walau Hidup Tapi Disayat Sembilu</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Walau Hidup Tapi Disayat Sembilu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEBAM-lebam berwarna biru dan goresan memanjang hingga ke telinga masih membekas di pipi kirinya. Sementara bekas luka lain yang sudah sembuh juga menjadi pertanda benturan keras yang menghujam ke sekucur mukan dan kepala Aulia Fachrizal (9) saat tergulung ombak Tsunami dan gempa di Aceh (26/12) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah polosnya memancarkan kegalauan. Bungsu dari dua bersaudara itu kini tinggal di Jakarta untuk sementara dengan ayahnya, sebagai satu-satunya keluarga inti yang masih hidup. Sementara Ibunda tercinta, Hasnah, dan kakaknya, Amelia (13) dipastikan tewas dan mayatnya hingga sekarang belum ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantaman gelombang laut setinggi sembilan meter di Aceh yang membuat seluruh dunia tercengang itu kini masih membekas dalam di hati dan benak Aulia yang biasa menyebut dirinya Adik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertutur tidak runut Adik mencoba mengingat kejadian. Rasa pedih yang terus menghantuinya juga sering datang dalam mimpi. Dalam mimpinya Adik mengaku masih sering melihat mamak dan kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik yang ditemui di posko Media Group Kedoya pada Jum'at (7/1),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam percakapan sering tiba-tiba terdiam dan perlahan menundukan kepala. Beban hidup yang dia emban dalam usia belia tampaknya terlalu berat. Sehingga Adik seakan tidak sanggup memaparkan secara runut gambaran akan Ibu dan Kakak dalam mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata menerawang, Adik menceritakan kisah pilu bagaimana ia bisa selamat dari terpaan gelombang Tsunami yang datang tanpa diduga itu telah menghempaskan dia dan sanak saudarnya tanpa arah. Sesaat Adik mengetahui terpaat gelombang besar telah melepaskan ia dari mereka. Rasa ingin hidup ada pada diri Adik dan dia pun naik ke ambar (karpet). Namun beban Adik mempuat ampar tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama dari peristiwa itu, Adik kemudian sadar kalau dia sudah berada di atas beton dan ditunggui oleh seorang bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan ada yang menusuk dalam hatinya, adek sekali lagi menundukkan badan disertai kepala saat melanjutkan pengalamannya. Berusaha menguatkan ingatan dan melanjutkan ceritanya, dia mengaku baru bertemu dengan ayahnya setelah hari sudah gelap karena lampu seluruh kota mati. Mereka bertemu diatas trotoar dengan seorang pembantu yang menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa kelas 4 SD Bhayangkari ini ternyata kini masih mengalami trauma mendalam. Begitu membekas dan mengerikan di ingatannnya Tsunami itu, sehingga menurut ayahnya Syamsul Bahri, Adik masih takut dengan ketinggian, getaran dan suara gemuruh. Begitu juga nonton televisi yang menayangkan peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun keberadaan Syamsul dan Adik di Jakarta berkat bantuan kantor Perusahaan Listrik Negara (PKL). Kini mereka tinggal di daerah Slipi Jakarta Barat. Samsyul sendiri tadinya berniat tingga di kamar lantai tujuh, tetapi menurutnya Adik keberatan dan memilih tinggal di lantai dasar, karena takut ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trauma Adik memang bukan main-main, disaat kepalanya diusap-usap ayahnya, tiba-tiba dia berteriak bertanya 'ada gempa' ujarnya sembari mendekap ayahnya.' Padahal sesunguhnya yang terjadi adalah kursi dimana dia duduk hanya bergoyang sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syamsul, setelah musibah Tsunami yang menyebabkan Adik kehilangan orang-orang yang dicintainya, bocah laki-laki kurus ini terlihat sering duduk diam dan termenung, bahkan terkadang matanya yang bulat dan berwarna gelap meneteskan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Syamsul yang juga tampak sangat terpukul itu mengatakan, beberapa kali dia bertanya akan renungan Adik, namun selalu mendapat jawaban, "Tidak apa-apa dan ia mengaku tidak menangis.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsul sendiri juga tampak bagai disayat sembilu ketika dia bercerita saat anaknya dipergokinya meneteskan air mata dan tiba-tiba bertanya dimana kakaknya dak ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik memang kerap melontarkan pertanyaan ''Pak, Mamak dimana? Mamak selamat? Kalau tidak, dimana kuburannya?.'' Dengan berusaha manahan air mata menetes Syamsul mengaku kalau pertanyaan itu tidak bisa dia jawab. Dia sendiri terahir melihat istri dan anak yang dikasihinya terhimpit diantara batang kayu dan pagar besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara purau dia melanjutkan bicara, " Lalu saya tidak melihat mereka lagi karena kami kembali diterpa gelombang Tsunami kedua,'' kata Syamsul berusaha menahan tangis dengan menggigit bibir.(Indira\M-1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mediaindo.co.id"&gt;www.mediaindo.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110596298928336309?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110596298928336309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110596298928336309' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110596298928336309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110596298928336309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/walau-hidup-tapi-disayat-sembilu.html' title='Walau Hidup Tapi Disayat Sembilu'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110595205511472923</id><published>2005-01-17T01:50:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T08:18:29.106-07:00</updated><title type='text'>Akhir Doa Seorang Sopir</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Akhir Doa Seorang Sopir&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Nazmi (38) hamil muda, Ridwan (45) selalu berdoa agar Tuhan menganugerahkan anak perempuan kepadanya. Setelah menikah, penduduk Desa Tanoh Aye, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar ini memang dikaruniai tiga orang anak. Tapi semuanya laki-laki. Tak heran bila dalam tujuh tahun terakhir, Ridwan sangat mendambakan seorang putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa kami dikabulkan. Tapi mau tak mau harus menerima cobaan ini. Anak perempuan yang saya dambakan selama tujuh tahun lalu, menjadi kenyataan. Namun ditemukan sudah menjadi mayat di samping ibunya, tidak jauh dari rumah, kata Ridwan kepada acehkita, Jumat (14/1) di rumah kerabatanya di Darul Imarah, Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecamatan Lhoong kini terisolir. Tapi sejumlah desa di tepi pantai telah rata dengan tanah. Sejak itu, Ridwan yang berprofesi sebagai sopir lebih banyak diam dan duduk termenung. Dia memang sudah kehilangan segala-galanya. Selain Nazmi dan bayi perempuan yang didambakannya, ketiga orang putranya juga meninggal digulung gelombang yang mahadahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan teringat ketika pada hari Minggu, 26 Desember itu, dia mengajak dua dari tiga putranya untuk pangkas rambut. Yah, saya dengan adik ikut ayah pangkas rambut ke Banda Aceh, ya..kata Ridwan menirukan anak tertuanya yang duduk di kelas 3 SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan itupun dituruti, kendati Ridwan tak mengajak anak-anaknya pangkas ke Banda Aceh, melainkan membawanya ke tukang pangkas di pasar Lhoong. Setiap hari Ridwan memang bolak-balik Aceh Besar – Banda Aceh, karena profesinya sebagai sopir angkutan umum L-300. Biasanya, jam setengah delapan pagi, dia sudah berangkat dari rumah. Namun Minggu pagi itu, ia memilih menemani dua putranya pangkas rambut terlebih dahulu. Setelah selesai dan mengantar mereka pulang, barulah Ridwan narik seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang mengira itulah pertemuan terakhir dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar empat kilometer dalam perjalanan ke Banda Aceh, Ridwan merasa ada yang tidak beres dengan mobilnya. Saat itu dia membawa beberapa orang penumpang. Ia berhenti dan turun dari mobil. Namun belum sempat melihat kondisi mobilnya, ia hampir terjatuh akibat guncangan yang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa mau jatuh. Habis saya pilih duduk terus sambil mengatakan kepada semua penumpang turun, turun, gempa, gempa, kisah Ridwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah usai gempa, Ridwan bersama delapan penumpannya tak lagi melanjutkan perjalan ke Banda Aceh. Saya teringat sama istri dan anak-anak, maka saya ajak semua penumpang balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik aja ya. Ini gempa kuat kali, siapa tahu rumah-rumah kita di sana tumbang semua, kata Ridwan kepada para penumpangnya. Para penumpang pun mengangguk setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil itupun berputar haluan, kembali ke Aceh Besar. Tapi berselang setengah jam kemudian, dari kejauhan mereka melihat air pasang mulai menggulung pemukiman di kawasan Lhoong. Dengan kerongkongan tercekat, mereka pun memilih menunggu sampai gelompang tsunami surut. Perasaan orang-orang di dalam mobil L-300 yang dikemudikan Ridwan semakin tak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ridwan tiba di Desa Tanah Aye, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, semua rumah penduduk telah rata dengan tanah. Tepatnya, rata dengan air laut. Tapi ia tidak terlalu hirau sebab pikirannya hanya tertuju pada rumah dan keluarganya. Para penumpang memilih turund di sejumlah tempat yang tak dapat diingatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumahnya, dia telah menemui kondisi rumah permanennya yang rubuh dan rata dengan tanah. Jantungnya semakin berdebar-debar, mencari ke mana istri dan anak-anaknya. Apalagi bila teringat bahwa Nazmi, sang istri sedang hamil tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia semakin kalut dan kalang kabut saat melihat mayat-mayat yang berserakan di antara puing-puing bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu saya lihat mayat, ternyata tidak ada. Lalu di mana ada orang saya datangi dan saya tanya di mana istri dan anak-anak saya, tapi tidak satupun yang tahu,ungkap Ridwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah menjelang maghrib, namun Ridwan tak menemukan satupun anggota keluarganya. Esok harinya, sang ayah yang tinggal sebatang kara ini, melanjutkan kembali pencarian. Ia tak kenal lelah walaupun perutnya tidak pernah terisi nasi dan makanan lainya, setelah sarapan pagi pada hari Minggu (26/12) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua pun sudah menjelang dzuhur, tapi yang dicari masih sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodal kegigihan dan pantang menyerah dalam pencarian keluarganya, sekitar 200 meter dari bekas rumahnya, dalam pepohonan yang tumbang dan puing-puing bangunan, sopir L-300 itu menemukan putra tertuanya. Lalu tak jauh dari situ, dia juga menemukan putranya yang kedua dalam kondisi sudah menjadi jasad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua putranya inilah yang sempat diantarkan pangkas rambut sebelum Ridwan berangkat kerja. Rupanya itulah wujud kasih sayangnya yang terakhir sebagai seorang ayah, sebelum akhirnya berpisah untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari ketiga, Ridwan yang berbadan tegap itu masih mencari istri dan seorang putranya yang belum ditemukan. Ridwa sama sekali tidak menyadari bahwa dia sesungguhnya tengah mencari tiga orang lagi, yaitu istri, seorang anak lelakinya, dan seorang bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai ashar, ketika melintasi bebatuan, terlihat sesosok jasad perempuan terjepit batu. Itulah jenasah Nazmi. Tak jauh dari situ, dia pun menemukan jasad putranya yang lain. Dengan hati hancur, lalu sang suami setia ini menyingkirkan bebatuan itu. Perasaan sedih menyayat begitu menyaksikan seorang bayi perempuan di samping jasad istrinya yang kini tak lagi hamil tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ditinggal sedang hamil tua, ternyata waktu saya temukan sudah menjadi mayat bersama bayi perempuan yang dilahirkan, jelas Ridwan sambil mengusap air mata dengan lengan baju yang dipakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah bayi perempuan yang selama ini diidam-idamkannya. Selama sembilan bulan ini, Ridwan mengaku selalu berdoa agar jabang bayi yang dikandung Nazmi adalah bocah perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa kami dikabulkan. Tapi, mau tak mau harus siap menerima cobaan ini. Anak perempuan yang saya dambakan, menjadi kenyataan. Namun, ditemukan sudah menjadi mayat di samping ibunya, katanya menutup kisah. [dan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Monday, January 17, 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Reporter: Rosmad - Lhokseumawe, 2005-01-17 08:33:36&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110595205511472923?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110595205511472923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110595205511472923' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110595205511472923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110595205511472923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/akhir-doa-seorang-sopir.html' title='Akhir Doa Seorang Sopir'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110555925827408075</id><published>2005-01-12T11:38:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T10:16:55.980-07:00</updated><title type='text'>Kisah Istri Wartawan Menunggu Keajaiban Kedua</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kisah Istri Wartawan Menunggu Keajaiban Kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, kondisi Maisarah M Nur (34), jauh lebih baik dibanding beberapa hari sebelumnya. Perempuan itu sudah bisa menggerakkan kaki kirinya yang dibalut perban, meski rasa nyeri masih mendera. Rasa sakit diakuinya masih menyiksa sekujur tubuh, tetapi dia sudah bisa berjalan walau tertatih-tatih. Barangkali karena alasan fisik yang jauh lebih baik itulah, Selasa (11/1), keluarganya memutuskan untuk membawa pulang Maisarah dari rumah sakit Sakinah, Lhokseumawe, Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun secara psikis, tak ada yang tahu. Untuk urusan yang satu ini, pihak rumah sakit sudah mendatangkan psikiatri selain tiga dokter spesialis lainnya. Muhammad Taufik, abang kandung Maisarah, mengakui kondisi mental adiknya jauh lebih baik. Tapi sesekali ia masih teringat dengan kejadian itu, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, Maisarah masih trauma.&lt;br /&gt;Memang tak mudah melupakan kiamat itu. Apalagi, Maisarah harus kehilangan tiga putri dan suaminya tercinta. Saat detik-detik terakhir, Maisarah yang akrab disapa Mai, masih berusaha menyelamatkan anak ketiganya yang berumur tiga tahun yang ketika tsunami datang berada di gendongnya. Sementara putri pertama dan kedua menyelamatkan diri dengan anak tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijumpai di rumah saudaranya di Hagu Teungoh, Lhokseumawe, Selasa malam (11/1), Mai mengaku sempat masuk ke dalam rumah ketika anaknya berteriak air datang. Saya pikir cuma air biasa saja. Saya pikir, harus ada sedikit uang untuk persiapan. Tapi anak saya yang kedua melarang masuk.Sudah Mak, jangan masuk lagi. Kakak takut. Begitu anak saya berkata. Bahkan dia sempat melihat dinding hitam setinggi 10 meter lebih. Dia tidak tahu apa itu, cerita Mai dengan suara terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mai sempat ingat suaminya, Muharram M Nur. Setelah gempa pertama terjadi, sekitar pukul 08.00 WIB di hari Minggu (26/12) itu, Muharram pamit pergi mengambil foto penjara Kajhu yang rubuh dengan mengendarai mobil. Muharram adalah seorang jurnalis yang sehari-hari bekerja sebagai Redaktur Pelaksana di Tabloid Kontras (Banda Aceh). Muharram juga pernah menjadi Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah gempa, Muharram berusaha menghubungi rekan-rekannya yang bekerja di kantor berita Associated Press, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak bisa. Tidak ada sinyal. Kemudian Abang pinjam HP (handphone) saya. Ditelepon ke Jakarta tidak bisa. Dikirim SMS juga tidak bisa. Padahal HP saya sinyalnya penuh, lanjut Mai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berusaha menyelamatkan diri, Mai sempat terjatuh hingga anak ketiganya yang dalam gendongan, terlepas. Ketika air mulai tinggi, dia sempat meraih kaki anaknya kembali, tapi terlepas lagi. Tangannya yang masih menggapai-gapai di tengah lautan air, masih mampu menjangkau kaki anaknya untuk kedua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya sempat melihat wajah Anis (anak ketiganya) sesaat. Mungkin ketika itu dia sudah tidak ada lagi (sudah meninggal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang yang muncul pertama kali, airnya masih bersih dan tanpa sampah. Namun pada gelombang kedua, terjangannya lebih keras dan disertai aliran sampah berupa seng, balok, dan segala macam benda keras yang mampu disapu gelombang tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah terseret ke mana, setelah itu Mai naik ke sebuah tembok yang agak tinggi. Dia tak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya. Dia merasa semua itu hanya mimpi. Dengan seluruh tubuh terendam air kecuali leher, dia melihat burung-burung berterbangan di udara. “Ya Allah, ternyata ini bukan mimpi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas ketinggian itu pula Mai melihat tetangganya meminta tolong. Mai tak bisa berbuat apa-apa selain memintanya mengucapkan dua kalimah syahadat. Itu juga yang saya lakukan setiap kali terminum air laut, tambahnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah air mulai surut, antara sadar dan tidak, Mai mendengar suara sejumlah anggota Brimob mencari korban yang selamat. Mereka bilang di sini tidak ada yang selamat. Saya teriak, ada. Di sini saya. Kemudian mereka menolong saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anggota Brimob itu datang, Mai sempat dihinggapi rasa takut karena wajah aparat kepolisian itu sangar-sangar. Jauh dari kesan ramah. Tapi ternyata hatinya sangat lembut. Dialah yang menjadi malaikat penolong Mai. Dia yang memberi pakaian karena baju yang dikenakannya sudah copot ketika melawan terjangan gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah air surut, saya haus sekali. Saya minta air, tapi tidak ada. Anggota Brimob itu mengatakan akan memanjat kelapa dan buah kelapa itu dibuka dengan gigitannya. Saya bilang jangan. Akhirnya saya minum air laut yang masih bersih dengan telapak tangan anggota Brimob itu sebagai cangkir, ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tiga putri itu baru sadar kaki kirinya luka parah sampai terlihat tulang setelah diberitahu anggota Brimob tersebut. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit Fakinah dengan mobil, tapi ternyata tidak bisa menerima pasien. Kemudian dia dibawa ke rumah seorang warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ada teriakan air naik, anggota Brimob itulah yang membawa saya ke lantai atas. Dia juga berjanji akan membawa saya ke rumah sakit dengan sepeda karena mobil dan motor kehabisan bensin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari Senin, luka kaki Mai belum mendapat perawatan hingga membusuk. Seorang adik iparnya kemudian mencari obat luka Betadine dan mengobati seadanya. Ketika keluarga dari Lhokseumawe datang, Mai dibawa ke Sigli untuk perawatan. Tapi di sana, Mai sempat diabaikan selama dua hari. Dokter hanya menyuruh perawat mengolesi Betadine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru hari Rabu (29/12/2004) Mai ditangani seorang dokter dari Riau. Tapi saya dirawat seperti ayam. Dia menangani luka saya tanpa empati sedikitpun, tuturnya pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Mai sudah selamat. Kondisinya pun jauh lebih baik setelah mendapat perawatan di Lhokseumawe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Mai siapa malaikat penolongnya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat tanyakan namanya. Tapi dia bilang itu tidak penting. Saya lihat di bajunya namanya entah Rio, atau seperti itu. Yang jelas dia bukan aparat Brimob organik, sahut Mai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mai tampak tabah saat bercerita tentang pengalaman buruk yang baru saja dialaminya. Dia sudah pasrah mengenai nasib suaminya Muharram dan ketiga anaknya. Kendati demikian, Mai masih mengharap datangnya keajaiban, seperti yang terjadi pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang Allah masih memberi kesempatan bagi saya untuk memiliki mereka, saya pasti akan berjumpa dengan mereka kembali, harapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Mai menyelamatkan jiwanya adalah keajaiban. Belakangan Mai baru sadar dirinya terdampar sampai ke Lambaro Angan, atau sejauh lima kilometer lebih dari rumahnya di Perumahan Lambada Permai, Desa Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Perumahan itu terletak sekitar tiga kilometer dari bibir pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 35 kepala keluarga yang ada, hanya sekitar 14 orang yang selamat, kata Mai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keputusasaan itu, muncul setitik harapan. Saudara Mai, Muhammad Jamil, mengatakan dia pernah bertemu dengan seseorang yang mengenal Muharram. Terakhir kali, orang itu sempat melihat Muharram mengambil foto di Peunayong. Ketika itu, ada sejumlah pejabat NAD mengunjungi bangunan yang rubuh. Katanya di sana ada tanah retak dan dari bawahnya mengucur air hitam. Tapi bisa jadi orang itu salah lihat, kata Jamil tentang orang bernama Tarmizi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dievakuasi ke Sigli dan Lhokseumawe, Mai juga sempat melihat anak tetangga yang semula berlari menyelamatkan diri bersama dua anaknya. Mereka selamat. Saya sempat tanyakan dua anak saya yang bersama mereka di mana. Tapi karena anak-anak itu masih trauma, mereka tidak menjawab dengan jelas, tutur Mai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sambil menunggu kesembuhan, Mai hanya berharap datangnya keajaiban kedua. [dan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Repoter: Cut Ida - Lhokseumawe, 2005-01-12 12:23:52&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a href="http://www.acehkita.com"&gt;www.acehkita.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110555925827408075?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110555925827408075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110555925827408075' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110555925827408075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110555925827408075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/kisah-istri-wartawan-menunggu.html' title='Kisah Istri Wartawan Menunggu Keajaiban Kedua'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110555120915694439</id><published>2005-01-12T09:28:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T10:21:13.446-07:00</updated><title type='text'>Hasil Keringat Puluhan Tahun Musnah Seketika</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hasil Keringat Puluhan Tahun Musnah Seketika&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEREMPUAN setengah baya itu berdiri terpaku di atas sebidang hamparan tanah. Matanya berkaca-kaca menatap serpihan papan kayu dan puing-puing tembok yang berserakan bercampur lumpur. Sesekali, pandangannya menerawang jauh tak terhalang apa pun, dari bibir pantai barat Aceh hingga laut lepas. Kini memang sudah tidak ada lagi satu pun bangunan yang menjadi penyekat antara tempat dia berdiri dan bibir pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEREMPUAN itu bernama Zuwarni Zainum (48). Ia sedang berdiri termenung di atas sebidang tanah di Jalan Haji Bintang, Lorong Pribadi, Lamjabat, Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatannya mundur sedikit ke belakang, kira- kira tiga pekan silam. Minggu ketiga Desember 2004, dalam sebuah rumah yang berdiri di atas tanah yang ia pijak, Zuwarni masih sempat bercengkerama dengan suami, tiga putrinya, seorang menantu, dan seorang cucu berusia enam bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini canda tawa dan kehangatan suasana keluarga itu tinggal kenangan. Semuanya sirna tersapu gelombang tsunami yang menerjang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara, 26 Desember 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tujuh anggota keluarga yang menghuni rumah itu, hanya dua yang selamat, yakni Zuwarni dan putri sulungnya, Maulidiyah Sari (24). Lima lainnya ikut tertelan gelombang tsunami dan hingga kini belum jelas nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah Bustamin (53), suami Zuwarni yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai Museum Daerah Aceh; berikut dua putrinya, Ulfah Rahmi (21) dan Rizka Hakikah (14). Dua lainnya tergolong anggota keluarga yang masih baru, yakni menantu bernama Nasir (30) dan cucu perempuan yang bernama Syahirah (6 bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kejadian, mereka bertujuh berhamburan ke halaman rumah. Selanjutnya, mereka berlarian ke jalan raya mengikuti orang lain untuk mencari daerah yang lebih tinggi. Namun, ketika warga setempat masih berjejal-jejal di jalan raya, gelombang tsunami yang hitam pekat menggulung mereka. Suami, istri, dan anak-anak sudah tercerai-berai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuwarni berupaya memeluk erat sebatang tiang pagar besi di sisi jalan. Setelah dirinya terangkat oleh gelombang air berlumpur, sesaat kemudian kepalanya terhantam benda keras sehingga empat gigi serinya rontok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bersyukur bisa selamat. Demikian pula putrinya, Maulidiyah Sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lima anggota keluarga lainnya sudah lenyap. "Betul-betul mukjizat jika mereka bisa ditemukan dalam kondisi hidup," ucap Zuwarni dengan nada pilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu sebagai pertanda kepasrahannya. Maklum, ketika berbincang-bincang dengan Kompas Sabtu pekan lalu, sudah dua pekan kegiatan pembersihan puing dan evakuasi jenazah para korban tsunami di Banda Aceh, tetapi belum juga ada tanda-tanda ditemukannya anggota keluarga Zuwarni yang hilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZUWARNI tidak hanya kehilangan sebagian besar anggota keluarga yang dicintainya. Ia juga kehilangan rumah tempat tinggal yang ia bangun sekitar lima tahun lalu dari hasil jerih payahnya menekuni profesi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Syiah Kuala tahun 1981, Zuwarni langsung mencoba peruntungannya dengan melamar sebagai guru di SMA Negeri 3 Banda Aceh. Sedikit demi sedikit gajinya sebagai guru berstatus pegawai negeri ia sisihkan untuk ditabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru sejarah itu bernasib baik karena suaminya pun seorang pegawai negeri di museum daerah setempat yang sangat mendukung kegigihannya dalam menabung. Sekitar 15 tahun kemudian, tabungannya sudah cukup untuk mewujudkan cita- citanya membangun sebuah rumah permanen. Berukuran 20 x 16,5 meter, rumah beton yang dibangunnya terdiri atas empat kamar. Bagi warga perkampungan Lamjabat, rumah seukuran itu sudah tergolong besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, rumah yang merupakan simbol kemapanan hidup dan status sosial, yang dibangun dari hasil jerih payah berpuluh tahun menekuni profesi guru, itu tak lagi menaungi kehidupan Zuwarni. Khusus, di Banda Aceh, Zuwarni dan Maulidiyah Sari tercatat sebagai salah satu pengungsi yang berjumlah lebih dari 31.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua perempuan yang mendadak jadi janda itu memang tak tidur di tenda-tenda pengungsi yang beratapkan terpal. Namun, kondisi tempat bernaung mereka saat ini tidak lebih baik dari tempat bernaung pengungsi pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya kini menumpang tidur di rumah sanak famili, di sebuah rumah di kawasan kumuh Lamteh Ulee Kareng. Pengapnya udara di rumah itu terasa kian menyesakkan dada manakala Maulidiyah Sari menjerit histeris karena trauma kehilangan bayi, suami, ayah, dan kedua adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, Zuwarni hanya bisa mengelus rambut putrinya seraya berujar, "Sabarlah. Di balik ini pasti ada rahmat yang jauh lebih besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KISAH Zuwarni Zainum sama pilunya dengan kisah Hamdani (34). Guru fisika yang masih berstatus kontrak di SMA Negeri 11 Banda Aceh itu juga kehilangan orang-orang yang dicintainya. Istrinya, Nurdalina (34); serta dua putrinya, Mutiara Zikrunnisa (5) dan Irhamna Maulidiyah (3,5), ikut hilang tersapu tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, ketika istri dan kedua anaknya meregang nyawa bersamaan dengan ambruknya rumah kontrakan mereka di Kompleks Polayasa Cot Paya, Aceh Besar, Hamdani justru tidak sedang bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi yang naas itu, Hamdani sedang mengantar mebel berupa meja kursi untuk SMA 11 Banda Aceh. Memasok mebel ke sekolah-sekolah merupakan pekerjaan sampingan Hamdani untuk menghidupi keluarga. Maklum, penghasilannya sebagai guru kontrak cuma Rp 460.000 per bulan, sementara upah yang diperolehnya sebagai guru honorer di SMA 3 tak lebih dari Rp 36.000 per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamdani adalah satu dari 1.000 guru lebih yang tidak sempat memberikan pertolongan kepada anak dan istrinya dari terjangan tsunami lantaran waktunya tersita untuk mencari penghasilan tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, Hamdani masih bisa berpikir jernih. Di balik rasa pilunya, ia berupaya mengimbangi kesabarannya dengan rasa syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuwarni dan Hamdani boleh bersyukur karena nasib mereka masih lebih beruntung: tidak sampai masuk dalam daftar sekitar 1.500 guru di NAD yang meninggal karena tsunami.&lt;br /&gt;Keduanya masih diberi kesempatan Yang Maha Kuasa untuk mengabdikan sisa umurnya dalam misi pencerdasaan bangsa meski imbalan yang diterimanya kerap tak seimbang dengan kemuliaan hatinya. (NASRULLAH NARA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110555120915694439?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110555120915694439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110555120915694439' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110555120915694439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110555120915694439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/hasil-keringat-puluhan-tahun-musnah.html' title='Hasil Keringat Puluhan Tahun Musnah Seketika'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110548407343455205</id><published>2005-01-11T14:49:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:15:26.636-07:00</updated><title type='text'>Sajak Tsunami Aceh</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;Sajak Tsunami Aceh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc00;"&gt;Widayanti &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Dalam doa kuukir nisan-nisan&lt;br /&gt;Kembalilah ke taman indah&lt;br /&gt;Berhiaskan berjuta bunga&lt;br /&gt;Berteman seribu bintang&lt;br /&gt;Berbekal seribu ayat yang kau lakoni selama di alam fana ini&lt;br /&gt;Termaafkan segala hilap&lt;br /&gt;Ini lah asa dan doa kami untukmu para syahidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai 5 hari lagi angka berganti 2005&lt;br /&gt;Seiring semburat keemasan diufuk timur pertanda hari kan mulai&lt;br /&gt;Kau pun berteriak ..Allahu Akbar..Allah Maha Besar&lt;br /&gt;Menangis ..menjerit..mengerang&lt;br /&gt;Menghindar murka tsunami&lt;br /&gt;Tapi apalah daya manusia..&lt;br /&gt;Jiwamu pun lebur bersama air bah dan lelumpuran&lt;br /&gt;150.000 lebih jiwa melayang&lt;br /&gt;Bibirku kering tak sanggup tuk mengeja nama-nama mu.&lt;br /&gt;Hatiku pilu..&lt;br /&gt;Nisan tak sanggup menampung jumlahmu&lt;br /&gt;Maka onggokan jiwa pun menyatu dalam satu kubur&lt;br /&gt;Gelap gulita..&lt;br /&gt;Kau berteriak dalam bunyi yang terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa yang tersisa kini mengais tanah dan reruntuhan&lt;br /&gt;Mencari belahan jiwa dengan penuh harap&lt;br /&gt;Meski akhirnya menjerit pilu terhadap kenyataan&lt;br /&gt;Yang lainnya..&lt;br /&gt;Mengisut-isut badannya&lt;br /&gt;Tuk mencari sesuap nasi&lt;br /&gt;Mencari selembar kain penutup aurat&lt;br /&gt;Yang lainnya&lt;br /&gt;Bisu berdiam diri&lt;br /&gt;Matanya merawang tanpa tujuan&lt;br /&gt;Yang lainnya..&lt;br /&gt;Yang lainnya..&lt;br /&gt;Ah rasanya kata-kata kini enggan berteman denganku&lt;br /&gt;Atau mereka sedang ikut berduka juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tulis pesan dengan tinta darah dan tangisan&lt;br /&gt;Pada reruntuhan bangunan dan tanah merah&lt;br /&gt;Siapkan diri tuk menghadap-Nya&lt;br /&gt;Ajal kan menjemput tanpa berbincang terlebih dahulu&lt;br /&gt;Agar syahid dan kemenangan sebagai hasil.&lt;br /&gt;Kau ukir makna pada air yang menepi.&lt;br /&gt;Tuk membuka mata hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendai, Jan 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.fahima.org&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110548407343455205?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110548407343455205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110548407343455205' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110548407343455205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110548407343455205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/sajak-tsunami-aceh.html' title='Sajak Tsunami Aceh'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110547642997554784</id><published>2005-01-11T13:18:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:20:30.976-07:00</updated><title type='text'>Agi Dimana Kau Nak</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Agi Dimana Kau Nak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan bercampur letih tergambar di wajah perempuan separuh baya yang kehilangan anaknya itu. Tidak berapa lama mengisahkan jalan hidupnya, air matapun tergenang. Nur Arafah atau yang biasa dipanggil Inoy, 35, bersama suami dan anak-anaknya adalah korban tsunami. Dia menyaksikan langsung bagaimana jutaan ton galon air itu datang menyerbu dan merasa lidah air menghantam tubuhnya. Tetapi takdir Allah SWT, dia bersama suami dan seorang anak perempuannya selamat. Hanya Agi atau Aulia Ghifari, 6, si anak bungsu yang sampai kini belum diketahui nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tsunami datang, Inoy bersama suami dan anak-anaknya berlarian di tengah hiruk pikuk ribuan orang lainnya memenuhi jalanan di Lamjamee-Lampodaya, Banda Aceh. Mereka terus berlari sekuat tenaga yang ada padanya, sampai pada satu saat Inoy kehabisan tenaga dan tidak lagi sanggup berlari. "Pergilah, bawa anak-anak. Biarkan Inoy di sini," ucapnya kepada sang suami dengan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi M.Jamil, 45, sang suami tidak tega melihat istrinya seperti itu. Dia memutuskan untuk tetap bersama sang istri tersayang walau apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian menyuruh anak perempuannya Alin terus berlari dan menitipkan si bungsu Agi kepada anak remaja pria tetangga mereka yang biasa dipanggil No. "Bawa pergi adik jauh-jauh," pesan M Jamil pada No. Selanjutnya, pria ini dengan keteguhan hati mendekap sang istri dan memasrahkan semuanya kepadaNya. Suasana terasa sangat memilukan ketika suami istri itu berdekap erat sambil menanti nasib. Mata kedua pegawai Dinas Kesehatan Banda Aceh itu hanya bisa menyaksikan kedua anaknya berlari menjauh sampai menghilang dari pandangan mata. Tetapi lajunya air tidak mau tau dan terus menghantam apa saja yang ada di permukaan bumi, termasuk suami istri yang sedang berpelukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantaman air menghempas dan menghantam keduanya ke udara dan kembali terhempas ke bumi. Begitu seterusnya, mereka timbul tenggelam diseret gelombang tsunami sampai berjam-jam lamanya. Tetapi kedua pasangan ini tetap berpelukan. M Jamil terus memegang erat-erat perempuan yang dinikahinya sekira sepuluh tahun lalu itu. "Saya pasrahkan semuanya kepada Allah SWT," ucap Inoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan ribu orang juga ikut terseret hantaman tsunami hari itu, dan puluhan ribu orang menemui ajal. Tapi tidak bagi pasangan ini. Setelah berjam-jam berayun-ayun dihempas gelombang, akhirnya kaki mereka mencecah tanah. Air sudah surut, fikir batin Inoy. Diapun mencoba membuka matanya. Benar, mereka selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi secara kejiwaan mereka masih sangat sakit. Karena di samping mendapat trauma akibat tsunami. Mereka juga menyaksikan ratusan mayat bergelimpangan di sekeliling. Mayat-mayat itu adalah para tetangga dan para kenalan yang selama ini bergaul bersama-sama. Yang paling membuat hatinya berdenyut adalah kedua anaknya. Mereka memikirkan nasib kedua anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari lamanya, M Jamil menyusuri berbagai wilayah di Banda Aceh untuk mencari buah hatinya. Berharap mereka masih hidup. Doa pasangan yang pasrah pada kehendakNya ini terkabul. Nur Amalina atau Alin ditemukan di salah satu penampungan. "Kami bersyukur kepada Allah SWT," ucap Inoy tersedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sampai hari kelima pasca musibah, mereka belum juga menemukan Agi. "Di mana kau nak." Emosi Inoy hampir terlempar. Meski kemungkinan menemukan Agi baik dalam keadaan hidup maupun sudah meninggal dunia sangat kecil, namun mereka terus berharap. Harapan yang kian meredup itu seakan kembali bersinar ketika ada seorang keluarga yang menyatakan melihat Agi pada salah satu tayangan televisi swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang reporter yang seketika itu dihubungi menjelaskan dia mengambil gambar tersebut di salah satu tenda penampungan milik Dinas Kesehatan DKI di dekat lapangan terbang. Para keluarga terus menelusuri informasi tersebut, namun sampai saat ini belum diketahui kabarnya sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Inoy dan suami telah dievakuasi ke rumah keluarganya di Kompleks TNI-AU Karang Sari I No.104 Medan. Saat ini pencarian Agi terus dilakukan oleh pihak keluarganya. "Saya sangat membutuhkan bantuan orang yang menemukan Agi. Tolong lah kami," jerit ibu yang kehilangan anaknya ini. Dia minta bagi yang mengetahui keberadaan Agi agar menghubungi (061)7878402 atau HP.0812-601-6920, 0812-800-7495 dengan Husni Thamrin atau Ahmad Husein.&lt;br /&gt;-wdj-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110547642997554784?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110547642997554784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110547642997554784' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110547642997554784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110547642997554784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/agi-dimana-kau-nak.html' title='Agi Dimana Kau Nak'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110547464850284067</id><published>2005-01-11T13:15:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:25:08.866-07:00</updated><title type='text'>Balada Suami Istri yang Selamat, tapi Tiga Anaknya Hilang</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;Balada Suami Istri yang Selamat, tapi Tiga Anaknya Hilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air Mengejar 15 Meter di Belakang Mobilnya&lt;br /&gt;Kini, banyak ruang kosong di hati Seriadi dan Nur Hayati. Tiga anaknya belum ditemukan. Bagaimana suami istri itu bisa lolos, meski harus berpisah dengan tiga buah hati mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJAKA SUSILA, Banda Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATA Nur Hayati sembab. Sepekan ini dia terus terisak-isak menangis meratapi nasibnya setelah badai tsunami membuyarkan semua impiannya. Sapu tangan terus digunakan untuk mengusap air matanya yang tak henti-hentinya menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan suaminya, Seriadi, tampak lebih tegar menghadapi cobaan itu. Mereka kehilangan ketiga anaknya saat badai tsunami menerjang Aceh. Seriadi sudah tampak pasrah. Dia merasa anaknya sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak demikian yang dirasakan Nur Hayati. Dia masih terus berharap bisa menemukan anak-anaknya yang saat ini belum diketahui apakah masih hidup atau sudah menjadi mayat. Ke mana pun dia pergi, foto ketiga anaknya selalu dibawa. Dia meminta semua petugas untuk membantu mencari tahu di mana ketiga anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga anaknya -Muhammad Iqbal,14; Muhammad Riska, 10; dan Muhammad Ahda, 3- saat monster air itu datang memang tidak bersama ayah ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bungsu tengah berada di rumah neneknya di daerah Paserungan, yang berjarak 5 km dari rumah mereka di kawasan Lhoknga, Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iqbal dan Riska tinggal di rumah. Sedangkan Seriadi dan Nur Hayati tengah bekerja, meskipun saat itu Minggu. Seriadi bekerja di PT Semen Andalas, Lhoknga, yang tak jauh dari rumahnya. Begitu juga, Nur Hayati mengajar mengaji di perumahan Semen Andalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 08.00 WIB, gempa kuat mengagetkan Seriadi. Baru kali itu dia merasakan ada getaran yang kuat melanda Aceh. Pikirannya langsung tidak keruan. Seriadi langsung teringat anaknya yang berada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gempa sudah reda, dia pun memacu mobilnya kembali ke rumah. Di sana dia menemukan anaknya yang sedang ketakutan. Dia berniat membawa anaknya itu ke rumah neneknya, berkumpul dengan si bungsu. "Mereka harus ada yang menjaga," kata Seriadi. Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sang nenek. Seriadi lega melihat si bungsu juga dalam keadaan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa lega, dari Paserungan, Seriadi kembali berangkat kerja. Namun, baru berjalan beberapa ratus meter dari rumah, dia mendengar suara gemuruh dan beberapa orang berteriak bahwa air masuk kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulungan air berwarna cokelat pekat itu membuat Seriadi panik. Dia pun langsung memutar mobilnya menuju dataran tinggi di daerah bukit. Namun, dia terus dikejar air yang bergulung-gulung. Dia memperkirakan tinggi gelombang maut itu sekitar lima meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seriadi terus melihat ke belakang untuk menjaga jarak bah dengan mobil. Pada saat itu, air yang mengejarnya diperkirakan berjarak 15 meter. Seriadi pun terus menancap gas mobilnya mencari tempat yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasa selamat hingga sampai di sebuah kedai, Seriadi beristirahat. Namun baru dua menit istirahat, air kembali datang. Dia pun kembali memacu mobilnya. Kali ini, jarak air hanya dua meter dan terus mengejar dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seriadi nekat melewati jembatan-jembatan kecil yang air sungainya sudah meluap. Seriadi mujur. Begitu mobilnya lewat jembatan, jembatan itu tiba-tiba ambrol. "Saya lihat ke belakang, ada orang menggunakan sepeda motor yang juga selamat, mobil di belakang saya jatuh bersama jembatan itu," katanya kepada koran ini di pengungsian di Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Seriadi terus berlanjut. Sebab, air terus mengejar mobilnya. Dia memacu memacu mobilnya ke atas bukit hingga air tidak lagi mengejarnya. Di atas bukit, dia selamat bersama 50 orang. Bahkan, Seriadi terpaksa tinggal selama dua malam di atas bukit tersebut. Dia makan seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatnya terpukul, dari atas bukit dirinya bisa menyaksikan kompleks perumahannya digenangi air laut. Seriadi tidak berani melewati air yang menggenang sebagian besar wilayah Lhoknga, meski sangat cemas dengan nasib istri dan ketiga anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah air tenang, dia nekat berenang. Hingga akhirnya, dia mencapai daratan setelah berenang beberapa menit. Dia lalu mencari ketiga anak dan istrinya. Namun, hasilnya nihil. Seriadi memilih bermalam di rumahnya yang saat itu hanya rusak pada bagian belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu hari bermalam di rumahnya, dia mendapatkan informasi bahwa istrinya berada di kamp pengungsian Nusa, Banda Aceh. Kegembiraannya bisa menjumpai istrinya di sana, namun masih sangat cemas dengan nasib ketiga anaknya serta ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Hayati pun terus menangis saat mengingat anaknya. Dia masih terus mencari keberadaan ketiga anaknya. "Tolong ya, kalau ketemu anak saya ini, kami diberi tahu," katanya kepada koran ini sambil menunjukkan ketiga foto anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Nur Hayati bisa lolos dari gelombang tsunami? Dia belum bisa bercerita banyak mengenai bagaimana dia lolos dari terjangan tsunami. Pada saat itu, dia akan kembali mengajar mengaji ke Perumahan Semen Andalas. Dia juga kembali ke rumah ketika ada gempa dan menengok kedua anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Seriadi pergi, Nur Hayati juga bersiap-siap pergi. Ketika akan menyalakan sepeda motornya, banyak orang yang berhamburan lari karena melihat badai tsunami yang mengejar semua orang. Dia pun memacu sepeda motornya mencari tempat yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak lama, dia menyelamatkan diri menggunakan sepeda motornya. Karena meliht rumahnya juga tergenang air, dia tetap memilih ke pngungsian di Desa Nusa, Banda Aceh. Selama dua hari, dirinya meratapi nasib dan memikirkan suami serta ketiga anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemarin, dia tampaknya belum percaya bahwa kecil kemungkinan ketiga anaknya selamat. Sebab, Kampong Paserungan tempat tinggal neneknya sangat dekat dengan pantai. Sekitar 300 meter dari pantai. Padahal, air saat itu menerjang hingga lima kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah pasrah, Seriadi pun berusaha menyatukan hati dengan istrinya. Hari-harinya sekarang selalu diisi dengan mencari kabar mengenai ketiga anaknya. Dia juga berharap ada keajaiban dari Tuhan.***&lt;br /&gt;Jawa Pos&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110547464850284067?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110547464850284067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110547464850284067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110547464850284067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110547464850284067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/balada-suami-istri-yang-selamat-tapi.html' title='Balada Suami Istri yang Selamat, tapi Tiga Anaknya Hilang'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110547444538890810</id><published>2005-01-11T13:09:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:28:48.760-07:00</updated><title type='text'>Doa Cut Rahimah buat Desy Chaerami</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;Doa Cut Rahimah buat Desy Chaerami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MONITOR alat penunjuk detak jantung di dekat tempat tidur beberapa orang bocah bergerak turun naik. Gerakan naik turun alat penunjuk detak jantung tersebut merupakan bukti di mana bocah-bocah itu sedang berjuang untuk tetap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya alat tersebut, selang infus dan selang pernapasan yang menjulur melekat di muka dan tubuh mereka sehingga muka bocah-bocah tersebut sebagian tertutup plester putih yang sengaja dilekatkan untuk menahan selang-selang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah bocah-bocah korban gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang beruntung dapat selamat. Salah satu dari bocah yang tergolek itu bernama Desy Chaerami, 1,6, kini terbaring lemah di ruang ICU (Intensive Care Unit) Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Harapan Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Desy, teman-teman sebayanya juga tergolek melawan maut di ruang ICU RSAB Harapan Kita. Mereka adalah Margaretha, 7, Maharani, 2,3, Cut Adam, 1,5, Cut Fabiola, 9 bulan, dan Rahmat Suhada, 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, para bocah tersebut, hingga kemarin berada di ruang ICU. Mereka tidak mampu lagi bercanda dan tertawa sebagaimana teman sebayanya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah imut-imut mereka tak lagi memancarkan sinar keceriaan. Bocah-bocah itu tergolek lemas tanpa daya di ruang ICU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Media masuk ke ruangan tersebut, bocah-bocah malang itu tampak terbaring di enam tempat tidur. Masing-masing matanya terpejam dan dua lubang hidung disumbat selang. Alat bantu pernapasan, infant ventilator dan monitor penunjuk detak jantung berada di sekeliling tempat tidur keenam bocah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak ada kesibukan di salah satu tempat tidur salah seorang dari bocah itu. Seorang dokter dibantu tiga perawat sedang berusaha keras menyelamatkan nyawa sang bocah itu. Wajah dokter itu kelihatan tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara seorang perawat berkali-kali menekan bagian dada dari salah seorang anak itu untuk membantu pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, ketika Media berusaha mendekati tempat tidur bocah yang menghadapi kondisi paling kritis tidak diizinkan. Sehingga, tidak jelas siapa nama bocah tersebut. Dua anggota keluarga bayi itu ditemani seorang staf lembaga swadaya masyarakat (LSM) menunggu di sisi tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di dalam musala rumah sakit anak terbesar di Indonesia ini, yang berdekatan dengan ruang ICU, seorang ibu, Cut Rahimah, 56, tampak khusyuk menjalankan ibadah salat Zuhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai salat, sang ibu sambil tetap mengenakan mukena, menengadahkan tangannya, dan tak beberapa lama titik-titik air bening keluar dari matanya hingga mengalir ke pipi. Sesekali matanya pun terpejam. Dari mulutnya meluncurkan kata demi kata, doa pertolongan dari Allah swt. Di sela-sela doanya, si ibu tak henti-henti mengucapkan satu nama. Adalah, Desy Chaerami yang masih tergolek di dalam ruang ICU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desy bukan cucunya, juga bukan pula darah dagingnya. Tetapi, Desy yang kini telah ditinggalkan kedua orang tuanya untuk selamanya, sudah dianggap cucu oleh Cut Rahimah dari Desa Ponge Blancut, Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kedekatannya dengan Desy telah membuat Kepala TK Permata Bunda Banda Aceh itu tidak henti-hentinya menangis dan berdoa untuk Desy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanyut di sungai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah kedekatan Desy dengan Cut Rahimah ketika dua hari setelah gempa dan tsunami menyapu Kota Banda Aceh. Tidak jauh dari tempat tinggal Cut Rahimah mengalir sungai Ponge Blancut, sesuai nama daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba muncul sebuah pemandangan ajaib, namun memilukan. Seorang bayi terapung-apung di atas tumpukan kayu. Anak dari Cut Rahimah, Dedy Afrizal, 29, yang juga anggota polisi dari Polda Aceh, memang sedang bertugas menyelamatkan warga dari gelombang laut tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat bocah terapung-apung di atas sungai, spontan Dedy menceburkan diri menyelamatkan bocah yang kurus itu. Sekujur tubuh bayi itu sudah dipenuhi luka. Tubuhnya lemah dan napasnya sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bayi yang sudah tidak diketahui kedua orang tuanya itu dianggap anak dan dibawa Cut Rahimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cut Rahimah sendiri bersama keluarganya tidak luput dari terpaan gelombang tsunami. Namun, beruntung dia bersama suami, Amirudin, 56, serta puluhan tetangganya bisa menyelamatkan di dari terkaman air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Alhamdulillah, Saya sekeluarga bersyukur bisa selamat karena naik loteng rumah. Saya juga bersyukur rumah kami tidak runtuh,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang guru TK, perasaan Cut Rahimah tidak bisa dipisahkan dengan anak-anak. Anak-anak telah menjadi bagian hidupnya. Ketika bisa membawa Desy, dia bertekad untuk selalu dekat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam setiap pembicaraan dan doanya, dari mulut Cut tidak pernah lepas menyebut nama Desy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Rini Rahmawati, Humas RSAB Harapan Kita mengatakan bahwa sejak 2 Januari hingga kemarin jumlah pasien yang datang terdapat 10 orang. Tiga orang pasien asal Aceh itu adalah dewasa dan telah diizinkan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir bayi asal NAD yang baru datang untuk dirawat adalah Rahmad Suhada, 3. Bayi ini nasibnya tidak berbeda dengan Maharani dan Desy yang telah menjadi yatim piatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal biaya, Rini mengatakan pihak RSAB Harapan Kita sesuai janji pemerintah akan menanggung biaya perawatan untuk ruang kelas 3. (Deri Dahuri/V-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.mediaindo.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110547444538890810?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110547444538890810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110547444538890810' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110547444538890810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110547444538890810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/doa-cut-rahimah-buat-desy-chaerami.html' title='Doa Cut Rahimah buat Desy Chaerami'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110547158486116519</id><published>2005-01-11T11:21:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:33:32.653-07:00</updated><title type='text'>Keajaiban Pertemuan Korban</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Keajaiban Pertemuan Korban&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, pagi ini saya melihat sendiri kejadian tersebut. Di Posko BRI ada banyak pengungsi, salah satunya seorang remaja puteri yang biasa membantu cuci piring dapur umum. Dia kehilangan mamak (ibu), adik laki2 dan adik perempuan. Atas kekuasaan Tuhan, pagi tadi ia menemukan adik laki2nya dan belum mencapai tengah hari menyusul adik perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ketiganya terpisah satu sama lain. Adik laki2nya selama beberapa hari menggelandang dan pagi ini kebetulan datang ke posko untuk mendapatkan makanan. Sedang adik perempuannya datang siang hari diantarkan oleh warga yang menemukannya beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ibu mereka tetap dinyatakan hilang. Mereka bertiga sudah yatim sejak lama dan kini pun menjadi piatu pula. Kesedihan mendalam nampak jelas, namun mereka tabah dan nampak bahagia karena telah berkumpul kembali. Tuhan memang Maha Pengasih dan Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru terkejut ketika seorang Bapak yang ikut menceritakan detail dari kisah ini ternyata juga seorang pengungsi. Nasibnya lebih sedih, karena semua anggota keluarganya hilang, hanya tersisa anak laki2nya, sementara isteri dan anak2 serta saudara lainnya hilang. Dan dia sempat melihat sendiri saat2 terakhir sebelum isteri dan anaknya diterjang air bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan dan keajaiban kedua terjadi ketika Tim mengunjungi Posko kantor Gubernur (Media dan PMI). Secara tidak sengaja rekan Anjar bertemu dengan seorang ibu yang kebetulan berada di situ. Beliau mengaku sebagai survivor dan seluruh anak dan saudaranya hilang. Dalam ceritanya disebutkan bahwa ada anak perempuannya di Jakarta, karena itu beliau akan mengungsi ke Medan. Kejutan terbesarnya adalah, anak perempuan yang dimaksud oleh Ibu itu ternyata adalah salah satu pendukung dana Tim Relawan IT Air Putih ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sendiri sungguh sulit mempercayai keajaiban ini. Ini sungguh kekuasaan Tuhan Yang Maha Tinggi, mustahil sebuah keajaiban random saja. Sama halnya bila kita memperhatikan hampir semua jenis bangunan rata dengan tanah, namun justru masjid dan rumah ibadah lain hanya sedikit saja rusak! Demikian juga dengan makam Sultan Iskandar Muda, seolah tetap bersih dan tak pernah tersentuh gelombang tsunami. Apakah benar ini hanya kebetulan?&lt;br /&gt;www.indonesiamu.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110547158486116519?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110547158486116519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110547158486116519' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110547158486116519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110547158486116519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/keajaiban-pertemuan-korban.html' title='Keajaiban Pertemuan Korban'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110546991278205297</id><published>2005-01-11T10:56:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:35:13.080-07:00</updated><title type='text'>Tangisan Pilu Cut Yani yang Kini Sebatang Kara</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Tangisan Pilu Cut Yani yang Kini Sebatang Kara&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGIS Cut Yani Mariyani tak bisa dihentikan. Sesekali tangisan, bocah kurus kelas 1 SD itu berhenti, tetapi sejenak kemudian kembali meledak. Tangisan gadis kecil yang mengenakan kaus warna kusam itu semakin terdengar pilu di tengah suasana haru di penampungan pengungsi di Pendopo Gubernur Nanggore Aceh Darussalam, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya yang serak dan parau sangat menyayat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata pun terus mengalir, meski Media mencoba menghiburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan pedih Cut Yani seakan-akan ungkapan kerinduan kepada kedua orang tuanya, satu adik dan dua kakaknya. Ibunya, Cut Hamidah, telah ditelan gelombang raksasa tsunami. Nasib adiknya yang masih balita dan kakaknya pun tidak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya di mana ibunya, bocah berusia 7 tahun itu mengatakan yang dia ingat hanya saat bersama ibu, adik dan kakaknya berlari terbirit-birit menghindari gelombang laut raksasa. Cut Yani terseret-seret dibawa lari ibunya. Demikian juga adiknya. Ia sempat terjatuh berkali-kali, dan setelah itu tidak ingat lagi di mana ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya tidak berada di rumah saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat siuman, murid kelas 1 SD Klincit Arum itu telah dibawa seorang warga yang selamat, Sri Mulyani,33.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekujur tubuh Cut Yani penuh luka-luka. Kulit keningnya tampak menghitam oleh darah yang sudah mengering. Luka-luka di kakinya menjadi saksi betapa dia harus berjuang keras menghindari badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kurus gadis kecil itu mengalami retak tulang. Saat Hendrasari, 33, suami Sri Mulyani, mencoba mengangkat tubuhnya, Cut Yani menjerit. ''Aduh... sakit...!'' Suara lirih keluar dari mulut Cut Yani dengan mata terpejam menahan rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara terbata-bata, bocah yang tampak lesu dan lusuh itu masih bisa berkisah. Ketika monster tsunami menelan rumah, ibu dan dua kakak serta satu adiknya, ayahnya, Tengku Umarudin, sedang berada di Desa Truman, Meulaboh. Desa itu telah luluh lantak dan rata disapu tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Cut Yani dirawat pasangan pengungsi dari Desa Lampinang, Sri Mulyani dan Hendrasari. Pasangan ini nasibnya juga tidak lebih baik dari Cut Yani. Rumahnya rata dan barang-barang sirna. Tempat tinggal pasangan itu berjarak sekitar 5 km dari rumah keluarga Cut Yani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik cerita-cerita pilu, tragedi di Aceh juga menyisakan kisah-kisah keajaiban. Dua hari lalu, tanpa disengaja, warga menemukan bocah berumur 3 tahun masih hidup di atas tumpukan sampah di Jl Merduwati, Banda Aceh. Saat ditemukan badan bocah itu penuh dengan lumpur. Kondisinya sangat lemah dan sudah tidak bisa lagi menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga segera membawa bocah yang tidak diketahui nama dan orang tuanya itu ke petugas PMI yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi. Petugas itu langsung memberi bantuan darurat dengan memberi tetes demi tetes air ke mulut bocah itu. Selanjutnya bayi itu dibawa ke penampungan korban dan kini mendapat perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Meulaboh, seorang bocah berusia 5 tahun juga ditemukan selamat setelah dua hari terapung-apung di laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah yang hanya disebut dengan nama Wira itu kini berada di penampungan pengungsi Meulaboh, Aceh Barat. Kedua orang tua, adik serta kakaknya juga selamat dan mereka berkumpul di penampungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wira, anak dari pasangan Serka Alimin Apri dan Evayani, diselamatkan oleh penduduk yang melihatnya terapung di atas kasur spring bed di perairan Aceh Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang badai tiba pada Minggu (26/12) pagi itu, Wira bersama kakaknya, Pendi, 10, dan adiknya, Nona,2, tengah menghabiskan liburan dengan bermain di sekitar rumahnya di Kompleks Kodim Meulaboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markas Kodim Meulaboh yang berjarak 500 meter dari laut dan bangunan lain di sekitarnya, termasuk rumah keluarga Alimin, rata dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu air surut, kata Evayani, dia tidak mendapati lagi Wira, kecuali suami yang mengalami patah tulang pada kaki, Pendi dan Nona. "Dua hari kami tidak tahu kabarnya, apakah dia selamat atau tidak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wira memang terseret gelombang ke tengah laut. Sewaktu terbawa air, Wira berpegangan kayu, lemari atau apa pun yang mengapung di air. "Lalu ada kasur busa lewat dan aku pindah, nggak takut tapi dingin," kata bocah itu saat diminta bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua hari terapung-apung di laut, Wira ditemukan oleh penduduk yang menggunakan kapal kecil sedang mencari sisa-sisa korban di sekitar perairan Aceh Barat di sekitar Meulaboh. (Deri Dahuri/Ant/X-7)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110546991278205297?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110546991278205297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110546991278205297' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110546991278205297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110546991278205297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/tangisan-pilu-cut-yani-yang-kini.html' title='Tangisan Pilu Cut Yani yang Kini Sebatang Kara'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110546800615844028</id><published>2005-01-11T10:24:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:38:58.610-07:00</updated><title type='text'>Ada Keajaiban di Tengah Prahara</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;Ada Keajaiban di Tengah Prahara&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISAK tangis menyelimuti pencarian korban gelombang tsunami di Desa Onolimburaya, kemarin. Di tengah pencarian korban di desa yang terletak di Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias, Sumatra Utara (Sumut), itu tim SAR tersentak oleh suara nyaring seorang bayi. Tim SAR pun segera mencari sumber suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat mencari bayi disertai ketakutan itu terus dilakukan. Tim SAR bersama masyarakat yang melakukan pencarian sempat khawatir, karena sumber suara bayi itu tidak kunjung ditemukan. Suasana sempat hening. Mereka tak putus asa dan tetap menelusuri sumber suara bayi di atas atap rumah. Ternyata, bayi itu tersangkut di atap sebuah rumah yang nyaris roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang ditemukan itu seorang laki-laki, anak seorang nelayan bernama Silpati Gulo, 20. Silpati tidak berada di lokasi kejadian saat tsunami menggulung desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saat kejadian, saya di Pulau Asu. Saya terkejut ketika saya melihat rumah saya nyaris roboh. Saya pun sempat pingsan ketika tahu istri saya meninggal. Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk anakku ini,'' kata Silpati terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berbadan kurus itu tidak mampu membendung tangisnya. Sesekali dia menghapus air mata sambil menggendong anaknya yang baru berusia 1,5 bulan itu. Emosinya tak terkendali, perawat tim medis pun meminta bayi tersebut untuk dirawat sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini bayi piatu itu dirawat oleh tim medis di posko satuan pelaksana (satlak) di Gereja Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP) Sisarahili, Kecamatan Mandrehe. Anak yang masih membutuhkan air susu ibu itu hanya diberi susu instan. Pos satlak yang diselimuti kesedihan dan air mata itu pun sempat hening. Keselamatan bayi dari bencana tsunami saat suasana Natal itu menjadi perhatian para pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Keselamatan bayi ini, keajaiban Tuhan,'' kata Silpati yang ditinggal istrinya, Nuraini Halawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban serupa dirasakan keluarga Bajatulo Gulo, 40. Bajatulo bersama istri dan enam anaknya tinggal di Desa Sisarahili, Kecamatan Mandrehe. Dia bersama keluarganya selamat dari bencana tsunami berkat seutas tali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bajatulo bersama keluarganya saksi hidup dari bencana tsunami yang merobohkan ratusan rumah di Kecamatan Mandrehe. Dia menyaksikan bagaimana tsunami disertai suara gemuruh itu menerjang pada minggu (26/12) pukul 09.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saat kejadian, saya merasakan ada keajaiban. Sebelum gelombang tsunami menggulung pantai, saya mendengar suara gemuruh. Beberapa menit kemudian saya melihat gelombang besar. Melihat gelombang besar itu, saya membawa anak-anak dan istri ke lantai dua. Namun, air terus meninggi hingga nyaris mencapai lantai dua. Saya pun mengambil seutas tali dan mengikatkannya ke pohon kelapa setinggi sekitar tujuh meter persis di belakang rumah. Saya menarik anak dan istri satu per satu dengan tali untuk naik ke dahan pohon kelapa tersebut,'' kata Bajatulo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat seutas tali itulah, Bajatulo dan keluarganya selamat. Mereka bertahan di dahan pohon kelapa itu selama satu jam. Mereka menyaksikan betapa dahsyatnya gelombang tsunami merobohkan rumah mereka hingga rata dengan tanah dan terseret sejauh tiga meter dari posisi fondasi rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ini benar-benar mukjizat Tuhan. Ketika kejadian, saya tenang dan seperti dituntun untuk menyelamatkan istri dan anak-anak,'' katanya dengan terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pandangan nanar, Bajatulo melihat rumah-rumah dan gereja dihantam gelombang tsunami. Di sekitar rumahnya belasan rumah roboh dan Gereja ONKP Marooyo nyaris roboh. Pohon karet, kelapa, dan sagu yang mendominasi ladang di sekitar lokasi juga banyak yang roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bagaimana, pohon-pohon sudah pastilah roboh. Soalnya, gelombang tsunami begitu dahsyat. Apalagi gelombang besarnya terjadi sebanyak enam kali,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Tim Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsian (PBP) terus melakukan penanganan. Tim SAR juga terus mencari para korban sepanjang hari kemarin. Mereka menemukan tujuh mayat anak-anak di rawa-rawa dan perkebunan karet, sekitar 1 km dari garis pantai. Sebelumnya di desa yang sama 17 mayat sudah ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jadi, sudah 14 mayat korban yang ditemukan di Desa Sisarahili ini,'' kata Lettu E Peranginangin, Perwira Seksi (Pasi) Operasi Kodim Nias kepada Media di lokasi pencarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah korban yang umumnya beragama Katolik itu telah dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Seluruhnya sudah dikuburkan di sini,'' kata Pastor Matheus OFC sambil menunjuk kuburan para korban usai melaksanakan upacara penguburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian mayat korban masih terus dilakukan. Jumlah korban yang ditemukan di Kabupaten Nias yang dicatat posko utama Satlak PBP Kabupaten Nias sebanyak 66 mayat dan 57 orang lagi hilang dan sedang dalam pencarian. (Kennorton Hutasoit/X-8)&lt;br /&gt;Media Indonesia&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110546800615844028?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110546800615844028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110546800615844028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110546800615844028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110546800615844028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/ada-keajaiban-di-tengah-prahara.html' title='Ada Keajaiban di Tengah Prahara'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110546415209587010</id><published>2005-01-11T09:20:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:43:43.153-07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Lolos Dari Terjangan Gelombang Tsunami</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Perjuangan Lolos Dari Terjangan Gelombang Tsunami&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Madu, Dikejar Stunami, Lari ke Bukit&lt;br /&gt;Gelombang tsunami begitu dahsyat. Rumah dan pohon bertumbangan. Sepasang pengantin muda menjadi saksi ganasnya "monster" yang bernama tsunami itu. Bagaimana mereka bisa menyalamatkan diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Sasongko, Banda Aceh&lt;br /&gt;Kelelahan terlihat jelas di wajah Azmi Fajri Usman, warga Batoh, Kec Leungbata Banda Aceh. Meski lelah, pria 25 tahun tersebut pantas bersyukur. Dia dan istrinya terhindar dari maut ketika terjadi gelombang tsunami yang mengubur ribuan warga Acen dan Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gelombang tsunami datang, Azmi sedang berada di Pantai Lokhnga. Saat itu, dia sedang berbulan madu dengan dengan Ainil Mastura, istri tercintanya, yang baru tiga bulan dinikahi. Azmi menikahi mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala itu pada 19 September 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya benar-benar bersyukur bisa selamat dari musibah ini," kata anggota DPRD Banda Aceh dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lantas menceritakan pengalaman dahsyatnya itu. Azmi tiba di Pantai Lhoknga pada Ahad pagi pukul 07.45. "Saya berangkat dari rumah berboncengan motor," ujar lelaki berkacamata tebal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di pantai indah tersebut, Azmi bermain bersama istrinya. Dia langsung merasakan gempa yang terjadi pukul 07.58 itu. Akibat gempa dahsyat berskala 8,9 skala richter tersebut, sepedanya ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam mulai mengalami perubahan. Gelombang terasa mulai pasang. Namun, Azmi belum menyadari bakal ada gelombang bernama tsunami itu. Bersama istri tercintanya, dia tetap bermain di air. Mereka masih berada di bibir pantai sekitar 20 menit. Sejurus kemudian istrinya melihat sesuatu yang aneh. "Bang itu ada buih kecil bergerak jauh," kata Azmi menirukan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ, belum dia menyadari ancaman akan datangnya gelombang tsunami tersebut. Baru ketika gelombang besar mulai mendekat, dia terperangah. "Tingginya hampir setinggi pohon kelapa," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat, dia keluar dari laut. Azmi langsung menyambar istrinya, menuju motor yang diparkir di bibir pantai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, dia langsung menstarter motornya. Tujuannya ke atas bukit Glemadad yang hanya berjarak ratusan meter dari pantai itu. Dia berpacu dengan kejaran tsunami. "Saya sikit (hampir saja) lagi kena. Kereta (motor) saya sikit kena," kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas bukit dia menyaksikan ganasnya ?monster? yang bernama tsunami itu. Dia melihat bagaimana dahsyatnya luapan air laut yang telah melenyapkan penduduk satu desa di situ. "Saya juga melihat puluhan tentara tersapu ombak," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas bukit Azmi dan istrinya hanya bisa berdoa. Mereka tiada henti meminta pertolongan kepada Yang Mahakuasa agar selamat dari marabahaya. "Beberapa wisatawan juga menyelamatkan diri ke bukit. Saya melihat beberapa turis asing," ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerak tsunami yang ganas itu dari detik ke detik mereka saksikan. Sesaat kemudian, air mulai surut. Ketika itu terpampanglah pemandangan mengerikan. Mayat-mayat bergelimpangan di sekitar pantai berpasir putih itu. Ada yang tersangkut di pohon. Ada juga yang mengapung di air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya menggambarkan itu seperti kota mati. Banyak sekali jenazah bergeletakan di pantai tersebut," ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa berpenduduk 500 jiwa di pantai itu mungkin yang selamat tak lebih dari 50 orang. Karena jalan raya juga rusak parah, Azmi memutuskan meninggalkan motornya. Pukul 14.00 dia berjalan kaki menuju Banda Aceh. Situasi makin sulit karena makanan habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengisi perut dia mengetuk pintu rumah-rumah penduduk yang dilewatinya. Dia berjalan hampir tanpa istirahat. "Ya, pokoknya kalau lelah, kami istirahat sebentar. Jumpa air minum sikit-sikit (sedikit-sedikit)," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai Banda Aceh, dia harus berjalan kaki sepuluh jam. Jarak pantai itu dengan Banda Aceh sekitar 14 kilometer arah barat daya. Tetapi, karena tenaganya sudah terkuras serta jalan yang penuh rintangan, Azmi dan istrinya menempuh jarak tersebut begitu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Banda Aceh Azmi menemui rombongan Jusuf Kalla. Dia meminta Wapres memperhatikan nasib belasan orang yang tertahan di gunung yang kehabisan makanan. "Masih banyak yang bertahan di gunung. Mereka kesulitan turun karena semua jalan rusak parah," ujarnya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa Pos&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110546415209587010?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110546415209587010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110546415209587010' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110546415209587010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110546415209587010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/perjuangan-lolos-dari-terjangan.html' title='Perjuangan Lolos Dari Terjangan Gelombang Tsunami'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110546390472189150</id><published>2005-01-11T09:16:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:45:01.366-07:00</updated><title type='text'>Evi Tersangkut di Atas Pohon Setinggi Tujuh Meter</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Evi Tersangkut di Atas Pohon Setinggi Tujuh Meter&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GANASNYA gulungan ombak akibat bencana tsunami yang melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) masih membekas jelas dalam ingatan Evi Maulina bin Muhammad Nasir. Gadis berusia 17 tahun ini termasuk salah satu korban yang selamat dari amukan gelombang dan gempa provinsi yang terus bergolak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, untuk memulihkan fisik dan psikisnya, gadis malang tersebut sedang dirawat di Puskesmas Bhaktiya, Aceh Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditemui Detikcom, kemarin, Evi jelas masih trauma. Air mata terus mengalir di kedua belah pipinya. Sesekali dia terlihat menjerit-jerit histeris, sambil memanggil-manggil nama Fauziah, ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, akibat bencana yang disebut-sebut terbesar dalam 40 tahun itu, Evi kehilangan ibunda tercinta. Jenazah sang ibu yang sempat terseret gelombang air bah yang datang tiba-tiba, sudah ditemukan bersama ribuan jenazah korban bencana lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Evi dibawa ke sini dalam keadaan tidak sadar. Dia baru sadar pukul 13.00 WIB tadi (kemarin). Begitu tahu ibunya meninggal, dia tampak trauma," ungkap Aliuddin, 42, paman Evi, yang menemani sang keponakan selama dalam perawatan di puskesmas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersangkut di pohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliuddin bercerita, keponakannya itu ditemukan warga tersangkut di sebuah pohon setinggi tujuh meter. Setelah dievakuasi warga sekitar pukul 13.00 WIB, Minggu (26/12), Evi kemudian dilarikan ke puskesmas untuk menjalani perawatan. Saat gelombang air pasang menggulung, Evi terhanyut terbawa ombak sejauh sekitar 500 meter dari rumahnya, sampai akhirnya tersangkut di pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan malang ini adalah penduduk Desa Matang Penteung, Kecamatan Seneudoung, Aceh Utara, Provinsi NAD. Dari cerita Aliuddin itulah diketahui, rupanya saat kejadian, Evi dan ibunya, Fauziah berada di rumahnya. Ketika itulah, kata dia, musibah tersebut datang secara tiba-tiba. Tanpa diketahui sebelumnya, air bah langsung menerjang sampai setinggi sekitar 10 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu gelombang air bah datang, Evi dan ibunya terpisah. Dengan sisa tenaga yang ada, Evi sempat berenang mencoba untuk menyelamatkan ibunya yang sedang kepayahan terseret ombak, tetapi upayanya tidak berhasil. Evi malah tergulung amukan ombak yang ganas itu, sementara ibunya makin lama makin hilang dalam pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evi ditemukan warga sekitar pukul 13.00 WIB dalam keadaan tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya seperti membeku, kedinginan, dan dalam keadaan sangat lemah. Melihat waktu ditemukannya, diperkirakan Evi sempat berada di pohon sekitar lima jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat siuman dalam perawatan di puskesmas, Evi mengeluhkan bagian kepalanya yang sakit. Aliuddin bersama beberapa perawat mencoba menenangkannya.&lt;br /&gt;(J-1)media indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110546390472189150?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110546390472189150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110546390472189150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110546390472189150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110546390472189150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/evi-tersangkut-di-atas-pohon-setinggi.html' title='Evi Tersangkut di Atas Pohon Setinggi Tujuh Meter'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110545176872183114</id><published>2005-01-11T05:54:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:47:03.656-07:00</updated><title type='text'>Warga Aceh Terapung di Lautan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Warga Aceh Terapung di Lautan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur: Seorang warga Aceh Jaya, korban gelombang tsunami 26 Desember 2004, ditemukan dalam keadaan hidup. Dia bernama Ari Afrizal, 22 tahun, asal Desa Kabong, Krueng, Aceh Jaya. Ari ditemukan kapal berbendera Oman, Al-Yamamah di Pulau Nicoba di Lautan Hindia, Senin (10/1) kemarin. Demikian informasi yang diperoleh Tempo dari Kepala Bidang Penerangan Kedutaan RI di Kuala Lumpur Budhi Rahardjo, Selasa (11/1) siang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Budhi Rahardjo, Bidang Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menerima telepon dari seorang wartawan Malaysia yang menginformasikan ada seorang warga Indonesia asal Aceh ditemukan oleh kapal kontainer milik negara Oman, Al-Yamamah. Kapal tersebut --setelah menemukan warga Aceh-- merapat di Pelabuhan Klang Barat, Selangor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar informasi itu, pihak kedutaan bergegas ke Pelabuhan Klang, untuk memastikan informasi tersebut. Sampai di Pelabuhan Klang, para diplomat langsung naik ke atas kapal dan bertemu dengan Ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ari, dia dihantam ombak besar ketika sedang bekerja membangun rumah di Aceh Jaya. Hari pertama, Ari hanya berusaha bertahan dengan berpegangan pada sebatang kayu. Baru pada hari kedua, dia merasa terbantu karena menemukan sampan tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal sampan tua itu lah, Ari bertahan di laut selama 14 hari. Selama tiga hari, Ari sempat makan kelapa tua yang terapung. Tapi setelah itu Ari tidak pernah makan apa-apa hingga dia ditemukan di lautan Hindia. "Tiap hari saya berdoa semoga panjang umur dan bisa ketemu keluarga," kata Ari seperti dikutip harian Kosmo, Malaysia, Selasa (11/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Ari menceritakan, setiap hari dia berpapasan dengan kapal tetapi tak satupun yang mengetahui keberadaan Ari. Baru ketika berpapasan dengan kapal Al-Yamamah, Ari berhasil memancing perhatian seorang kru kapal dengan melampaikan tangan dan berteriak minta tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari yakin, keluarganya di Aceh Jaya selamat dari bencana tsunami, karena mereka tinggal di dataran tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Bapaknya bekas sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Ari dirawat di Hospital Tengku Ampuan Rahimah kota Klang Selangor. Walaupun keadaan fisiknya tampak sehat, tapi Ari tetap mendapat perawatan yang memadai. "Kami khawatir dia mengalami trauma karena lama di dalam laut," kata Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara ini, Ari belum diizinkan bertemu siapa-siapa termasuk wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBRI juga akan mencoba menghubungi posko-posko di Aceh atau di Jakarta untuk mencari informasi tentang keluarga Ari dan mengabarkan keadaan Ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110545176872183114?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110545176872183114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110545176872183114' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110545176872183114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110545176872183114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/warga-aceh-terapung-di-lautan.html' title='Warga Aceh Terapung di Lautan'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110528086074989273</id><published>2005-01-09T06:26:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:50:36.516-07:00</updated><title type='text'>Kisah Dua Korban Tsunami yang Diselamatkan di Tengah Menipisnya Harapan Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Kisah Dua Korban Tsunami yang Diselamatkan di Tengah Menipisnya Harapan Hidup&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapung Lima Hari, Ditemukan Kapal Malaysia&lt;br /&gt;Di saat harapan ditemukan korban hidup menipis, peristiwa dua orang Aceh yang terselamatkan ini sangat menggugah. Melawati terlempar ke Samudera Hindia saat tsunami menggulung. Sedangkan Tengku Sofyan terjebak di bawah kapalnya yang terbalik selama sepekan. Inilah ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN mudah menyatakan seseorang sudah tewas. Keberuntungan yang memihak Melawati ini sungguh tak terbayangkan. Perempuan Aceh berusia 23 tahun ini terapung lima hari di Samudera Hindia setelah terseret tsunami. Jumat lalu dia ditemukan oleh kapal nelayan Malaysia dalam keadaan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawati ditemukan saat berada di perairan dekat Provinsi Aceh. Para kru kapal saat itu melihatnya tengah berpegangan pada batang pohon palem yang terbawa ombak. Perempuan yang sudah dalam kondisi payah itu pun segera diangkat ke kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diperiksa kru kapal, Melawati menderita luka cukup parah di kaki. Dia juga dalam kondisi lemah akibat tidak makan selama lima hari. Dia hanya minum air laut. Meski demikian, Melawati cukup sadar untuk menyebutkan identitas dirinya kepada kru kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kru di darat pun dikontak untuk menyiapkan pertolongan. "Kami sudah menyiapkan ambulans yang akan membawa korban ke rumah sakit," ujar Goi Kim Par, manajer MITP. "Korban akan diperiksa dan diobati sebelum ada tindakan lebih lanjut dari pemerintah Malaysia," lanjutnya. Melawati dan kru kapal tersebut tiba di Pelabuhan Tuna Internasional Malaysia (MITP) yang terletak di Batu Maung, Penang, Malaysia, Senin sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman cukup "aneh" juga dirasakan kapal tuna penyelamat Melawati ini. Kapal itu biasa beroperasi di perairan dalam Samudera Hindia. Berangkat melaut bulan lalu, kapal itu berada di tengah laut saat gempa 8,9 skala Richter yang disusul tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kru kapal, dampak tsunami tak begitu terasa. Mereka juga tak mengalami kerusakan. Buktinya, mereka bisa berlayar kembali ke Malaysia dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami sebenarnya juga memakan korban di Malaysia. Tercatat 68 orang tewas dan sebagian besar berasal dari Penang dan Kedah. Lebih dari 200 orang yang berada di wilayah pantai sebelah timur laut Malaysia itu terluka. Sekitar 7.000 orang juga dievakuasi dari wilayah yang berbatasan langsung dengan Sumatera dan Selat Malaka yang cukup sempit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban setelah tsunami juga dialami Tengku Sofyan. Nelayan berusia 24 tahun ini ditemukan masih hidup di bawah kapalnya yang terdampar dan terbalik di Pantai Lampulo, Banda Aceh. Saat ditemukan kemarin, kondisi pria ini dehidrasi berat dan luka-luka di badan, karena tidak makan minum selama sepekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan segera dilarikan ke rumah sakit di Banda Aceh. Dokter lalu memberinya infus. Dia perlu waktu untuk pemulihan. Setelah dirawat, Sofyan belum bisa bicara jelas. "Dia dalam kondisi sangat rawan, terutama mentalnya," kata dokter Irwan Azwar yang merawat pria ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saksi menyatakan, Sofyan sedang melaut ketika gempa dan tsunami pada 26 Desember pagi itu terjadi. Perahunya terlempar ke Pantai Lampulo dan di sanalah dia terjebak. Belum diketahui apa saja yang dialami Sofyan selama tujuh hari di bawah perahunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya para petugas sudah tidak punya harapan besar untuk menemukan korban hidup. Ketua Tim SAR Lamsar Sipahutar menyatakan, kemungkinan menemukan seseorang masih hidup di tengah reruntuhan tsunami kini sangat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangat kecil kans untuk menemukan korban hidup setelah lewat tujuh hari," katanya. "Kami berencana menghentikan operasi SAR. (Sebab) jika Anda hidup setelah gempa, Anda mungkin akan tewas karena tsunami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya juga ditemukan korban hidup di bawah reruntuhan. Ichsan Azmil meminta tolong di bawah rumah yang ambruk di Banda Aceh.(ap/afp/bernama)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110528086074989273?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110528086074989273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110528086074989273' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110528086074989273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110528086074989273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/kisah-dua-korban-tsunami-yang.html' title='Kisah Dua Korban Tsunami yang Diselamatkan di Tengah Menipisnya Harapan Hidup'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110527875412267620</id><published>2005-01-09T05:51:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:54:44.676-07:00</updated><title type='text'>Sekeluarga Selamat di Tengah Ganasnya Badai Tsunami</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Sekeluarga Selamat di Tengah Ganasnya Badai Tsunami&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami di Atap Masjid, Anak Istri Tertahan Pohon&lt;br /&gt;Banyak orang hilang di tengah badai tsunami. Tapi, keluarga yang satu ini masih utuh. Mereka sempat berpisah dua hari di pengungsian. Bagaimana cerita keajaiban selamatnya keluarga dengan dua anak tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainal Abidin, Banda Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan syukur tiada henti diucapkan Riyadi, 33. Bagaimana tidak. Tuhan masih mengizinkannya berkumpul dengan seluruh keluarganya. Istri dan kedua anaknya juga berhasil lolos dari maut dalam gulungan ombak ganas yang telah meluluhlantakkan Banda Aceh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Erlinda, 27, sang istri, terlihat duduk berdekatan dengan kedua putrinya. Ria Yulianti, 8, dan Desriyanti, 7, tak henti-henti dipeluk serta diciuminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Minggu nahas tersebut, sekitar pukul 06.30, Riyadi pergi ke tempat kerjanya, tepatnya di Apotek Asia, Jl Muhammad Djam, Banda Aceh. Sedangkan istri dan kedua anaknya tinggal di rumah di Perumahan BTN Ajun, Lorong Nusa Indah 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat sedang bersiap-siap membuka apotek, tiba-tiba gempa terjadi," katanya kepada koran ini saat ditemui di pengungsian Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guncangan yang sangat keras membuat dirinya sempat jatuh karena tidak kuasa berdiri. "Saya melihat, di luar, semua orang lari keluar," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar lima menit, gempa itu berhenti. Riyadi yang masih shock bersama puluhan warga di sekitar tempat tersebut hanya bisa terpaku. "Yang benar-benar di luar perkiraan saya, orang-orang tiba-tiba berhamburan lagi. Mereka berteriak, Air bah datang? air datang’," ujarnya sambil menghela napas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ratusan warga yang dikejutkan oleh datangnya air bah secara tiba-tiba tersebut, Riyadi langsung berlari. Usahanya pun sia-sia. Gulungan ombak berketinggian sekitar lima meter langsung menerkamnya. "Saya dibawa arus. Alhamdulillah, saya berhasil meraih pagar di Masjid Baiturrahman," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sisa-sisa tenaga, dia berhasil memanjat atap bangunan yang hingga kini masih terlihat kukuh di tengah Kota Banda Aceh tersebut. Tapi, bajunya sudah terkoyak. Badannya menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih setengah jam, dia dan puluhan warga bertahan di atap Baiturrahman. Dia menyaksikan mayat-mayat yang hanyut di bawa badai tsunami itu. Begitu air mereda, dia menyaksikan pemandangan yang amat memilukan. Banyak mayat-mayat berserakan di antara puing-puing yang terbawa arus. "Begitu air menyusut, yang ada di pikiran saya hanya istri dan anak-anak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riyadi langsung turun dari atap masjid. Di tengah air yang setinggi lutut itu, dia berusaha menggapai rumahnya yang berjarak tujuh kilometer dari Baiturrahman. Tidak mudah mencapai kampung halamannya tersebut. Dia menorobos belantara mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepanjang perjalanan itu, saya melihat mayat-mayat terapung dan sebagian tertimbun puing-puing," ujarnya sambil meneteskan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahnya hancur. Perumahan tempat tinggalnya berubah menjadi lapangan luas. Pemandangan tersebut membuatnya shock. Yang membuatnya terpukul adalah berpisah dengan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana Erlinda dan kedua anaknya ? Pada saat monster tsunami itu datang, Erlinda dan kedua anaknya sempat terseret air bah. "Seluruh lorong (jalan) tersapu habis. Saya dan anak-anak berlari menuju tempat lebih tinggi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, dia bertemu dengan warga yang mengendarai sebuah mobil pikap. Tanpa pikir panjang, Erlinda -yang telah menikah dengan Riyadi selama sepuluh tahun itu- langsung melemparkan kedua putrinya ke dalam bak mobil tersebut. "Saya pun harus berebut dengan orang-orang biar bisa naik," tuturnya sambil menyeka air mata yang tiba-tiba meleleh di pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa naik ke pikap tersebut, benar-benar dibutuhkan perjuangan luar biasa. Sejumlah orang yang gagal naik terseret banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil yang membawanya itu dikejar tsunami. Tanpa diduga, mesin mobil tiba-tiba mati. "Ada sepuluh orang di atas mobil. Kami lalu terseret arus," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah pasrah, hanya bisa menyebut asma Tuhan. Sebab, banyak mobil-mobil di sekitar kami berpusing-pusing (terguling-guling) dibawa ombak," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah doanya itu, tiba-tiba mobil yang ditumpanginya tersangkut di pohon besar di pinggir Jl Raya Meulaboh-Banda Aceh. "Saya tersangkut di batang pohon itu sampai air benar-benar surut," katanya. Setelah air surut, Erlinda dan kedua anaknya bersama ribuan pengungsi lain menuju ke daerah Keutapang, tepatnya di Desa Geu Gajah, yang tidak terkena dampak tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat pengungsian, hatianya kacau memikirkan nasib suaminya. Di situ, bersama kedua anaknya, dia bertahan hidup seadanya. "Di situlah saya bertemu dengan suami saya," tambahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan satu keluarga tersebut terjadi setelah Riyadi mencarinya selama dua hari. "Kata Bang Riyadi, dia tahu keberadaan saya dari tetangga yang ditemuinya di jalan," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini benar-benar pertolongan Tuhan. Saya hanya bersyukur dan bersyukur," ucapnya dengan bibir bergetar. Lantas, apakah mereka ingin tetap tinggal di Banda Aceh? Erlinda bermaksud kembali tinggal di tanah kelahirannya itu. "Bagaimanapun beratnya musibah yang saya alami, saya tetap ingin tinggal di sini" ujar perempuan asli Meulaboh itu. (Zainal Abidin)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110527875412267620?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110527875412267620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110527875412267620' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110527875412267620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110527875412267620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/sekeluarga-selamat-di-tengah-ganasnya.html' title='Sekeluarga Selamat di Tengah Ganasnya Badai Tsunami'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110527776455785486</id><published>2005-01-09T05:34:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T11:56:25.723-07:00</updated><title type='text'>2.000 Peserta 10 K Belum Ditemukan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;2.000 Peserta 10 K Belum Ditemukan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDA ACEH - Banyak cerita tragis saat "monster" bernama tsunami menggulung kota dan penghuni Banda Aceh. Pada Minggu kelam itu, digelar lomba gerak jalan 10 Kilometer (10 K) Aceh Open 2004 yang diikuti 2.000 peserta. Wali Kota Banda Aceh Syarif Abdul Latif yang sedianya membagikan piala untuk pemenang juga ikut hilang bersama ribuan peserta lomba tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firdaus, 52, pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora Provinsi NAD) yang juga salah seorang panitia 10 K tersebut, menjadi saksi ganasnya tsunami yang membuat ribuan peserta lomba itu lenyap. Dia juga merupakan orang terakhir yang berbincang dengan Syarif sebelum wali kota itu hilang dan hingga kini belum ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat petaka Minggu pagi tersebut, Firdaus bersama wali kota berbincang di Lapangan Blang Padang, tempat lomba lari itu digelar. Keduanya sedang berbincang santai sambil menunggu lomba berakhir. "Jarum jam saat itu menunjukkan pukul 08.20," jelas Firdaus kepada wartawan koran ini, Armydian Kurniawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar peserta lomba yang dimulai setengah jam sebelumnya tersebut sudah kembali memasuki lapangan setelah mengitari rute jalan-jalan utama di tengah kota. Beberapa di antaranya memang ada yang sengaja memotong kompas dan segera kembali ke lapangan ketika merasakan gempa yang sangat hebat sekitar sepuluh menit setelah mereka dilepas di garis start.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba rutin setahun sekali yang terbuka untuk masyarakat luas tersebut kali ini dimulai lebih awal dari jadwal. Seharusnya start dimulai tepat pukul 08.00. Namun, karena sudah banyak peserta yang berkumpul dan meminta segera diberangkatkan, lomba dimajukan 15 menit. Sehingga, sekitar 30 menit setelahnya, peserta yang benar-benar ikut rute sudah banyak yang tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan Firdaus dan wali kota tentang gempa yang baru terjadi terhenti begitu mereka mendengar suara gemuruh hebat di kejauhan dan melihat orang-orang berlarian kocar-kacir sambil berteriak penuh kepanikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, dari atas Paviliun Seulawah yang berjarak sekitar 100 meter arah barat dari tempat mereka berdiri, tampak air laut berwarna hitam pekat setinggi enam meter bergulung-gulung deras mendekat dengan sangat cepat seperti tangan-tangan besar yang siap menerkam. Angin yang sangat kencang disertai debu menerjang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firdaus sempat melihat jelas berbagai benda seperti lempengan seng, balok-balok kayu, bahkan sepeda motor beterbangan di atas gelombang. Ombak raksasa yang jatuh dan pecah di daratan mengeluarkan putaran asap yang membubung tinggi. Entah itu debu atau memang air laut yang panas bergolak. Air juga datang dari ujung Jalan Iskandar Muda, tepatnya dari belakang rumah dinas Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Endang Suwarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak segera pergi, air pasti akan mengurung. Mencium bahaya sudah di depan mata, spontan Firdaus menarik tangan wali kota untuk ikut berlari bersama dirinya menjauhi Lapangan Blang Padang. Keduanya berlari beriringan secepat-cepatnya ke arah simpang empat Taman Sari yang berjarak sekitar 400 meter dari lapangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firdaus sempat menoleh ke belakang. Dia melihat ratusan orang yang sedang berlarian di jalan dari arah Punge, Lam Paseh, hilang dalam sekejap ditelan gelombang air yang bergulung-gulung itu. Bapak tujuh anak tersebut ingat betul, jalanan yang dilaluinya saat berlari masih kering tanpa genangan sedikit pun. Sedangkan tak lebih dari 100 meter di belakangnya, air deras sudah melumat segala yang dilewati. Termasuk, jalanan yang beberapa detik sebelumnya dia lintasi untuk menjauh menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menengok ke samping, dia tidak melihat lagi Wali Kota Syarif Abdul Latif. Mungkin wali kota tertinggal di belakang. Situasi yang penuh kepanikan dan sangat menegangkan membuat dirinya tidak lagi berpikir untuk mencari sosok wali kota tersebut. Gemuruh air di belakangnya terdengar semakin besar dan mendekat. Firdaus pun berhasil mencapai simpang empat. Dia tidak berhenti dan dengan cepat memutuskan menuju pendapa gubernuran yang berjarak sekitar 500 meter dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firdaus pun berhasil mencapai Simpang Empat. Ayah crosser nasional Zulfikar itu tidak berhenti dan dengan cepat memutuskan untuk menuju pendapa gubernuran yang berjarak sekitar 500 meter dari situ. Genangan air dan lumpur ternyata sudah merendam halaman pendapa kira-kira setinggi lutut. Kemungkinan datang dari arah lain. Dia langsung naik ke bangunan yang paling tinggi bersama orang-orang yang juga sudah lebih dahulu mencapai tempat itu. Di sana mereka berdiam dan berdebar-debar menunggu apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syukurlah, ternyata air berhenti tepat di depan pendapa. Barangkali sudah terpecah menghantam ratusan bangunan lain sebelum tiba di sana. Hanya genangan air dan lumpur yang masih merembes pelan. Saya tidak terluka sedikit pun," ujar penduduk Ulee Kareng (3 km dari pusat Kota Banda Aceh) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu jam berada di pendapa, Firdaus yang baru setahun bertugas di Dispora NAD memutuskan untuk kembali ke Lapangan Balang Padang untuk menengok keadaan para peserta lomba. Ketika itu, air sudah surut. Di sepanjang jalan kondisi sudah porak-poranda. Tumpukan kayu, sampah, dan timbunan lumpur di mana-mana. Mobil saling bertumpuk. Mayat-mayat berserakan. Kondisinya sudah tak keruan. Banyak juga korban yang masih hidup dan ditolong beberapa orang yang juga berhasil selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kondisi jalan yang rusak berat dan penuh timbunan barang, Firdaus terpaksa merangkak ratusan meter untuk mencapai Blang Padang. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Saiful dan Nuruddin, dua temannya yang selamat, sama-sama panitia lomba lari dan gerak jalan. Tiba di lapangan, kondisinya sudah berbalik 180 derajat. Tidak ada lagi keramaian dan spanduk-spanduk acara. Tidak ditemukan lagi satu pun peserta lomba maupun panitia lainnya. Semuanya sudah rata dengan tanah, tertutup lumpur, dan tertimbun barang-barang yang diempaskan ombak tsunami. Hanya monumen pesawat pertama milik RI yang masih terpajang kukuh sebagai saksi bisu tragedi yang terjadi di lapangan di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di trotoar di bawah pesawat, ketiga orang itu melihat seorang ibu yang siap melahirkan ditunggui suaminya yang panik. Perempuan itu sudah telentang tak berdaya, penuh kotoran, dan menjerit-jerit kesakitan. Karena tak tahan membayangkan penderitaan si ibu, Firdaus berjalan mendekat dan dengan kemampuan seadanya membantu proses persalinan di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, ibu tadi dan bayi perempuannya berhasil diselamatkan. Spontan Firdaus membuka baju yang dikenakannya dan dibalutkan ke tubuh si bayi. Tidak berapa lama, datang bantuan. Ibu itu dan bayinya langsung dipindahkan ke ambulans. Sampai kemarin, saat ditemui koran ini ketika sedang merapikan gedung Dispora NAD bersama rekan-rekannya, Firdaus tidak tahu lagi kabar keluarga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dispora NAD Teuku Pribadi mengisahkan, dirinya yang mengibarkan bendera start sebagai tanda lomba dimulai. Ketika gempa hebat terjadi, semua yang beada di lapangan tiarap. Tak lama kemudian, Hotel Kuala Tripa dan Balai Gading yang berada di seberang lapangan ambruk dengan suara yang luar biasa kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Teuku Pribadi langsung berinisiatif mengecek kondisi asrama atlet binaan dan SMU Plus Olahraga di Kawasan Stadion Long Raya. Lokasinya sekitar 10 menit perjalanan dengan mobil. Jadi, saat musibah terjadi, Teuku Pribadi sudah berada di asrama. Untunglah, semua atlet binaan selamat karena sedang berada di luar gedung untuk sarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memperkirakan, saat tsunami menghantam lapangan Blang Padang dan menenggelamkan orang-orang yang berada di sana, masih cukup banyak peserta yang di tengah perjalanan. Paling tidak, mereka yang berada di lintasan Kampung Neuseu atau di Jalan Diponegoro depan Masjid Raya Baiturrahman. Dia menuturkan, dirinya pernah mendengar kabar ada peserta lomba yang naik ke atap-atap rumah maupun pohon-pohon asam di pinggir jalan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.jawapos.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110527776455785486?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110527776455785486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110527776455785486' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110527776455785486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110527776455785486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/2000-peserta-10-k-belum-ditemukan.html' title='2.000 Peserta 10 K Belum Ditemukan'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110527708143781414</id><published>2005-01-09T05:21:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T12:00:36.116-07:00</updated><title type='text'>Kisah Rizal yang Sebatang Kara dan...</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Kisah Rizal yang Sebatang Kara dan....&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Butiran Nasi di Tangannya, Lari dari Bah&lt;br /&gt;Terjangan tsunami membuat Rizal Azhar kehilangan orang tua dan semua adiknya. LSM Lost Children Operation datang menolongnya. Bagaimana dia bisa dipertemukan dengan pamannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Army Dian Kurniawan, Banda Aceh&lt;br /&gt;RIZAL Azhar langsung bangkit ketika adiknya, Wilda Rahmi, 12, membangunkannya pada Minggu pagi itu. Jam dinding dilihatnya sudah lewat pukul 08.00. Wilda mengajak sang kakak yang berusia 15 tahun tersebut makan pagi setelah mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, setelah salat subuh, Rizal berlari pagi bersama teman-teman sebayanya menuju kota. Tempat tinggalnya, Desa Lam Hasan, Kecamatan Peukan Bada, Banda Aceh, hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pusat kota. Tapi, pagi itu, Rizal memilih tidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bangun, dia belum sampai ke kamar mandi ketika rumahnya bergetar hebat. Barang-barang berjatuhan. Beberapa piring di meja makan jatuh dan pecah. Dinding rumahnya retak-retak. Kaca jendela dan pintu berantakan. Seisi rumah pun panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah seumur hidup dirinya merasakan gempa sekeras itu. Semua yang ada di rumah berlarian keluar. Sang ibu, Zuhrawati, memeluk kedua adiknya, Wilda dan Nurhaliza, 9, sambil merunduk menjauhi rumah. Ayahnya, Samida, sudah meninggal empat tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat saudaranya yang saat itu sedang berada di rumahnya pun kalut. Mereka juga berlari menuju jalan. Di sana sudah banyak tetangga yang bertiarap di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getaran kemudian mereda. Semua kembali ke dalam rumah. Sembari masih memperbincangkan hal yang sebenarnya terjadi, keluarga memulai sarapan pagi bersama sambil menonton televisi. Piring-piring dan gelas yang pecah serta barang yang berantakan sudah dibereskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal menikmati lauk dengan lahap. Dia tak jadi mandi. Saat sedang nikmat-nikmatnya bersantap, tiba-tiba di luar rumah terdengar suara orang berteriak, "Air! Air!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara gemuruh menyusul di belakangnya. Dari jendela yang sudah bolong, Rizal melihat banyak orang berlarian tak keruan sambil mengangkut barang-barang. Dia dan ibunya kembali keluar rumah diikuti si bungsu, Nurhaliza. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka sambil berlari dan menunjuk ke belakang mengabarkan bahwa air laut naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bilang sama semua, kita lari ke gunung!" teriak pemuka kampung. Pada saat menengok ke arah yang ditunjuk, Rizal melihat gumpalan hitam besar bergulung-gulung dengan cepat menuju ke arah mereka berdiri. Semuanya histeris dan berlari secepat-cepatnya tanpa menghiraukan barang-barang di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingat betul, beberapa butir nasi putih masih menempel di tangan saya saat saya mulai berlari," tutur remaja ini. Dia mencoba mencari ibu, adik-adik, serta saudara-saudaranya. Namun, orang-orang yang berkumpul bersamanya di meja makan lima menit lalu itu sudah tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar, dia mencari-cari. Tapi, pandangannya terhalang orang-orang yang berlarian semrawut. Rizal lantas memutuskan untuk terus berlari tanpa menengok lagi ke belakang. Yang terpikir saat itu hanya segera menjangkau daerah perbukitan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal tidak ingat lagi berapa cepat dan berapa lama dia berlari. Genangan air dan lumpur seakan susul-menyusul dengan langkahnya. Suara gemuruh dibarengi hantaman benda-benda keras semakin terdengar mendekat di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulu kuduknya sampai merinding. "Entah telinga saya yang tak normal atau apa. Seingat saya, waktu berlari itu, tidak terdengar lagi teriakan orang-orang. Selain suara yang sangat keras di belakang, selebihnya tidak ada suara," kisahnya sambil menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal mencapai bukit dengan kaki amat letih. Di sana, ternyata banyak orang yang berkumpul. Para lelaki seperti berteriak-teriak tak menentu sambil menunjuk-nunjuk ke bawah. Sementara itu, perempuannya kebanyakan menangis terisak-isak. Anak-anak menangis lebih keras. Suasana sangat kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat ke bawah. Jalan yang baru saja dilaluinya sudah dipenuhi air kira-kira setinggi dua setengah meter. Sudah tidak ada lagi gulungan ombak seperti yang dilihatnya sebelum berlari tadi. Sekarang, hanya air yang membawa dan seolah mempermainkan balok-balok kayu, mobil, dan mayat-mayat terapung-apung. Agak jauh di sana, rumah-rumah sudah terendam. Dia tak mengenali lagi di mana persisnya rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mata saya perih," kenangnya. Mungkin ingin menangis, tapi tak bisa. Keluarganya dicari ke sana ke mari. Mereka tak ada. Hanya beberapa kawan sepermainan dan orang tua teman yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah air surut, Rizal dan orang-orang sekampungnya memutuskan untuk turun ke kampung lagi. Sepanjang jalan pulang, dia terus menengok ke kanan-kiri dengan harapan, ada ibu, adik, atau saudara lainnya. Tapi, sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahnya juga sudah rata dengan tanah. "Semua habis. Rontok, Bang. Tak ada apa pun yang bisa diambil (diselamatkan) lagi," ujarnya. Rizal tampak tegar saat mengisahkan peristiwa mengerikan itu. Matanya tetap tajam saat menerawang dan membayangkan kejadian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sore, tetap tak ada kabar tentang keluarganya. Rizal akhirnya ikut mengungsi ke rumah saudara tetangganya di daerah kota. Di sana, kerabatnya itu bertemu dengan anggota tim relawan dari posko bantuan kemanusiaan Lost Children Operation (Operasi Anak Hilang) dari daerah Amaliah. Relawan tersebut masih orang Aceh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal pun difoto dan ditanyai hal ihwal keluarganya. Kemudian, foto dan keterangan tentang dirinya ditempel di sejumlah tempat umum di Banda Aceh. Saudara tetangganya menjadi pihak yang dikontak bila ada orang yang mengaku keluarga atau kerabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, upaya itu membuahkan hasil. Hari itu juga, pamannya menemukan dia. Relawan Lost Children Operation mengecek dan yakin bahwa yang datang memang benar paman Rizal, mereka pun dipertemukan. Kini, Rizal tinggal dengan keluarga sang paman yang rumahnya ada di pusat kota. Tak jauh dari posko Amaliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu tak lepas dari peran Ade Muhammad. Koordinator lapangan posko Amaliah tersebut mengungkapkan, mereka memilih cara yang berbeda untuk mempertemukan anak-anak yang telantar itu. Bukan sekadar menerima laporan kehilangan, mereka mengerahkan tim informan untuk mencari anak-anak sebatang kara ke kamp-kamp pengungsian atau desa-desa seputar Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertemu, anak itu difoto dan dicatat identitas yang diketahui, kemudian ditempel di kertas-kertas yang disebar ke beberapa sudut di dalam kota. Dengan demikian, orang yang merasa mengenal anak itu bisa dengan cepat menghubungi posko dan dipertemukan. Di antara 36 anak yang diumumkan terpisah dengan keluarganya hingga kemarin, baru dua yang bisa dipertemukan. Sebuah hasil yang cukup baik di tengah kesemrawutan pascagempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena segalanya terbatas, para relawan tidak mendapat uang saku. Hanya uang makan dan kadang-kadang uang rokok. Benar-benar sederhana," papar Ade. Posko Amaliah masih membutuhkan banyak relawan untuk bergabung dengan mereka dan bersama-sama berusaha mempertemukan anak-anak hilang dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, program Lost Children Operation merupakan bagian dari aid consortium yang melibatkan Jepang, AS, dan Australia. Tapi, entah kenapa distribusi dana bantuan belum sampai ke tangan mereka. Padahal, kata Ade, khusus untuk penanganan bencana Aceh ini, AS sudah mengucurkan dana USD 35 juta, sedangkan Jepang USD 0,5 miliar. "Tapi, getarannya tidak sampai pada kami," ujarnya sambil tergelak.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.jawapos.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110527708143781414?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110527708143781414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110527708143781414' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110527708143781414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110527708143781414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/kisah-rizal-yang-sebatang-kara-dan.html' title='Kisah Rizal yang Sebatang Kara dan...'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110527379549925689</id><published>2005-01-09T04:28:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T12:03:30.400-07:00</updated><title type='text'>Wartawan JP Masih Labil</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Wartawan JP Masih Labil&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDAN - Wartawan Jawa Pos Riznal Faisal, 37, saat ini dirawat di RS Herna, Medan. Kondisinya cukup memprihatinkan. Selain kornea mata yang mengalami kerusakan, paru-parunya bermasalah. Bedasarkan diagnosis, paru-parunya terlalu banyak kemasukan air laut. Selain itu, terdapat sejumlah luka di sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir dan air laut yang mempunyai kadar garam tinggi terlalu banyak masuk ke tubuh Riznal. Saat digulung tsunami, dia memang sempat hanyut empat kilometer dari rumahnya. Dia selamat setelah tersangkut pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paru-parunya terlalu banyak kemasukan air laut. Selain itu, Riznal susah mendengar karena gangguan di telinga," ujar dr Dwi Siahaan, dokter yang merawatnya, kepada wartawan koran ini Agus Wahyudi di RS Herna kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa Pos kini berupaya membawa Riznal ke Jakarta atau Surabaya agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Tapi, dia tetap bertahan dirawat di Medan. Wartawan yang dikenal bersahabat itu mengaku tidak mau meninggalkan Aceh terlalu jauh karena masih berharap bisa bertemu dengan istri dan anaknya yang hilang saat diterjang tsunami. "Selain itu, keluarga di Aceh tak mau jauh-jauh dengan Bang Riznal," kata Iskandar, salah seorang famili Riznal. Namun, Jawa Pos tak akan putus asa membawa Riznal ke Surabaya. Utusan Jawa Pos tetap berusaha membujuk Riznal agar bersedia diterbangkan ke rumah sakit terbaik di Surabaya. "Bang, saya di sini saja. Saya ingin bertemu keluarga saya," kata Riznal dengan terbata, sambil menggamit tangan Agus Wahyudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, psikis Riznal begitu terpukul. Maklum, selain kehilangan istri dan anak, keluarga adiknya juga hilang. Kampungnya, Desa Kaju, Aceh Besar, rata dengan tanah. Yang tertinggal hanya fondasi rumah beserta puing-puing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Direktur Jawa Pos Nany Wijaya, Riznal harus mendapatkan perawatan intensif di Surabaya. Sebab, di Surabaya ada alat canggih untuk membersihkan paru-paru dan lambung. "Demi masa depannya, Riznal tetap kita bujuk harus ke Surabaya atau Jakarta. Semua biaya ditanggung perusahaan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keluarga Riznal yang akan menemaninya di Surabaya juga akan kami tanggung," tambah Nany. (aw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.jawapos.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110527379549925689?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110527379549925689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110527379549925689' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110527379549925689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110527379549925689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/wartawan-jp-masih-labil.html' title='Wartawan JP Masih Labil'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110519029263057244</id><published>2005-01-08T05:16:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T12:05:10.720-07:00</updated><title type='text'>Diyakini Selamat Dalam Kotak Kulkas</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Diyakini Selamat Dalam Kotak Kulkas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lhokseumawe, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saiful Rona yakin putranya, M. Sabil Attaya, 2,5, selamat dari amukan gelombang tsunami yang menghantam keluarga mereka di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (26/12). Ketika gelombang tsunami datang setelah terjadi gempa bumi, Saiful Rona bersama istri, Mutia F. Djafar dan M. Sabil berada di luar rumah. "Tiba-tiba air datang, karena tidak dapat menghindar lagi saya hanya berusaha menyelamatkan Sabil," ujarnya kepada Waspada, Rabu (5/1).&lt;br /&gt;Ketika air semakin tinggi, sebuah kotak kulkas lewat di dekat Saiful. Yakin kotak tersebut sanggup menampung tubuh putranya, tanpa pikir panjang Saiful meletakkan Sabil dalam kotak tersebut dan hanyut bersama air. Namun, Saiful tidak sadarkan diri setelah dihantam bertubi-tubi oleh gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah air surut dan sadar dari pingsannya, Saiful mencari istri dan anaknya di antara tubuh-tubuh yang terbujur di sekitar lokasi. Istrinya selamat, namun putra kesayangan yang hanyut bersama kulkas sampai sekarang entah di mana keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia hanyut ke arah terminal bus antar provinsi di Seutui," akunya. Kepada warga yang mendapatkan anak itu diharapkan dapat menghubungi telepon (0645) 57346 dan (0645) 58740 atau ke alamat Saiful di Jl. Medan Banda Aceh Dusun I Sejahtera No.18 Tambon Baroh, Krueng Geukueh, Aceh Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi lain yang sempat dihimpun Waspada dari Karo Humas PT. PIM, Ir. H. T Fakhrulsyah, MM yang ikut pada penanggulangan bencana tsunami di Banda Aceh, menyebutkan nelayan Ulee Lheue pada hari kejadian menemukan seorang bocah dalam kotak kulkas yang terapung di laut bersama sejumlah korban lainnya. "Nelayan itu kemudian membawa anak itu bersama beberapa korban lainnya untuk diselamatkan," kata Fakhrulsyah menirukan cerita warga di Banda Aceh pada saat berlangsungnya evakuasi korban. (cdin/b14) (am)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110519029263057244?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110519029263057244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110519029263057244' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110519029263057244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110519029263057244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/diyakini-selamat-dalam-kotak-kulkas.html' title='Diyakini Selamat Dalam Kotak Kulkas'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110513475925689609</id><published>2005-01-07T13:51:00.000-08:00</published><updated>2005-09-21T12:07:32.143-07:00</updated><title type='text'>4 Anak Astiono belum ditemukan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;4 Anak Astiono belum ditemukan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENCANA Gempa dan Tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara menyebabkan banyak orangtua kehilangan anak-anaknya. Salah satunya adalah pasangan Astiono, 47 dan Nirmala,34, warga Desa Lamijami, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Keduanya kehilangan&lt;br /&gt;sekaligus empat anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mengingat kejadian itu saya sedih sekali, apalagi saya belum tahu apa mereka sudah meninggal atau belum," kata Astiono dan Nirmala, ketika ditemui Pos Kota ditempat penampungan pengungsi korban bencana Tsunami di kawasan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nirmala menuturkanm sebelum terjadi musibah, Minggu (26/12) lalu, dia bersama suami dan empat anaknya Rita Puspita,15, Dani Nopri Saputra,11, Dani Aprila Putri,15 dan Arda Septian,15, tengah bercengkrama di teras rumahnya. Ini biasa dilakukan oleh keluarga pensiunan PT Telkom tersebut, terutama pada hari libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika itu si bungsu Arda saya gendong," katanya. Tetapi pada pukul 08:30 suasana yang semula ceria berubah menjadi kalut ketika tiba-tiba muncul gelombang laut setinggi pohon kelapa yang menerjang desanya. Astiono dan Nurmala serta empat anaknya tak mampu lagi menyelamatkan diri dan terus terbawa arus air yang kian deras. Nasib baik masih menyertai Astioho dan Nurmala, ketika keduanya terombang-ambing gelomban air laut yang masuk desanya mereka melihat sebatang pohon besar dan sebuah kulkas yang terapung-apung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami saya ketika itu dengan cepat terus memegangi batang pohon itu sedangkan saya memegani kulkas, hingga air akhirnya surut sendiri," tuturnya sambil terus menangsi. Kalau saja Astiono dan Nurmala tak memiliki anak, apalagi sampai empat orang pasti menjadi orang yang gembira ditengah musibah dashyat itu, karena mampu menyelamatkan diri. Namun hati, jiwa dan pikirannya menjadi pedih ketika mengetahui anak-anaknya ternyata hilang ditelan gelombang tsunami. Apalagi jika mengingat si bungsu Ardan yang terlepas dari gendongannya. "Ya Allah kasihan benar anak-anak saya itu," kata sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha pencarian terus dilakukan, juga bersama korban lainnya yang hilang oleh pasukan TNI namun hingga sekarang belum juga ditemukan, sudah meninggal atau masih hidup. "saya berdoa agar anak-anak ketika ditemukan masih hidup," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poskota Online&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110513475925689609?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110513475925689609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110513475925689609' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110513475925689609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110513475925689609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/4-anak-astiono-belum-ditemukan.html' title='4 Anak Astiono belum ditemukan'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110504423186824436</id><published>2005-01-06T13:40:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:26:32.116-07:00</updated><title type='text'>Derita Wahyuni Sebelum Ajal Menjemput</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ffcc00;"&gt;&lt;strong&gt;Derita Wahyuni Sebelum Ajal Menjemput&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya Tiba-Tiba Mengeluarkan Cacing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUBUH gadis cilik itu tampak tergolek pada sebuah tempat tidur di lorong poliklinik di Kecamatan Lamno, Aceh Jaya. Kelopak matanya terbuka sedikit, tetapi tatapan matanya tampak kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mulut gadis berusia 10 tahun itu tak henti-hentinya keluar busa berwarna putih kekuningan. Meski sudah diseka dengan tisu, buih itu muncul lagi. Wajahnya cantik, tubuhnya mungil. Tetapi, di tangan, kaki, dan lehernya tampak beberapa luka terbuka. Kulit tubuhnya mengeriput karena terbakar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyuni namanya. Dia tak bereaksi saat dipanggil. Tetapi, sesekali tampak air mata menetes ke pipinya. Seorang ibu tampak menemaninya, sambil sesekali menyeka mulutnya yang terus mengeluarkan busa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki yang ditunjuknya sedang menemui dokter relawan dari Partai Keadilan Sejahtera dan Global Rescue yang hari itu tiba dari Banda Aceh. Laki-laki itu, Ibrahim namanya, juga kehilangan istri dan anaknya yang ditelan ombak. Tetapi, dialah yang menemukan Wahyuni. "Sekarang saya hanya punya mamak dan Wahyuni ini," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bencana datang, Ibrahim tergulung ombak dan tak sadarkan diri. Begitu sadar, dia sudah berada di tepi sawah, sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Dia mencoba mencari anak dan istrinya, tetapi tidak satu pun berhasil dia temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar lima kilometer menjelang rumah orangtuanya di Lamno, dia menemukan seorang gadis kecil tergeletak di tepi hutan. Tennyata anak itu Wahyuni, keponakannya. "Saya gendong Wahyuni kemari dan saya serahkan ke dokter di poliklinik," ujar Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyuni tidak bereaksi apa-apa ketika dia digendong pamannya, Ibrahim, naik ke atas truk menuju lapangan bola di depan Kantor Koramil Namro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah empat hari tergeletak di poliklinik dengan perawatan seadanya, Wahyuni, serta 13 korban lain yang kondisinya parah dievakuasi ke Banda Aceh, 4 Januari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwira kesehatan TNI AD Mayor dr Malissa yang tiba tanggal 2 Januari langsung meminta korban yang terluka parah dievakuasi ke Banda Aceh untuk dirawat di RS Kesdam, satu dari dua rumah sakit yang tersisa di Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busa berwarna putih terus keluar dari mulut Wahyuni ketika dia dinaikkan ke atas helikopter Sea Hawk milik tentara AS yang datang untuk memberikan bantuan mi instan dan biskuit. Begitu tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Wahyuni langsung dilarikan ke RS Kesdam Banda Aceh ditemani relawan asal Universitas Atmajaya Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Wahyuni tiba-tiba mengeluarkan cacing, begitu dokter menyeka dan membuka mulutnya di rumah sakit. Seorang dokter dibantu beberapa relawan medis langsung menanganinya begitu Wahyuni dimasukkan ke unit gawat darurat. Cacing di perutnya sudah naik ke mulutnya, begitu kata tenaga medis yang menanganinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyuni terkena pnumonia parah. Paru-parunya kemasukan air laut dalam jumlah yang cukup banyak. "Air asin lebih membahayakan jika masuk ke dalam paru-paru. Apalagi jika da menelan air dan gelombang tsunami yang juga penuh pasir dan lumpur," ujar Muzal Kadim, dokter anak yang menjadi relawan dari Ikatan Dokter Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, takdir menentukan lain. Malam harinya, beberapa jam setelah dirawat, Wahyuni mengembuskan napas terakhir. Seperti banyak warga Aceh lainnya, Wahyuni hanya menambah panjang daftar korban bencana di Aceh yang terus berjatuhan.kcm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarmasin Post&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110504423186824436?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110504423186824436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110504423186824436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110504423186824436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110504423186824436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/derita-wahyuni-sebelum-ajal-menjemput.html' title='Derita Wahyuni Sebelum Ajal Menjemput'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110499342200797122</id><published>2005-01-05T22:34:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T22:17:47.566-07:00</updated><title type='text'>MAHARANI NYANGKUT DI TANGGA MESJID</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffcc66;"&gt;MAHARANI NYANGKUT DI TANGGA MESJID&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAHARANI, gadis kecil berusia 2 tahun 3bulan pagi itu baru saja lepas dari gendongan ibunya, Ny G.Pratiwi. Ia lalu bermain dengan pengasuhnya. Tertawa sambil berlari-lari dihalaman rumah.&lt;br /&gt;Namun keceriaannya pada Minggu pagi itu mendadak sirna. Tubuh kecil itu mendadak digulung ombak ketika bencana Tsunami menerjang kawasan Banda Aceh. Ayahnya Erwin dan ibunya yang tengah berada didalam rumah tentu saja terkejut. Sambil mencoba menyelamatkan diri, keduanya pun lantas berteriak memanggil-manggil Maharani. Dari kejauhan mereka melihat bagaimana sang ayah beserta pengasuhnya digulung ombak besar.Tubuhnya timbul tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru, ketika ombak mulai surut, Erwin mencari anaknya. Tanpa disangka tanpa diduga, anaknya nyangkut di tangga mesjid. Dalam kondisi masih hidup, meski seluruh tubuhnya dibalut lumpur. Demikian juga pengasuhnya. Keduanya masih hidup. Kebesaran Tuhan kembali diperlihatkan. Padahal orang-orang disekeliling mereka banyak yang tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maharani pun kemudian dibawa ke pos kesehatan terdekat. Dari situ lantas dirujuk ke Jakarta karena kondisinya yang lemah dan sesak nafasnya. "Infeksi saluran nafasnya sudah akut, makanya langsung dibawa ke Jakarta," tutur Erwin, warga Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulangkali Erwin dan Pratiwi menangisi kondisi anaknya. Perutnya membuncit dan kedua matanya hanya terbuka setengah. Sementara nafasnya tersengal-sengal. Tubuhnya nyaris tak bergerak. Hanya dadanya yang turun naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai peralatan menempel di tubuh si kecil. Mulai dari alat pacu jantung, alat bantu pernafasan hingga selang infus. Namun kondisinya belum juga membaik setelah tiga hari dirawat di ruang ICU rumah sakit Ibu dan Anak Harapan Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan Meuthia Farida Hatta, Erwin menjelaskan anaknya memang terlambat dibawa ke Jakarta. "Kami dibawa oleh sebuah LSM kesini. Entah nanti biayanya darimana," lanjut Erwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Maharani, di RSAB Harapan Kita masih ada tiga bayi lagi yang merupakan korban bencana Tsunami Aceh. Namun tiga bayi lainnya dalam kondisi baik. Sedang dua bayi sebelumnya yakni Desi dan Rohmat telah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poskota Online&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110499342200797122?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110499342200797122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110499342200797122' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110499342200797122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110499342200797122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/maharani-nyangkut-di-tangga-mesjid.html' title='MAHARANI NYANGKUT DI TANGGA MESJID'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110499308903540579</id><published>2005-01-05T22:30:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:37:18.176-07:00</updated><title type='text'>Tak Henti Mencari Keluarga yang Hilang</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ffff00;"&gt;Tak Henti Mencari Keluarga yang Hilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATANYA yang memerah tampak membengkak. Sedikit perih, sebetulnya, tetapi Hj Yusriyah (49) tak melepaskan pandangannya ke keramaian. Ia mencari-cari dan terus mencari-cari, tetapi tidak ada keluarga yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah kepedihan membayangkan keselamatan orang-orang yang dicintainya, ia terus berupaya. Ditahannya langkahnya untuk tetap berada di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. Ia terus memandang kerumunan. Ia menghempaskan tubuhnya jika merasa lelah, menyelonjorkan kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak enak rasanya meninggalkan daerah ini tanpa sanak dan keluarga. Saya sudah berusaha memandang sekeliling mencari mereka. Saya sudah tidak sanggup berjalan lagi. Batin dan tenaga ini rasa-rasanya sudah tidak sanggup lagi melihat kenyataan ini. Banyak keluarga yang belum ditemukan," ia mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu empat itu tinggal di Desa Blower, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Wilayah itu termasuk daerah yang warganya banyak terenggut nyawanya ketika gempa dan gelombang pasang tsunami melanda. "Kami sekeluarga termasuk dari keturunan nenek moyang yang banyak menunaikan ibadah haji di Mekkah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusriyah sepertinya tidak mampu menerima kenyataan itu. Ia menganggap Tuhan Yang Maha Esa telah murka kepadanya. "Tapi, mengapa kami yang sudah sering pergi ke Tanah Suci harus dapat menerima kenyataan pahit ini? Apa dosa-dosa kami?" ujarnya sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga anaknya, Hj Luidiyah (24), Yuliah (23), dan Dedi (16), kemudian memeluknya. Yusriyah pun tersadar, ucapan itu sebenarnya tidak pantas diutarakannya. "Tuhan ternyata telah menunjukkan kebesaranNya," ia pun mengucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusriyah mengaku kehilangan banyak keluarga. "Bila dihitung-hitung, jumlahnya lebih dari 100 orang, dari orangtua, kakak, adik, paman, dan keponakan-keponakan. Tidak ada lagi kebahagiaan selain mengingat masa-masa bersama mereka," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Meter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusriyah bersama anak-anaknya, Luidiyah, Yuliah, maupun Dedi, memang tak menyangka terluput dari amukan gelombang pasang yang berketinggian hingga 3 meter lebih. Saat itu, keempatnya berada di rumah. Sementara Dani, anaknya nomor tiga, sedang berada di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak disangka. Ombak itu begitu besar hingga menenggelamkan rumah. Gemuruh pun begitu kuat, dan kami semua lari sekuat tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada lagi pikiran saat kejadian. Semuanya kosong, sepertinya diri ini sudah tidak ada lagi. Kami bersyukur meski banyak keluarga yang hilang," Luidiyah menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak menyangka mereka bisa selamat. Padahal, kalau dipikir-pikir, saat berusaha menyelamatkan diri, hantaman ombak telah mencampakkan mereka semua. Selamat dari musibah, mereka sempat merasa kehilangan. Namun, kecemasan itu akhirnya terjawab. Mereka bertemu ibunya di tempat pengungsian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami bertemu ibu di tempat pengungsian, dekat bandara penerbangan," katanya lagi. Tapi, keluarga terdekat lainnya, seperti kakek, Agam Zumiran (100), nenek Umi Kalsum (98), Muhammad Syarif (57), H Zainuddin Abbas, Ikli Abbas, H Farian, Marida Abas, Salmi, Mutiah dan keluarga lainnya yang kesemuanya sudah menunaikan ibadah haji, juga lenyap disapu tsunami minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dirasakan Luidiyah, sama dengan yang dikhawatirkan Dedi. Dedi mengaku bisa selamat karena merasakan ada orang yang memegang tubuhnya, yang kemudian melemparkannya ke atas sebuah pohon yang tinggi dan besar. Ia beranggapan, tangan besar itu merupakan tangan malaikat utusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah gempa dan tsunami di NAD memang sungguh luar biasa. Masyarakat yang tinggal di kota maupun pelosok desa, tidak luput dari sasaran ombak besar. Kendati demikian, tidak sedikit pula yang diselamatkan. Semuanya tidak menyangka bisa selamat dari bencana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah berusaha berlari sekuat-kuatnya hingga ke atas gunung. Banyak orang yang juga ikut bersama saya menyelamatkan diri ke atas sana. Sesampai di atas, ombak besar justru menyambut kami semua. Saya tersangkut di atas pohon, sementara yang lainnya dibawa hanyut oleh ombak tadi," Zainuddin mengenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku banyak kehilangan keluarga. Ia juga berusaha mencari-cari keluarganya yang hilang, hingga kini. Namun, sampai hari ketujuh pascagempa dan tsunami itu, ia juga tidak menemukan Siti Rohiya dan dua anaknya. "Kami dipisahkan ombak besar itu," ujarnya, lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan pasrah, Zainuddin bersama pengungsi lainnya, termasuk Yusriyah, Luidiyah, Yuliah, Dedi, akhirnya berangkat dari Blang Bintang. Mereka berharap, nantinya dapat bertemu kembali keluarga tercinta setiba di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami merasakan keluarga tercinta masih ada. Kami berdoa dan bermohon agar mereka diselamatkan," mereka berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;PEMBARUAN/ARNOLD H SIANTURI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110499308903540579?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110499308903540579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110499308903540579' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110499308903540579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110499308903540579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/tak-henti-mencari-keluarga-yang-hilang_05.html' title='Tak Henti Mencari Keluarga yang Hilang'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110496728281188353</id><published>2005-01-05T15:19:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T22:16:16.756-07:00</updated><title type='text'>Si Kembar Selamat Dari Ombak 6 Meter</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ffff00;"&gt;Si Kembar Selamat Dari Ombak 6 Meter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAYI mungil itu tertawa lebar saat merasakan hangatnya gendongan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan. Senyumnya melebar menandakan kesehatannya telah pulih setelah luka-luka di sekujur tubuhnya mengering akibat hantaman gelombang tsunami, Minggu, 26 Desember lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagir pun dengan lembutnya kemudian mengusap-usap kepala bayi empat bulan yang selamat gara-gara terdampar di atap seng rumah orang yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah orangtuanya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang riang-riangnya, bayi di sebelah yang sedang digendong tantenya merengek minta digendong juga oleh Bagir. Dengan penuh kesabaran, mantan Guru Besar Unpad ini kemudian gantian menggendong bayi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua bayi itu tersebut adalah putri kembar Hakim Pengadilan Negeri Jantho, NAD, Teuku Syarafi yang selamat dari amukan tsunami. Bayi pertama yang digendong Bagir bernama Cut Ulfah Syarfa dan satunya lagi bernama Cut Ulfreda Syarfa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya dan istri serta anak kembar saya bisa selamat atas mukjizat Allah," ujar hakim yang tinggal di Perumnas Lingkee, Banda Aceh, yang jaraknya sekitar 2 km dari pantai tersebut. Sayangnya, anak pertamanya yang bernama Teuku Mohamamad Fadil Syarfa tewas diterjang tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarafi agak terhibur setelah menemukan salah satu foto anak tercintanya itu di balik timbunan sampah di rumahnya yang sudah hancur lebur. Foto bocah berusia lima tahun bertampang manis tersebut kemudian ditunjukkan ke Bagir Manan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini foto peninggalan terakhir untuk anak saya yang pertama. Jenazahnya sudah saya temukan dan sudah dimakamkan," ujar Syarafi dengan nada berat menahan kegetirannya. Bagir pun kemudian melihat-lihat foto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan Syarafi, sebelum gempa mengguncang Bumi Serambi Makkah, ia sekeluarga berada di rumah. Syarafi waktu itu berbenah rumah mumpung hari libur. Sedangkan istrinya, Vera Andriyana, menyuapi anak kembar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tanah yang diinjaknya bergetar, Syarafi beserta anak istrinya keluar rumah. Begitu gempa berakhir, ia sekeluarga masuk lagi mengecek apakah ada kerusakan di rumahnya. Ketika itulah, ia mendengar gemuruh suara ombak yang sangat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun lantas menarik istri dan menyambar salah satu anak kembarnya. Satu lagi anak kembarnya digendong oleh iparnya, Widya Astuti. Mereka semua lari dikejar air setinggi enam meter. Dalam usahanya menyelamatkan keluarga, Syarafi mendorong istrinya ke sebuah mobil yang waktu itu sudah penuh orang yang ingin menyelamatkan diri. Ditambah Vera, di mobil tersebut terdapat tujuh penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarafi pun lantas berlari. Sayang larinya tidak sekencang arus raksasa. Ia bersama Cut Ulfah disambar arus. Saking kerasnya, Cut Ulfah terlepas dari gendongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarafi terbentur tembok beton dan kayu yang terlempar bersama hempasan air. "Beruntung tidak ada yang mengenai kepala saya sehingga saya tetap sadar dan sekuat tenaga mencoba berenang," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 500 meter Syarafi terhempas gelombang. Beruntung matanya melihat sebuah atap rumah yang masih mampu bertahan dari amukan air. Dengan tenaga yang tersisa, tangan Syarafi memegang erat atap dan kemudian merangkak naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Cut Ulfah yang lepas dari gendongannya? Menurut Syarafi, seperti diayunkan Tuhan, bayi mungil selamat karena nyangkut di atap seng sebuah rumah. Ulfat dipungut orang yang waktu itu juga menyelamatkan diri di atap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara istrinya, Vera, setelah masuk mobil orang, tiba-tiba ombak besar menyapu mobil tersebut. Karena kuatnya ombak, mobil tersebut bisa terseret sejauh tiga kilometer. "Mobilnya terbolak-balik tidak karuan. Saya sudah berpikir akan mati," ujar Vera yang terluka kakinya akibat tergenjet badan mobil sehingga kini membusuk karena tidak ada obat untuk mengobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Cut Ulfreda, selamat digendong ipar Syarifa, Widya Astuti. Begitu melihat ada air, Widya berlari sekencang-kencangnya. Begitu melihat ada sebuah Masjid yang lantainya bertingkat, ia pun masuk dan lantas naik ke lantai dua. "Kalau masjidnya tidak bertingkat, saya tidak tahu nasib saya," lirihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat tsunami, Syarafi yang asli Banda Aceh harus kehilangan 16 keluarganya. Termasuk bapak, ibunya yang tinggalnya tidak jauh dari rumahnya. Dan kini, Syarafi pun tidak punya apa-apa lagi. Untuk bertahan hidup, Syarafi sekeluarga menumpang di rumah saudaranya yang berada di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. yulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Banjarmasin Post &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110496728281188353?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110496728281188353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110496728281188353' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110496728281188353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110496728281188353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/si-kembar-selamat-dari-ombak-6-meter.html' title='Si Kembar Selamat Dari Ombak 6 Meter'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110487822410500207</id><published>2005-01-04T14:05:00.001-08:00</published><updated>2005-09-26T22:14:04.016-07:00</updated><title type='text'>Putri, Anak Adopsi dari Aceh: "Mama Jangan Tinggalin Ade Ya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ffcc66;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Putri, Anak Adopsi dari Aceh: "Mama Jangan Tinggalin Ade Ya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KCM/Ahmad Zamroni&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;31 Desember 2004 .. suatu siang di tenda penampungan pengungsi di Blang Bintang, Banda Aceh. Seperti hari-hari lalu, banyak orang lalu lalang diantara barisan pengungsi yang tercerai berai dari keluarganya. Ada pejabat-pejabat yang menghibur dan membesarkan hati mereka. Juga relawan yang hilir mudik mengemasi sumbangan para penderma. Diantara kesibukan itu, suara tangis terdengar lamat-lamat. Seorang gadis kecil duduk di pojok tenda, berbaju tidur motif kembang. Wajahnya suram, air matanya mengalir bak sungai kecil. Kepalanya dililit perban, menutupi rambutnya yang pendek. Diantara tangisnya, berulang kali gadis itu menyebut "Papa … Mama" dan air matanya berurai deras lagi setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari memang tiba-tiba amat cepat bergulir bagi Putri. Sepuluh tahun masa lalunya di Lampasah, Banda Aceh, digulung ombak dalam waktu setengah jam, di sebuah hari menjelang pagi lima hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap saja, gadis kecil bermata bulat itu kehilangan semuanya. Rumah, boneka, empat saudara dan sepasang orang tua. Juga mal di Banda Aceh tempatnya makan ayam KFC jika akhir pekan bersama keluarganya, yang hancur diterjang gelombang tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada boneka banyak ..juga terbawa. mama dan papa juga," bisiknya lirih. Matanya menatap tayangan televisi. Minggu (2/1), ketika sebuah stasiun televisi menayangkan gambar Banda Aceh dengan hiruk pikuk terakhir, Youlanda Putri, justru sudah ribuan kilo jauh dari sana. Tangisannya di pengungsian, memilukan banyak orang yang mendengarnya. Beruntung, tiba-tiba seseorang mendekat, mengajaknya ikut terbang ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melihatnya nangis terus, saya tanya itu anak siapa. Katanya anak polisi juga, tapi sudah nggak ada semua. Entah gimana, saya merasa ada sesuatu disini dan lalu ingin membawanya," kata Didi Widayadi, menunjuk dadanya. Selama bertahun-tahun, ia dan Siti Aisyah, istrinya, berangan memiliki anak perempuan, setelah putra semata wayangnya, Endi, beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Siapa nyana, anak perempuan itu ‘disiapkan’ Tuhan bagi keluarga Didi, di pengungsian. Gadis kecil yang kurus dengan luka menganga di dahi sampai pangkal kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka itu justru baru diketahuinya ketika sudah membawa Putri ke Jakarta. Sabtu (1/1) malam ketika sampai di Jakarta, Didi curiga melihat cairan yang terus meleleh di dahi Putri. Meski anak adopsinya itu tak mengeluh, rasa penasaran membuatnya ingin tahu seperti apa luka di dahi Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika dibuka perbannya, lukanya begitu dalam. Ketika disana katanya sudah dijahit, jadi saya tenang. Nggak tahunya lukanya hanya disumpel kapas lalu diperban. Ketika kita buka, luka itu sudah busuk dan bau, nanahnya juga banyak sekali sampai habis tisue di kamar," urai Didi sembari menggeleng-gelengkan kepala. Putri juga nangis terus sambil menjerit-jerit "Papa, tolong Ade. Papa nggak sayang Ade. Papa nggak sayang Ade!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri pun dilarikan ke rumah sakit Soekanto, Kramat Jati Jakarta Timur. Hasil rontgen, Sabtu (2/1) siang memperlihatkan ada sebuah paku sepanjang 3 cm di pelipis kanan Putri. "Menurut ceritanya, ketika badai itu kepala Putri terhantam meja yang melaju deras digulung ombak. Mungkin paku dari situ yang masuk kepalanya," kata dr. Harry Sugiarto SpB, ahli bedah yang mengoperasi kepala dan kaki Putri di rumah sakit Soekanto Kramat Jati, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khawatir ada infeksi yang bisa menjalarlah yang membuat kepala Putri di rontgen. Ternyata, tengkorak kepalanya bagus, hanya dahi sampai pangkal kepala yang terluka parah. Beberapa jam setelah rontgen, meski resminya hari itu libur, diputuskan untuk mengoperasi kepala Putri, mengeluarkan paku di pelipis kanan dan menjahit luka menganga di dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;"Beberapa kali ada bayi di rumah sakit, gemuk, lucu. Anak saya bilang ’Ma, lucu bayinya. Adopsi aja.’ Tapi saya selalu bilang ‘Nggak ah, saya belum sreg,’" kenang Siti Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Jum’at (31/12) itu, ia merasa takdir menyiapkannya bertemu Putri, gadis yang selamat karena susah payah ‘menunggang’ bantal ketika gelombang air dahsyat hendak menggulungnya. Melihat gadis itu begitu ketakutan, menderita dan butuh perlindungan, hatinya luluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya nggak ada pikiran apa-apa lagi. Tahu-tahu hati kecil saya bilang ‘iya’ dan kami bulat membawa anak itu ke Jakarta," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu beberapa jam saja, ia merasa Putri bagai terlahir sebagai anak kandungnya. Setiap kali, tangan Putri seperti tak ingin lepas bertautan dengan tangan orang tua barunya. "Mama jangan tinggalin Ade ya," bisik Putri selalu. Beberapa kali, kalimat itu sempat membuat mata Siti Aisyah berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya, banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Sifat Putri yang keras kepala, rasa trauma yang dalam karena kehilangan keluarga asalnya, menjadi masalah yang kelak harus dihadapi pasangan ini terhadap anak adopsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi saya sudah ikhlas mengambilnya sebagai anak saya. Selama ini sama Endy, nggak pernah sekalipun saya nangis. Tapi pas liat dia (Putri) kesakitan, saya betul-betul sedih dan nangis," kata Didi. Apalagi ketika ia tanya apa yang bisa membuat Putri bahagia, gadis kecil itu menjawab "Aku ingin Mama dan Papaku. Mereka sudah ketemu belum?" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Meski dalam kondisi tertekan, Putri cenderung tenang untuk ukuran anak seusianya. Sepintas, kecepatannya beradaptasi di keluarga barunya seperti menjelaskan gadis kecil itu cukup cerdas.&lt;br /&gt;Syahdan, anak keempat dari lima bersaudara itu selalu ranking di sekolahnya di Lampasah, Banda Aceh. Ayahnya, Brigadir Sudirman, adalah anggota Intel Polda NAD. Ibunya, Juariah, lebih sering menemaninya main boneka di rumah. Kini, hanya kenangan yang hidup dalam dirinya, setelah kelaurganya hilang belum tentu rimbanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama pintar bikin asam manis. Ikan asam manis. Kita juga suka ke mal makan KFC (Kentucky Fried Chicken)," kata Putri sambil tersenyum kecil. Sesekali, tangannya sibuk berkonsentrasi memencet tombol-tombol handphone barunya. "Lagi sms-an sama kak Sasha," lanjutnya ketika ditanya asyik ngobrol sama siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, ketika rasa kehilangannya muncul, Putri yang semula pendiam berubah menjadi rewel dan keras kepala. Ia merengek-rengek minta boneka atau makanan kesukaannya. "Tapi setelah dibelikan, boneka itu cuma diliatin. Makanan juga cuma beberapa sendok lalu dia nggak mau lagi," keluh Siti Aisyah. Jika sudah begitu, yang bisa dilakukan hanya bersabar. Karena kini, cuma itu satu-satunya jalan. "Saya cuma ingin menolongnya. Semoga saya mampu menyekolahkannya sampai selesai," bisik Siti Aisyah, Senin (3/1) siang itu. Sesekali, ia mengintip Putri yang terbaring tenang dalam tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang harus sabar, ini menyangkut kondisi psikisnya juga. Untuk luka di kepalanya itu butuh waktu 1 bulan. Tapi operasi kosmetiknya lebih baik dilakukan nanti 6 bulan lagi setelah benar-benar pulih," ujar dr. Harry Sugiarto, ahli bedah yang menangani Putri. Pun demikian, garis luka di dahi Putri diyakini tak bisa hilang benar. Kalaupun bisa, hanya disamarkan dengan bedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging di ujung pergelangan kaki kiri Putri pun sebagian harus di buang karena sudah busuk. Pertumbuhan kulit barunya juga harus menunggu 1 sampai 2 bulan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;"Papa sayang Ade nggak?" kalimat pelan itu seperti memecah malam. Padahal saat itu, Minggu (2/1), Putri sedang nonton film kartun di televisi, sambil tangan kirinya memegang erat tangan kanan Didi Widayadi, papa barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang sekali dong. Ade ’kan anak Papa," Didi tersenyum, menyembunyikan rasa haru yang mulai terlihat di matanya. Diluar, malam mulai merayap tanpa suara. Setelah beberapa tamu datang menjenguk Ade, panggilan sayang Putri, gadis kecil itu tampak lelah. Makan malam dari rumah sakit hanya dicicipinya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asin. Nasinya lembek," keluhnya sambil menjauhkan mulutnya dari piring makannya. Sekilas, bibirnya cemberut. Lalu tersenyum lagi ketika disinggung umurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"11 tahun … mmm … 8 Mei nanti. Masih lama ya?" katanya sambil matanya sekilas menerawang. Mungkin ia sadar, ketika tiba saat yang empat bulan itu, umurnya bertambah dalam kesendirian. Tanpa Sudirman dan Juariah, orangtua sedarahnya. Tanpa empat saudara kandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Putri punya orang tua dan saudara-saudara baru, yang mungkin belum dimiliki anak-anak lain di tempat pengungsian Aceh, sampai saat ini. Ada boneka pink berbentuk tulang yang hangat menyangga kaki kirinya yang masih sakit dibelit perban. Juga kawanan boneka lain yang mulai berdatangan di kamar sejuknya di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Putri tidur mengapit tangan papa barunya. Ayah dan anak itu sama-sama baru mengakhiri penantian. Di tempat tidur yang hangat, tanpa takut kedinginan dan kehilangan perlindungan lagi, mata Putri beberapa kali mengerjap, lalu tidur lagi. Masa kecilnya masih bisa ditempuhnya dengan indah, segera setelah pulih lahir dan bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ribuan kilo dari sisinya, ribuan anak menanti nasib baik,di berbagai pelosok Aceh. Mereka pasti menanti suatu malam dimana mereka bisa tidur dalam pelukan hangat orang tua  orang tua yang tulus, yang membuat masa kecil mereka bisa berlanjut. Seperti Putri. (Lily Bertha Kartika)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110487822410500207?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110487822410500207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110487822410500207' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110487822410500207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110487822410500207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/putri-anak-adopsi-dari-aceh-mama.html' title='Putri, Anak Adopsi dari Aceh: &quot;Mama Jangan Tinggalin Ade Ya'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110487526475707799</id><published>2005-01-04T13:56:00.001-08:00</published><updated>2005-09-26T22:10:41.916-07:00</updated><title type='text'>Rintihan Ibu Pertiwi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ffcc33;"&gt;Rintihan Ibu Pertiwi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Ratna Megawangi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Meski ibu menderita kesakitan ketika melahirkan anak, janin mendobrak keluar dari penjaranya. Sebelum sang ibu merasakan kesakitan ketika melahirkan, anak tidak menemukan jalan untuk dilahirkan... Rasa sakit itu penting, sebab ia akan membuka jalan bagi si anak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaluddin Rumi, Mastnawi III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NTAH bagaimana saya mengutarakan perasaan hati yang begitu lelah menyaksikan bagaimana tragis dan mencekamnya akibat gempa dan badai tsunami di Aceh dan belahan dunia lainnya. Sepanjang hidup saya, mungkin juga sama dengan para pembaca lainnya, inilah pertama kali saya melihat begitu dahsyatnya sebuah bencana alam, dan merasakan bagaimana kepedihan yang dialami oleh mereka yang sedang dilanda musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suami saya (Menteri Komunikasi dan Informasi, Sofyan Djalil - Red) berangkat ke Aceh pada hari Minggu siang, yaitu beberapa jam setelah mendengar berita gempa di Aceh, kami tidak menyangka bahwa ada badai tsunami yang mahahebat telah terjadi, sehingga suami saya bilang bahwa ia mungkin akan segera kembali ke Jakarta pada malam harinya. Ternyata ia harus tinggal di sana sampai entah kapan, karena situasi yang begitu parah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sempat menyaksikan bagaimana porak- porandanya Kota Banda Aceh dengan mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana. Karena begitu sulitnya keadaan, ia merasa bersyukur ketika pada hari-hari pertama dapat makan nasi dengan kecap saja, karena belum tentu warga yang terkena musibah bisa memperoleh makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan setempat sempat lumpuh beberapa hari, karena semua pejabat dan aparatnya adalah korban, dan banyak dari mereka yang sibuk mencari suami, istri, anak, dan sanak saudaranya yang hilang. Inilah yang membuat suami saya tertahan di Aceh, karena segalanya begitu kacau dan memerlukan penanganan dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa mengerti mengapa suami saya bisa terlibat secara emosional sekarang, karena ia melihat secara langsung suasana yang mencekam, serta kepanikan dan jeritan tangis warga Aceh yang terkena musibah. Juga ketika Najwa Shihab dari Metro TV yang tidak dapat menutupi perasaannya ketika melaporkan apa yang dilihatnya di Aceh sambil menangis. Bagaimana tidak, kita pun yang menyaksikan hanya dari layar kaca TV saja, sudah begitu terpengaruh dan tersentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENTAH apa hikmah di balik itu semua, tetapi yang jelas bagi kita yang masih hidup telah diberikan momentum berharga untuk dapat merenungkan kembali betapa kecil dan tidak berdayanya manusia, serta betapa harta dan nyawa dapat hilang dalam waktu sekejap. Bagi kita yang menyaksikan dari jauh, kejadian ini dapat mengasah rasa empati dan kepedulian kita kepada mereka yang sedang terkena musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata cukup banyak masyarakat yang tersentuh jiwanya, sehingga banyak yang melontarkan pernyataan simpati belasungkawa, atau tergerak hatinya untuk memberikan bantuan materi. Ada juga beberapa pemuda dan mahasiswa yang ingin menjadi relawan ke Aceh, dan para selebriti yang rela berpanas-panas di bawah terik matahari untuk meminta sumbangan kepada para pengendara mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, ada sebuah harapan besar ketika menyaksikan ini semua, bahwa ternyata masih terlihat bagian sisi terang dari jiwa-jiwa manusia Indonesia, yang mungkin selama ini masih sering terselimut kabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA jadi teringat sajaknya Rumi di atas yang menggambarkan kelahiran jiwa baru dari dunia yang sesak dan gelap ke arah dunia yang lebih lapang dan terang, seperti ibaratnya proses kelahiran anak. Bumi Pertiwi memang sedang merintih dan menghentak-hentakkan tubuhnya, karena mungkin sedang mengingatkan jiwa-jiwa yang berkelana di muka bumi ini untuk keluar menuju kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya janin yang berkembang menuju kesempurnaan di dalam rahim ibu, manusia di bumi ini juga dapat berkembang menuju kesempurnaan jiwa, sehingga dapat terbebaskan dari dunia ini untuk menyatu dengan Yang Maha Sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa manusia mempunyai potensi baik dan buruk, seperti firman Tuhan, "Lalu Tuhan memperkenalkan kepada setiap jiwa keburukan dan kebaikannya" (QS 91:8). Menurut teks-teks Sufi, jiwa digambarkan memiliki berbagai kemungkinan, dan menurut Al Ghazali, kebanyakan bersifat negatif, yaitu kesombongan, tidak mau dikalahkan, senang akan pujian, curiga, dendam, kejam, iri hati, dan penipu. Sedangkan sifat yang positif adalah kerendah-hatian, kepedulian, cinta, dan sifat-sifat baik lainnya yang merupakan sifat Illahiah atau Kesucian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah saat terbaik bagi kita yang masih hidup untuk menyempurnakan jiwa kita, yaitu bagaimana menjadi manusia yang rendah hati, peduli, saling mengasihi dan menolong. Karena, seperti halnya janin di dalam rahim yang tidak berkembang secara sempurna, sehingga dilahirkan untuk tidak mendapatkan manfaat optimal dari kehidupan dunia, perkembangan jiwa juga bisa tidak sempurna, sehingga jiwa-jiwa yang cacat ini akan merana ketika mereka terpisah dari badan manusia, yaitu pada kehidupan akhirat kelak.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;SUNGGUH disayangkan ketika ada saja manusia yang masih terus mencari kambing hitam seraya melontarkan cacian dan makian, bahwa ini semua adalah kesalahan atau azab bagi para pemimpin. Kita semua mempunyai andil mengapa Ibu Pertiwi ini merana, dan marilah kita dengan rendah hati menerima bahwa ini adalah kesalahan kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa yang dikatakan oleh Jalaluddin Rumi dalan Matsnawi-nya: Selalu periksa keadaan batinmu/Menggunakan sang Raja (sifat Illahiah) di hatimu/Tembaga tidak pernah mengetahui dirinya tembaga, sebelum ia berubah menjadi emas/Cinta-kasihmu tidak akan mengenal Rajanya, sebelum ia menyadari ketidakberdayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah hentakan dan rintihan ibu pertiwi kali ini untuk mengingatkan kita bahwa jalan menuju kelahiran jiwa sudah terbuka. Cukuplah hembusan badai Ibu Pertiwi yang dapat menyapu kabut-kabut jiwa menjadi lebih terang. Mari kita songsong hari yang lebih cerah di tahun 2005. Selamat Tahun Baru! *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;suarapembaruan.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110487526475707799?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110487526475707799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110487526475707799' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110487526475707799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110487526475707799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/rintihan-ibu-pertiwi.html' title='Rintihan Ibu Pertiwi'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110482253284210387</id><published>2005-01-03T23:05:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T22:08:00.783-07:00</updated><title type='text'>Presiden Bush ke KBRI Washington DC Sampaikan Duka Cita</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;Presiden Bush ke KBRI Washington DC Sampaikan Duka Cita&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 04 Januari 2005 10:52 WIB&lt;br /&gt;NEW YORK--MIOL: Presiden AS George Walker Bush bersama dua pendahulunya, mantan presiden Bill Clinton dan George H Bush, Senin pagi berkunjung ke Kedutaan Besar RI di Washington DC, untuk menyampaikan duka cita atas tragedi tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Bush yang juga didampingi isterinya, Laura, juga mengisi buku duka cita yang disediakan KBRI Washington DC untuk penyampaian simpati atas bencana alam yang telah menelan korban hampir 100.000 warga Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pesan singkatnya, Presiden Bush mengatakan bahwa Pemerintah AS tetap dengan komitmen untuk membantu pemerintah dan rakyat Indonesia yang sedang mengalami kesusahan karena bencana alam yang sangat besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya akan terus untuk memastikan bantuan dari pemerintah kami," kata Bush.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bush menambahkan bahwa AS siap bekerjsa sama dengan pemerintah Indonesia untuk membantu orang-orang yang memerlukan makanan, pengobatan, air dan tempat berteduh, agar mereka dapat hidup normal kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sehingga Indonesia sebagai negara besar dapat bangkit dari tragedi ini dan dapat memberi harapan yang diperlukan rakyatnya di negeri itu," kata yang diterima Dubes RI untuk AS, Soemadi DM Brotodiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak terjadinya gempa bumi dan tsunami di sejumlah negara Asia Tenggara dan Selatan, pekan lalu, KBRI Washinton terus menerima penyampaian simpati dari berbagai kalangan di AS. Mereka datang ke kantor KBRI yang beralamat di 2020 Massachusetts Avenue, NW Washington DC tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka membawa karangan bunga dan berbagai bantuan untuk korban bencana di Aceh dan Sumut yang disalurkan melalui KBRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu Menlu AS Colin Powell juga datang langsung ke KBRI untuk menyampaikan simpati kepada pemerintah dan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya Presiden Bush juga mengumumkan bahwa ia telah menunjuk dua mantan Presiden, Bill Clinton dan ayahnya George H. Bush untuk memimpin penggalanan dana non-pemerintah bagi korban bencana alam yang telah merenggut hampir 150 ribu jiwa di sejumlah negara Asia dan Afrika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan menggalang dana dari indivial atau sektor swasta di AS, yang mungkin jumlahnya akan lebih besar dari sumbangan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah AS telah menjanjikan bantuan dana sebesar 350 juta dolar AS untuk korban tsunami, dan merupakan negara kedua terbesar setelah Jepang yang siap menyumbang sebesar 500 juta dolar AS. (Ant/O-1)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110482253284210387?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110482253284210387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110482253284210387' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110482253284210387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110482253284210387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/presiden-bush-ke-kbri-washington-dc.html' title='Presiden Bush ke KBRI Washington DC Sampaikan Duka Cita'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110476752211007010</id><published>2005-01-03T07:48:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T22:06:00.230-07:00</updated><title type='text'>Mobil Tenggelam, Saya Keluar dari Kaca Tengah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ffcc33;"&gt;&lt;strong&gt;Mobil Tenggelam, Saya Keluar dari Kaca Tengah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 03 Januari 2005  16:26 WIB&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Medan: Ribuan penduduk Nanggroe Aceh Darussalam mengungsi ke luar provinsi Serambi Mekkah ini. Kebanyakan diantara mereka mendarat di Bandara Polonia dan Bandara TNI-AU Kelapa Sawit, Polonia, Medan. Beberapa dari mereka sempat ditemui, wartawan Tempo, Bambang Soedjiartono dan Hambali Batubara sesaat setelah turun dari pesawat Hercules yang membawa mereka dari Banda Aceh. Berikut kesaksian korban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marlina (27 tahun), istri Bripka Dedi Purnama.&lt;br /&gt;Sang suami, sampai akhir pekan lalu belum ditemukan. Dia bersyukur putranya, Revan (5) bisa diketemukan Senin (27/12) malam setelah tragedi. Keluarga Dedi, tinggal kompleks asrama Brimob Polda Aceh, yang terletak di dekat pesisir pantai Banda Aceh. Mereka tinggal di kompleks ini sejak tahun 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu (26/12) pagi itu cuca cerah. Saya sedang memandikan anak saya satu-satunya Revan. Ketika itu suami saya sedang apel pagi di lapangan Brimob yang terletak sekitar 100 meter dari rumah. Waktu di kamar mandi, terjadi gempa. Saya sempat mengucapkan Allah Akbar. Terus berlari keluar rumah sambil menggedong anak saya. Ketika itu datang suami saya yang berhamburan dari apel pagi. Saya, suami saya berlarian kearah lapangan Brimob. Setelah gempa selesai, saya sempat kembali kerumah untuk mengambil pakaian anak saya yang waktu itu masih telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika baru saja keluar rumah, tetangga saya mengatakan rumahnya sudah roboh. Waktu ia mengendari vespanya sambil berteriak, lari, rumah saya roboh diterjang air. Saat itu saya rasakan gempa kembali sekitar 12 menit. Kemudian saya ditarik suami saya keluar rumah. Kemudian saya lihat rumah saya roboh diterjang air. Saya langsung ngomong dengan suami saya, lari bang, ada air. Kemudian suami saya menggandeng saya sambil mengedong anak saya masuk ke dalam mobil minibus yang terparkir di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang datang tingginya mencapai 10 meter menghempas mobil. Mobil tersebut terhempas-hempas dibawa air hingga mobil tersebut terbenam. Saya yang berada di dalam mobil yang tenggelam segera membuka pintu. Di situlah awal kami berpisah. Saya keluar dari kaca tengah, sementara suami saya berserta anak saya keluar dari pintu depan. Sebelum keluar mobil sempat terlempar dan terbentur balok kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa gelap waktu itu. .Saya sambil menahan napas, saya hanyut hingga menyangkut di pohon. Kemudian saya rangkul batang pohon tersebut. Waktu itu air terus menghantam badan saya.saya terus rangkul terus pohon tersebut. Saya lama sendiri di pohon itu. Surut air, saya ikutin air itu. Kemudian saya baru sadar, Ya Allah tinggi sekali pohon ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya yakini air sudah rendah, saya mulai berani turun. Waktu itu sudah sore hari. Waktu itu air sudah sepinggang saya. Ketika itu juga gempa masih sering terasa. Kemudian saya bergabung dengan pengugnsi lain di Bukit Tembak yang berada di kompleks rumah asrama. Bukit Tembak berada didataran yang lebih tinggi. Rumah saya dekat dengan pantai, paling 10 menit saja kalau jalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110476752211007010?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110476752211007010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110476752211007010' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110476752211007010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110476752211007010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/mobil-tenggelam-saya-keluar-dari-kaca.html' title='Mobil Tenggelam, Saya Keluar dari Kaca Tengah'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110476724268098929</id><published>2005-01-03T07:45:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T22:04:17.833-07:00</updated><title type='text'>Anak Saya Teriak Abi ? Abi, Air Sudah Datang</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;Anak Saya Teriak Abi ? Abi, Air Sudah Datang&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 03 Januari 2005&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta: Dr Husni (40), Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bersama dua orang anaknya, Husni selamat. Namun isteri dan seorang anaknya belum ditemukan. Anak bungsunya yang berumur satu tahun ditemukan tidak bernyawa lagi di dekat reruntuhan rumahnya. Dr Husni tinggal di kawasan Ajun, dua kilo meter dari pantai Krueng Raya, Banda Aceh. Berikut penuturannya kepada wartawan Tempo Bambang Soed dan Hambali di Bandara TNI-AU Kelapa Sawit, Polonia, Medan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa hari Minggu, saya di rumah. Tiba-tiba terjadi gempa dan saya sempat azan, namun gempa juga belum selesai. Anak-anak sempat mau buang air, lalu .saya bawa ke mesjid, karena tidak berani ke rumah takut roboh. Mesjid letaknya 100 meter dari rumah. Tiba-tiba datang gempa susulan. Bersama itu ada yang teriak banjir. Istri saya lari dengan kedua anak saya yang lain. Kedua anak yang saya bawa ini ada ditangan saya. Air membawa saya ke atas loteng.anak saya yang satu dibawa loteng. Anak saya berteriak abi ? abi. Namun air sudah diatas kami. Kami tenggelam waktu itu. Tiba-tiba ada yang menarik kami, tidak tau siapa. Kami akhirnya berada di lantai dua, sebuah bangunan yang baru dibangun didekat rumah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat itu, saya meliahat ada sebuah mobil yang terbawa air. Saya tahu itu mobil teman saya. Kemudian lambat laun mobil itu tenggelam dalam pandangan saya. Kita lihat semua sudah jadi laut. Waktu juga tetap terjadi gempa. Satu jam kemudian kami turun karena dirasa sudah aman. Di sana kami langsung ke jalan yang lebih tinggi. Disana lah saya dihatam kayu. Kemudian dari jalan ini kami menuju tempat pengungsian sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bingung.karena kata orang kumpul di mesjid. Sementara saya sudah punya dua anak. Dengan kaki pincang dan dua anak saya tentu susah mencari istri saya. Anak ini menjerit-jerit. Senin kemarin, saya bawa anak saya ke tempat saudara di Blangbintang. Tempat ini tidak parah terkena gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya titipkan anak saya, saya kembali ke rumah saya untuk melihat kondisi. Rumah saya rusak berat. Tidak jauh dari situ, saya temukan anak bungsu saya sudah menjadi mayat. Kemudian saya kuburkan di dekat rumah saudara saya di Blang Bintang.&lt;br /&gt;Keluarga saya di Aceh 100 orang dan yng pasti selamat 12 orang. Orang tua saya juga hilang.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;www.tempointeraktif.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110476724268098929?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110476724268098929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110476724268098929' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110476724268098929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110476724268098929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/anak-saya-teriak-abi-abi-air-sudah.html' title='Anak Saya Teriak Abi ? Abi, Air Sudah Datang'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110468366121112355</id><published>2005-01-02T08:30:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T22:00:48.846-07:00</updated><title type='text'>Adik Terlepas dari Genggaman</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ffcc33;"&gt;Adik Terlepas dari Genggaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 02 Jan 2005,&lt;br /&gt;KEYAKINAN akan menemukan keluarga pengganti dipegang oleh Anggun. Gadis 15 tahun asal Aceh, yang menjadi korban tsunami itu, naik Hercules begitu saja ke Medan. Padahal, gadis yang terluka tersebut tak punya keluarga di ibu kota Sumatera Utara itu. Ayah, ibu, dan tiga adiknya tak jelas di mana kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggun sepakat naik Hercules bersama tiga kawan sebayanya yang baru saja berkenalan dan membantunya, yaitu Betra, Tulus, dan Jurinata. Mereka bertemu di Posko Penampungan Rindam Matari, Banda Aceh, sesaat setelah keluarga mereka tercerai berai akibat tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman baru yang senasib itu sangat berarti bagi Anggun yang sebatang kara. Sebab, lukanya cukup serius. Sekujur tubuhnya dipenuhi goresan akibat terbentur aneka benda keras saat tubuhnya diseret arus. Mukanya juga penuh luka. Matanya memerah. Kawannya yang kondisinya lebih ringan membantu merawat luka Anggun dengan semampu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran sementara hidup keempat anak itu makin lengkap ketika seorang ibu iba melihat anak-anak pengungsi itu. Ibu Hamidah pun memboyong keempat anak itu ke rumahnya di Jalan Dodik 10 C, Kapling VII, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban Anggun pun sedikit lebih ringan kini, meski kondisi batinnya masih terpukul berat. "Alhamdulillah, saat ini kondisi saya sudah agak membaik," ujar Anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa kelas I SMU Negeri 1 Banda Aceh itu juga sudah bisa bercerita saat air bah mengubah arah hidupnya ke dalam ketidakpastian. Dia menuturkan, pada saat gempa, mereka sekeluarga berada di rumah, Kedah Muka, Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat gempa, sebenarnya ayah Anggun, Marlidon, sudah membawa keluarganya ke luar rumah. Namun, tak dinyana, kemudian air laut datang dan menghantam rumah-rumah, termasuk di kawasan yang tak jauh dari pantai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kepanikan, Anggun sempat meraih adiknya, Aido. Tetapi, karena arus yang menghantam itu begitu besar, akhirnya bocah enam tahun itu terlepas dan terseret arus. Hingga kini dia tak tahu kabar adik, ayah, dan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat diseret arus, Anggun tetap sadar. Dia berupaya sebisanya menyelamatkan diri di sela-sela kayu yang mengimpitnya. Hingga akhirnya, dia terseret sampai di Jembatan Surabaya, sekitar dua kilometer dari rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut terperosok ke kolong jembatan yang penuh dengan kayu dan benda tajam, dengan menahan rasa sakit, Anggun berenang ke pinggir. Dia berhasil mencapai tepi kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Anggun mencari rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Akhirnya dia menemukan Rumah Sakit Sakina, Banda Aceh. Lagi-lagi sial, di rumah sakit itu tak satu pun perawat dan dokter yang siap bertugas. Mereka semua ketakutan. Mereka mendapat kabar akan terjadi gempa susulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggun yang terluka itu pun berjalan lagi. Sampailah dia di Posko Rindam Matari. Di tempat penampungan korban gempa dan gelombang tsunami itu, Anggun bertemu dengan tiga remaja yang mengalami nasib serupa dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat, mereka menjalin persahabatan. Jurinata membersihkan luka Anggun yang semakin parah. Dengan susah payah, dia berusaha mencari obat-obatan untuk mengobati luka Anggun. Kondisi ketiga teman barunya itu memang lebih baik. Mereka tidak luka luar, hanya rasa pegal di seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena susahnya mencari obat dan bahan makanan, akhirnya keempat anak iu nekat pergi ke Medan. Walaupun di Medan mereka tidak memiliki sanak saudara. Dengan menumpang pesawat Hercules dari Bandara Blang Bintang, mereka terbang ke Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Bandara Polonia Medan, mereka tidak tahu hendak ke mana. Dengan memberanikan diri, mereka menyetop truk TNI. Lalu, keemat remaja itu pun naik ke truk tersebut hingga tiba di markas kodam, Jalan Medan Binjai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mereka mencari rumah sakit terdekat untuk merawat Anggun. Mereka menemukan rumah sakit. Dan, akhirnya mereka berempat dijadikan anak angkat Hamidah di Jalan Dodik No10 C, Pondok Kelapa, Medan. (dra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110468366121112355?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110468366121112355/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110468366121112355' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110468366121112355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110468366121112355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2005/01/adik-terlepas-dari-genggaman.html' title='Adik Terlepas dari Genggaman'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110443287186479200</id><published>2004-12-30T10:43:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T21:56:47.286-07:00</updated><title type='text'>Mereka yang Mengais Reruntuhan, Mencari Mayat Sanak Saudara</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ffcc33;"&gt;&lt;strong&gt;Mereka yang Mengais Reruntuhan, Mencari Mayat Sanak Saudara&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abaikan Bau Menyengat, Terus Bolak-balik Setiap Jasad&lt;br /&gt;Nasib ribuan orang belum jelas. Sangat mungkin lenyap ditelan tsunami. Mereka yang selamat tak kenal lelah mencari saudaranya yang keberadaannya tidak diketahui itu. Bagaimana mereka mencari sanak saudara di tengah ribuan mayat tak beridentitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DWI SASONGKO BANDA ACEH&lt;br /&gt;Rona kesedihan terpancar jelas pada wajah Erwin. Sambil terus berjalan menuju kamar mayat Rumah Sakit Kesehatan Kodam (RS Kesdam) Iskandar Muda Banda Aceh, pandangan lelaki berusia 45 tahun itu tampak kosong. Karyawan BRI Banda Aceh tersebut menggandeng seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika wartawan Koran ini menyapa, dia menyambutnya dengan sangat ramah. Namun, wajah sedihnya tak bisa disembunyikan. "Saya mau ke kamar mayat mencari keluarga saya," kata Erwin sambil menunjuk ke arah lorong jalan menuju kamar mayat RS milik TNI-AD tersebut. Ketika ditanya lebih jauh, dia tak bisa menyembunyikan rasa gundahnya. Dia berterus terang, kedatangannya ke kamar mayat untuk mencari enam anggota keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tanggung-tanggung, keenam orang yang sedang dicarinya itu adalah orang-orang yang sangat dekatnya. Mereka adalah istri tercinta, tiga anaknya, dan kedua mertuanya. "Semuanya telah hilang, Mas. Saya tidak tahu lagi mereka berada di mana. Kalau mereka telah meninggal, jenazahnya di mana," tutur Erwin sambil berus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, sambil menunduk, dia berhenti bicara. Dia berusaha menarik napas panjang sambil mengangkat wajahnya. Kedua matanya terlihat mulai berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya anak kecil yang bersamanya, dia mengaku bukan keluarganya. Anak kecil tersebut ditemukan sedang bingung di jalan mencari kedua orang tuanya. Karena itu, dia mengajak sekalian untuk bersama-sama mencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Kedah, Banda Aceh, itu mengungkapkan, secara fisik sudah penat mencari keberadaan keluarganya. Sebab, Minggu siang ketika gelombang tsunami mulai surut, Erwin sudah mengecek ke berbagai tempat tumpukan jenazah. "Saya sudah bolak-balik ke kamar mayat, ke masjid. Pokoknya, sudah banyak tempat yang saya datangi. Tapi, semuanya nihil," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua jenazah yang bergelimpangan di dekat reruntuhan rumahnya juga dia bolak balik. Diamati satu per satu. Bukan hanya itu, mayat-maya yang bergelimpangan di areal bekas kampungnya yang kini rata dengan tanah itu juga dibolak-balik. Bau jenazah yang mulai membusuk tidak mengurangi semangatnya mencari orang-orang dekatnya itu. Namun, sampai kemarin, Erwin belum menemukan satu pun di antara enam orang yang dicarinya itu. "Ya Tuhan, pertemukan saya dengan mereka," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erwin mengaku akan terus mencari keberadaan keluarganya. Lantara begitu bersemangat mencari anak, istri, dan mertuanya itu, Erwin sering lupa makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Banda Aceh, sebagian jenazah korban tsunami berada di kamar mayat RS Kesdam. Sementara itu, diperkirakan ribuan mayat masih bergeletakan di berbagai tempat di ibu kota provinsi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat juga dikumpulkan di Tugu Persimpangan Lambaro, Aceh Besar. Tepatnya, di depan Kantor PMI Cabang Aceh Besar. Sampai kemarin, sekitar 2.000 jenazah terkumpul di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mengalami cobaan sangat berat, Erwin berusaha tetap tegar. Sambil mengusap kedua matanya, dia terus berusaha mencari orang-orang tercintanya itu. "Saya akan terus mencari sampai menemukan mereka," ujarnya dengan air mata berlinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Erwin bisa selamat? Minggu pagi itu, sekitar pukul 07.00, dia sudah pergi ke kantor yang berada di pusat kota Banda Aceh. Bukankah Minggu bank libur? Dia mengangguk. Namun, pada Minggu kemarin, kantornya mengadakan pesta kecil-kecilan untuk memperingati hari ulang tahun BRI. Ulang tahun BRI sebenarnya jatuh pada 16 Desember lalu. "Pukul 08.00 gempa besar. Saya saat itu di kantor. Saya kaget," ungkap Erwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya langsung mengingat anak dan istrinya yang berada di rumah. Tanpa pikir panjang, dia lantas mengambil motor dan pulang. Betapa kaget dia saat tiba di rumah. "Rumah saya sudah rata dengan tanah," ungkapnya, sedih. Dia kemudian mencari keluarganya dengan berusaha membongkar-bongkar bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, belum lama tangannya mulai bekerja, dia mendengar suara gemuruh. Dia melihat air yang bercampur lumpur menuju ke arahnya. "Seperti air bah, menyapu setiap barang yang dilewatinya," ungkap Erwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, dia langsung berlari sekencang-kencangnya. Untung, di depannya ada rumah bertingkat. Tanpa pikir panjang, dia masuk ke rumah itu dan naik ke atapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku bersyukur karena rumah tempatnya berlindung cukup kuat menahan gelombang tsunami. Setelah airnya surut, Erwin baru berani turun dan mulai mencari lagi keluarganya. "Saya tak tahu lagi. Saya akan terus mencari mereka. Semoga mereka selamat. Kalaupun meninggal, saya ingin jenazah mereka ditemukan," ungkap Erwin, sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Erwin itu adalah satu contoh di antara ribuan warga Aceh yang kini bingung mencari keluarganya. Tempat penampungan mayat menjadi sasaran pencarian para keluarga korban. Misalnya, kemarin, sudah 80 jenazah yang diambil keluarganya dari tempat penampungan di Kantor PMI Lambaro, Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemarin, Banda Aceh masih menyerupai kota mati. Seluruh infrastruktur tak berfungsi. Aliran listrik dan sambungan telepon terputus. Kebutuhan sehari-hari langka. Ratusan mayat bergelimpangan di sepanjang jalan di pusat kota berjuluk Serambi Makkah tersebut. Kemarin sebagian jenazah sudah mulai dikubur secara masal di Desa Lambada, Kec Lambaro, Aceh Besar. Pemda Aceh menyediakan sekitar 3 hektare tanah untuk penguburan jenazah tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110443287186479200?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110443287186479200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110443287186479200' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110443287186479200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110443287186479200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2004/12/mereka-yang-mengais-reruntuhan-mencari.html' title='Mereka yang Mengais Reruntuhan, Mencari Mayat Sanak Saudara'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110443166586257727</id><published>2004-12-30T09:53:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:58:22.883-07:00</updated><title type='text'>Saat Menyelamatkan Diri, Sempat Beda Pendapat dengan Istri</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ffff00;"&gt;Saat Menyelamatkan Diri, Sempat Beda Pendapat dengan Istri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Calon Jamaah Haji yang Selamat ketika Tsunami Menerjang Asrama Haji&lt;br /&gt;Lemparkan Anak Bungsu Melewati Tembok 2,5 Meter&lt;br /&gt;Gelombang tsunami menyisakan duka bagi sebagian calon jamaah haji kloter 8 Embarkasi Aceh. Sebagian di antara mereka hilang. Bagaimana kisah mereka yang mampu lolos dari bencana dahsyat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djaka Susila, Aceh Utara&lt;br /&gt;Wajah Bukhori, 60, masih terkesan lelah. Tangan laki-laki asal Desa Muara Dua, Lhokseumawe, itu sering merogoh handphone-nya. Kadang, dia hanya melihat, kadang mencoba menelepon. Tapi, rupanya, dia selalu gagal. Bukhori terus duduk di teras Masjid Dewantara, Kreung Gekeuh, Lhokseumawe. Matanya berkali-kali menatap ke luar halaman masjid untuk melihat siapa yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang kemarin, Bukhori dan istrinya, Umi Kalsum, sengaja datang ke Masjid Dewantara untuk mencari tahu para calon haji kloter 8 yang juga tersapu gelombang tsunami itu. Memang, 325 calon haji berasal dari Aceh Utara dan sebagian Lhokseumawe. Informasi yang diperoleh Bukhori siang kemarin, para calon haji dan pengantarnya yang menjadi korban akan dibawa ke Masjid Dewantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukhori adalah salah satu calon jamaah haji kloter 8 yang selamat. Bersama sang istri, dia akan menunaikan ibadah haji pertamanya. Namun, beberapa jam sebelum berangkat, tsunami menahan langkahnya. Muka Bukhori langsung tersenyum ketika wartawan koran ini menyapa dan memintanya untuk berbagi pengalaman peristiwa mengenaskan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah, Dik. Saya dengan istri saya selamat. Allah menolong jiwa saya," katanya kepada koran ini sebelum membuka cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kejadian sekitar pukul 07.00 WIB, Bukhori dan istrinya serta jamaah lain mendapatkan kesempatan untuk bertemu keluarga. Waktu yang disediakan sekitar dua jam atau hingga pukul 09.00. Waktu itu dimanfaatkan Bukhori bersama ketiga anak dan 20 pengantarnya untuk bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah satu setengah jam berbicara, tiba-tiba terjadi gempa ringan. Gempa tersebut belum menyiutkan nyali Bukhori dan keluarganya. Mereka hanya berpegangan tangan dan keluar dari Asrama Haji untuk melihat apa yang terjadi. Lima belas menit kemudian, guncangan kembali terjadi. Kali ini lebih besar. Nyali Bukhori jadi ciut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya melihat beberapa gedung di luar bergoyang karena getaran yang lebih besar dari yang pertama," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tiga anak itu langsung berpikir cepat. Dua anaknya langsung digandeng ke luar. Istrinya pun langsung menggandeng anak bungsu mereka dan melarikannya ke lapangan yang jaraknya sekitar 100 meter. Saat sudah berada di luar pagar asrama haji, Bukhori sempat melihat gedung asrama itu bergoyang. Dalam pikirnya, gempa tersebut bisa merobohkan baungunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukhori kembali kaget ketika beberapa calon jamaah haji meminta dirinya dan yang lain berlari lebih jauh. "Air? air? air?.," teriak orang itu kepada Bukhori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalanya, Bukhori belum mengerti apa yang dimaksud orang yang berteriak air tersebut. Beberapa menit kemudian, ada air yang mengalir deras menunju ke arahnya. Meskipun bukan gulungan ombak, arus air yang cukup deras tersebut membuat beberapa orang di dalam asrama haji lari kalang kabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... Yang mengherankan lagi, sebagian dari para calon jamaah haji memilih berdoa dan membaca ayat-ayat suci Alquran. Bukhori menebak, merekalah yang menjadi korban tsunami tersebut. "Karena saat air mengalir, saya dengar mereka masih mengaji," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukhori pun langsung lari menyelamatkan diri. Kali ini dia menggendong anak bungsunya yang semula digendong istrinya. Sedangkan dua anaknya yang lain digandeng istrinya. "Terus terang, waktu itu saya tak memikirkan istri dan kedua anak saya. Saya hanya berdoa semoga mereka selamat," ujar Bukhori yang berpikir terpisah dari istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukhori terus berlari bersama orang lain. Tapi, dia akhirnya terhambat tembok tinggi sekitar 2,5 meter. Sambil menggendong anak bungsunya yang masih berumur 6 tahun, Bukhori berusaha menaiki tembok tersebut. Sudah tiga kali mencoba, tetapi Bukhori tetap tidak bisa melewai tembok itu. Padahal, air mulai mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, Bukhori langsung melemparkan anak bungsunya melewati tembok tinggi itu. Berhasil. Sebelum menyusul anak bungsunya, dia melihat istri dan kedua anaknya berada di belakang. Saat itu hatinya bertambah lega. Bukhori segera membantu istri dan kedua anaknya melewati tembok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil melewati tembok, mereka kembali berlari. Namun, Bukhori salah jalan. Ketika tiba di sebuah persimpangan, orang lain memilih berbelok kanan. Tetapi, Bukhori dan istrinya belok kiri. "Ternyata, saya justru mendekati datangnya air dari arah yang lain," ujarnya. Saat itu Bukhori dan istrinya sempat berselisih pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Bukhori memilih melanjutkan berlari. Tapi, Bukhori memilih mencari rumah bertingkat. Bukhori pun memberanikan diri masuk ke rumah yang berlantai dua. "Keluarga mereka langsung menolong kami dan kami berada di lantai atas," kata Bukhori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu jam, Bukhori dan keluarganya berada di rumah berlantai dua tersebut. Dia menyaksikan gelombang tsunami yang menghantam kota Banda Aceh. Menurut dia, tinggi gelombang mencapai lima meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu jam menunggu dan melihat aliran air sudah mereda, Bukhori dan keluarga memberanikan turun. Ketika itu, mereka melihat mayat bergelimpangan di pinggir jalan. Bahkan, ada masih terbawa arus. Beberapa mobil berserakan. "Banda Aceh seperti kota mati, Dik," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahan melihat penderitaan, Bukhori bersama beberapa penduduk yang masih hidup membantu mengevakuasi beberapa mayat. Dengan dibantu beberapa satuan Brimob dan TNI, mereka mengevakuasi mayat-mayat yang ada dan yang bisa dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, Bukhori menginap di rumah seorang pejabat. "Saya inginnya langsung pulang, tapi saya membantu mengevakuasi mayat sampai sore. Saat itu lampu mati dan handphone tidak bisa digunakan,’ katanya. Baru keesokan harinya, dengan mengendarai truk Bukhori meninggalkan Banda Aceh kembali ke Muara Dua, Lhokseumawe. Bukhori pun menyempatkan diri ke Masjid Dewantara untuk melaporkan kejadian yang dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian sudah meninggal, Dik, tapi ada jamaah yang masih hidup. Yang paling banyak kan yang mengantarkan. Alhamdullilah, pengantar saya yang berjumlah 20 orang selamat semua," katanya. Beberapa tas tidak bisa diselamatkan. Tapi, paspor dan barang-barang penting yang dimasukkan tas kecil bisa diamankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukhori mengaku masih bingung mengenai nasib dia dan istrinya. Dia tetap berharap bisa menunaikan haji tahun ini. Tetapi, musibah telah menimpa dia. Selain menunggu kabar dari calon jamaan haji lain, Bukhori juga meminta pemerintah memberikan kebijakan agar dirinya bisa berangkat haji tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tetap ingin pergi sekarang. Tetapi, saya tak tahu kebijakan pemerintah. Saya mau harus berangkat dari embarkasi Medan atau yang mana saja," ujarnya penuh harap. (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110443166586257727?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110443166586257727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110443166586257727' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110443166586257727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110443166586257727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2004/12/saat-menyelamatkan-diri-sempat-beda.html' title='Saat Menyelamatkan Diri, Sempat Beda Pendapat dengan Istri'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110442912766157836</id><published>2004-12-30T09:49:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:52:31.003-07:00</updated><title type='text'>Bertahan di Puncak Palem, Supermodel Cantik Selamat</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;Bertahan di Puncak Palem, Supermodel Cantik Selamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keganasan tsunami mengancam siapa saja. Tak terkecuali para selebriti dan tokoh terkemuka di dunia. Salah satunya adalah supermodel asal Chechnya, Petra Nemcova, 25. Model cantik itu berhasil lolos dari terjangan gelombang tsunami di Phuket, Thailand, setelah berpegangan kuat di puncak pohon palem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tanggung-tanggung, dia mendekap dan memeluk erat-erat pohon palem tersebut selama delapan jam. Nyawanya selamat setelah ditolong petugas. Tapi, tulang pinggulnya patah. Selain itu, dia mengalami cedera di bagian dalam organ tubuhnya. Sedangkan kekasihnya, Simon Atlee, 33, belum ditemukan hingga kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini dia (Nemcova) berada di rumah sakit. Dia merasa sangat beruntung karena bisa selamat. Sekarang kondisinya aman. Dia baik-baik saja," kata Rob Shuter, agen Nemcova, kepada kantor berita AFP kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat musibah itu terjadi, Nemcova memang sedang berlibur di Thailand Selatan bersama sang kekasih yang berpofesi sebagai fotografer mode. Awalnya, dia merencanakan liburan selama 10 hari di Thailand sebagai hadiah Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari terjadinya bencana, mereka berdua baru menikmati pantai di Resor Khao Lak, Phuket, dan kembali ke penginapan. Tiba-tiba, tsunami menghantam pantai. "Mereka berada di pantai dan menyewa pondok. Tiba-tiba, gelombang tsunami datang dan menghanyutkan pondok," ungkap Shuter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pakaian renang di sampul majalah Sports Illustrated dan pakaian dalam (lingerie) Victoria’s Secret tersebut merasa sangat beruntung selamat dari serbuan air laut yang meluluhlantakkan Resor Khao Lak. Dia pun menjelaskan, arus air yang deras menyeret dirinya dan kekasihnya dari penginapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, Nemcova berhasil meraih puncak pohon palem. Dia pun selamat dari seretan air laut. Tapi, Simon Atlee hanyut. Di atas pohon itu, Nemcova mengaku menyaksikan pemandangan tragis nan mengerikan. Mayat-mayat korban tsunami mengapung di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua orang berteriak histeris. Jerit tangis anak-anak juga terdengar di mana-mana. Semuanya berteriak ’tolong, tolong’. Tapi, setelah beberapa menit, Anda tidak mendengar (teriakan) anak-anak lagi," ujar Nemcova kepada The New York Daily News di rumah sakit tempat dirinya dirawat di Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia harus bertahan delapan jam di atas pohon sampai akhirnya mendapatkan pertolongan. Dia segera diterbangkan ke rumah sakit untuk dirawat. Pengalaman selamat dari maut itu meninggalkan trauma pada dirinya. Nemcova terlihat gemetar setiap teringat kejadian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang jelas, setelah menyelamatkan diri, saya mencoba terus berpikir positif. Banyak orang menderita luka yang mengerikan. Darah berceceran di mana-mana. Ini seperti sebuah film perang," ceritanya. Shuter berharap Nemcova bisa keluar dari rumah sakit dalam 2-3 hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Nemcova justru mengkhawatirkan nasib sang kekasih. Hingga kemarin keberadaan atau mayat Atlee belum ditemukan. Keduanya berpacaran sejak dua tahun lalu. Sejak saat itu mereka menjadi sorotan di dunia mode internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya Nemcova yang lolos dari serangan tsunami. Mantan Kanselir Jerman Helmut Kohl juga nyaris menjadi korban. Saat musibah itu terjadi, Kohl memang sedang berlibur di sebuah resor di Galle, Sri Lanka. Tetapi, Selasa lalu, Kohl dan rombongannya berhasil dievakuasi dari sebuah hotel oleh AU Sri Lanka. "Begitu helikopter dikirim, kami berhasil membawanya kembali bersama enam orang lain," ujar Komandan AU Sri Lanka Donald Perera kepada kantor berita Associated Press (AP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah selebriti dan tokoh terkemuka juga menjadi korban. Misalnya, sutradara kondang Hollywood Richard Attenborough kehilangan keluarga akibat tsunami. Cucu perempuannya, Lucy, 14, dan putrinya, Jane, hilang saat berlibur di Phuket. Ibu mertua Jane juga hilang dalam musibah tsunami itu. Sedangkan cucu Attenborough lainnya, Alice, 17, luka-luka dan masuk rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah film besutan Attenborough selama ini tergolong sukses. Filmnya yang berjudul Gandhi pernah meraih Oscar. Dia juga pernah menyutradarai Cry Freedom, Chaplin, Jurassic Park, The Great Escape, dan Elizabeth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain sepakbola Australia, Troy Broadbridge, juga menjadi korban saat menikmati bulan madu bersama istrinya, Trisha. Saat itu mereka menyusuri pantai Phuket. Broadbridge hilang disapu tsunami, tetapi sang istri selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan atlet ski Swedia, Ingemar Stenmark, selamat ketika berjemur di pantai Khok Kloi, 50 km dari Phuket, Thailand. Saat musibah terjadi, peraih medali emas Olimpiade 1980 dan juara dunia 1986 itu bersama teman-temannya di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, aktor laga Hongkong Jet Li dan keluarganya dievakuasi ke Doha, Qatar, setelah hotel tempat mereka menginap di Maladewa disapu tsunami. Kaki Jet Li terluka saat menyelamatkan putrinya yang berusia empat tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pemain sepakbola Italia juga nyaris bernasib serupa. Striker AC Milan Filippo Inzaghi, kapten AC Milan dan timnas Italia Paolo Maldini, dan defender Juventus Gianluca Zambrotta sempat terjebak di Maladewa. Tetapi, mereka selamat. (afp/ap/iis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110442912766157836?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110442912766157836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110442912766157836' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110442912766157836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110442912766157836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2004/12/bertahan-di-puncak-palem-supermodel.html' title='Bertahan di Puncak Palem, Supermodel Cantik Selamat'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110440773297177749</id><published>2004-12-30T03:53:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:51:16.693-07:00</updated><title type='text'>Pilih Ibu atau Adik</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ffcc00;"&gt;Pilih Ibu atau Adik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATA Nurtiasah (25) berkaca-kaca. Ia benar-benar kesulitan menceritakan kejadian yang menimpa keluarganya ketika gempa bumi dan gelombang pasang tsunami menerjang Kecamatan Bayou, Aceh Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Minggu (26/12) pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali perempuan lajang itu sesenggukan, sambil membetulkan selang oksigen yang terpasang di lubang hidungnya. Gelombang pasang tsunami yang terjadi sekitar pukul 08.30 pagi di Aceh Utara itu sungguh meninggalkan kenangan pahit, mimpi buruk, yang tak akan mudah dilupakan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah terbayangkan oleh Nur, sepanjang perjalanan kehidupannya ia harus dihadapkan pada dua pilihan yang sangat berat: menyelamatkan ibunya, Syadidat (63), atau adik bungsunya, Mariani (22). Ibarat makan buah simalakama, ia harus memilih menyelamatkan di antara dua orang sangat ia sayangi ketika tsunami melanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum badai melanda, saya berada di kamar karena sedang demam. Ibu asyik menonton televisi, sementara Mariani sedang mencuci kain di belakang rumah," kata gadis berkulit hitam manis itu, yang sedang tergolek di Rumah Sakit Cut Meutia, Lhokseumawe, Selasa (28/12) siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan bencana alam yang meluluhlantakkan kawasan permukiman, tempat tinggalnya, yang berjarak lima kilometer dari bibir pantai Laut Lancoek, Aceh Utara. Sebelum terjadi gelombang pasang, pengakuannya, terjadi dua kali gempa yang mengakibatkan dinding-dinding rumahnya bergetar hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika getaran gempa pertama terasa pukul 08.05, adiknya memaksanya keluar dari rumah. Sementara, ibunya masih asyik menonton acara televisi, seperti tak menyadari bahaya yang akan menimpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak tahu ada gempa karena aku sendiri lagi pusing. Namun, ketika itu adikku, Mariani, berteriak-teriak tidak jelas, sambil mengajakku keluar dari kamar. Sebenarnya aku tidak kuat untuk keluar karena masih lemas. Tetapi akhirnya aku terpaksa berjalan dengan tertatih-tatih," ia mengenang, sambil menghapus air mata yang mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit keluar dari kamar, terasa getaran gempa kedua. Barang-barang yang tergantung di dinding rumah berjatuhan. Baru ia beranjak melihat situasi di luar rumah, tiba-tiba muncul begitu saja semburan air pasang, langsung mengurung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipaksa Memutuskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seisi rumah panik. Ibunya dan Mariani spontan berlari menghampirinya, kemudian bersama-sama mereka lari ke arah belakang rumah, mencoba menyelamatkan diri ke jalan raya. "Air berhamburan dari segala arah, dan selang beberapa detik air sudah menenggelamkan kami. Mariani dan ibuku sudah putus asa. Mereka menarik-narik badanku di tengah kepungan air," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, mendapat kekuatan dari mana, Nur masih kuat memegang erat tangan adiknya beberapa lama. Dengan tangan yang lain, ia memeluk ibunya yang bertubuh kecil, erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak peduli, berapa banyak air bercampur lumpur yang tertelan. Ia hanya berusaha sekuat tenaga berenang dengan kepala tetap berada di atas permukaan air. Tetapi, kelebihan beban benar-benar membuatnya sulit bertahan di permukaan. Dan, di tengah perjuangan sebagai seorang kakak dan anak untuk menyelamatkan orang-orang yang dicintainya, sebuah benda keras yang terbawa air menghantam mereka. Meskipun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih bisa bertahan, Nur dipaksa memutuskan untuk melepaskan salah satu bebannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak kuat lagi. Aku harus melepaskan satu beban agar bisa berusaha tetap di atas. Akhirnya pegangan tangan Mariani aku lepaskan, tetapi badannya kudorong ke atas, dengan keyakinan dia bisa menyelamatkan dirinya, dibandingkan ibuku yang sudah tua," katanya, terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu salah satu beban terlepas, ia akhirnya berhasil berenang ke permukaan bersama ibunya, dengan bertumpu pada kayu reruntuhan rumah penduduk yang terbawa arus. Ia dan ibunya selamat, meski Nur sendiri beberapa kali muntah darah. Ia sempat dirawat di Unit Gawat Darurat RS Cut Meutia, Lhokseumawe. Begitu juga dengan Syadidat, ibunya, yang sempat dirawat secara intensif dan mengalami shock berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, harapan bertemu Mariani tak kunjung terwujud. Ia dan Mariani memang bertemu di RS Cut Meutia, tetapi dalam kondisi berbeda. Mariani tewas. Mayatnya ditemukan tersangkut di sebuah pepohonan yang hanyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya Selamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang dialami Nurtiasah, mungkin tak jauh berbeda dengan yang dialami oleh banyak korban tsunami di Aceh Utara, bahkan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gelombang pasang tsunami yang datang hingga setinggi pohon kelapa, membuat penduduk panik. Yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin ada di benak hanyalah bagaimana berusaha menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu jugalah yang dialami Tengku Hasan Walud (76), warga Desa Bantaian, Kecamatan Seuneddon, Aceh Utara. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu di antara mayat-mayat yang baru ditemukan, Selasa (28/12) pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia satu-satunya yang selamat dari tujuh anggota keluarganya, yang seluruhnya tewas diterjang gelombang tsunami. Ketujuh orang itu adalah istrinya, anaknya, menantu, serta empat cucunya. Hasan selamat setelah berhasil mencapai kayu reruntuhan ketika tsunami melanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBARUAN/HENRY SITINJAK&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110440773297177749?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110440773297177749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110440773297177749' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110440773297177749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110440773297177749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2004/12/pilih-ibu-atau-adik.html' title='Pilih Ibu atau Adik'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110436612208655898</id><published>2004-12-29T16:19:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:49:37.586-07:00</updated><title type='text'>Kuburan Massal itu bernama "BANDA ACEH"</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ffff00;"&gt;Kuburan Massal itu bernama "BANDA ACEH"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN harap-harap cemas, Nyonya Asni (48) melangkah mantap menuruni tangga pesawat Garuda Indonesia yang membawanya dari Medan, Sumatera Utara, Senin (27/12) siang. Terik mentari di tengah hari di landasan Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Nanggroe Aceh Darussalam, tidak dihiraukan perempuan berkerudung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH celingak-celinguk di pintu keluar ruang kedatangan penumpang bandar udara (bandara) di kawasan Blang Bintang tersebut, Asni melangkah ke tempat parkir depan. Baru tiga langkah, seorang adiknya langsung menghambur dan memeluk Asni. Isak tangis kedua kakak-beradik ini pun memecah kebisingan orang-orang yang ada di halaman parkir bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf Kak, tak satu pun anak-anak yang selamat. Saya sudah cari ke mana-mana, mereka tidak ketemu. Rumah kakak tidak ada lagi, dan kini yang tersisa hanya lumpur hitam dan genangan air," kata sang adik sembari memeluk kakaknya, Asni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kabar itu, Asni seketika berteriak histeris. "Ya Allah, habis sudah keluargaku. Nak, ke mana kamu, kok secepat itu meninggalkan kami? Pak, tolong saya, tolong carikan anak saya," ratap Asni kepada Kompas yang kebetulan berdiri di dekatnya. Masih histeris, ibu lima anak ini pun akhirnya terkulai lemas dan duduk berselonjor begitu saja di lapangan rumput taman bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kalimat terbata-bata disertai isak tangis, Asni bercerita bahwa pekan lalu ia bersama suaminya membawa orangtuanya yang sakit berobat ke Penang, Malaysia. Empat anaknya, masing-masing Siska dan Daifina, keduanya mahasiswa, serta Debi Istiqomah, dan Muhammad Sodiq (12), ditinggal di rumahnya yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari pantai di kota Banda Aceh. Anak tertuanya, Muhammad Ihsan, kuliah di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berjalan biasa- biasa saja. Bahkan, hingga Minggu pagi lalu, sekitar pukul setengah delapan atau sekitar 30 menit sebelum gempa berkekuatan 8,9 pada skala Richter menghantam wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut), Asni masih sempat bercakap-cakap melalui telepon dengan anak-anaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ternyata itulah percakapan terakhir Asni dengan keempat anaknya. Beberapa menit kemudian, gempa yang disertai gelombang tsunami menyapu rumahnya dan ribuan warga lain yang ada di sepanjang pantai kota Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, Lhok Seumawe, hingga kawasan pantai Aceh Utara dan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragisnya lagi, kejadian memilukan ini baru diketahui Asni satu hari setelah kawasan pantai Banda Aceh dengan radius sekitar 1,5-2 kilometer dari pantai luluh lantak, rata dengan tanah, digilas gelombang tsunami. Itu pun setelah Asni berjuang berebut tiket penerbangan ke kampung halamannya di Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambatnya informasi tentang bencana tragis itu tidak lepas dari putus totalnya sarana komunikasi dari dan ke Banda Aceh sejak Minggu pagi itu. Dan, malapetaka pahit tersebut akhirnya terpaksa ditelan sendiri hampir dua hari oleh ribuan warga Banda Aceh dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYONYA Asni memang tak sendirian. Di kota Banda Aceh itu setidaknya ada ribuan keluarga yang mengalami nasib serupa dengannya. Ada keluarga yang lenyap seketika, ada suami/istri kehilangan pasangannya dan anak-anak mereka, ada pula yang kehilangan keponakan, saudara, dan kerabat lainnya. Gelombang tsunami setinggi 10-an meter terlalu dahsyat untuk ribuan nyawa di bumi "Serambi Mekkah" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah Rusli Juneid (40), pedagang ikan di Kampung Jawa, kota Banda Aceh. Istrinya, Wardiani (36), bersama tiga anaknya, Nurdin Syahputera (12), Chairul Basyir (10), dan si bocah lincah Akbar Maulana (5), juga tidak diketahui keberadaannya sampai kemarin. Sembari pasrah dan berdoa kepada Allah, seperti orang terkena tekanan mental, Rusli sejak hari Minggu itu kerjanya cuma berkeliling dari satu tumpukan mayat ke tumpukan mayat lainnya yang ada hampir di setiap sudut Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya belum rela kalau empat orang yang saya cintai ini belum ditemukan jasadnya. Sampai kapan pun setiap mayat yang tergeletak akan saya telusuri dan intip wajahnya. Saya sangat menyesal, kok pada hari itu saya tidak bersama anak-anak di rumah," tutur Rusli yang berkeliling ke mana-mana mencari istri dan ketiga anaknya hanya menggunakan sarung tanpa alas kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi cerita Ipul dan Abu Bakar, warga Gampong Aje Cot, Kabupaten Aceh Besar. Ketika itu ia sedang berada di sekitar kawasan pasar Jalan Panglima Polim, Banda Aceh. Tiba-tiba bumi bergoyang disertai suara gemuruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gelombang dahsyat seperti dinding tegak lurus tiba-tiba menerobos dari arah pantai. Saya berlarian dan dalam sekejap berhasil naik ke pohon yang ada di trotoar jalan. Dengan bergelantungan dan penuh ketakutan, saya menyaksikan betapa gelombang tsunami menghanyutkan apa saja seketika. Mobil-mobil, rumah, dan orang-orang berteriak histeris tampak dihanyutkan dengan mudah, persis seperti sebuah busa di tengah kolam air deras," kata Ipul dan Abu Bakar, yang satu jam kemudian setelah air menyusut baru berani turun menginjak Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GELOMBANG tsunami yang meluluhlantakkan sekitar sepertiga kota Banda Aceh, Minggu lalu, itu memang menyisakan trauma psikis yang cukup kuat bagi sebagian besar warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain trauma, tsunami kini menyisakan ribuan jasad tak berdaya, bergelimpangan di mana-mana hampir di semua kawasan pusat kota Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berjalan sedikit saja ke ujung kawasan lain, misalnya dekat Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, di tengah- tengah bau busuk yang sangat menyengat hidung, dengan gampang kita akan menemukan tumpukan-tumpukan mayat di selokan yang sudah mulai kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pastikan, lebih dari 10.000 jiwa tewas mengenaskan karena gelombang tsunami di Banda Aceh. Ini bukan mengada-ada, tetapi sesuai dengan fakta yang bisa disaksikan dan dibuktikan di lapangan," ujar Rusli Muhammad, Penjabat Bupati Kabupaten Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang menyedihkan dan memilukan. Petaka yang tidak lebih dari sekitar setengah jam itu telah menjadikan kota Banda Aceh sebagai sebuah "kuburan massal".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya tampak pasrah menerima nasib. Kini tidak ada terdengar lagi suara tawa dan canda para Cut dan Nyak, kecuali isak tangis dan kucuran air mata. Banda Aceh pun kini seperti sebuah "kuburan massal" dengan batu nisan puing-puing, reruntuhan, lumpur, dan bangkai mobil…. (ahmad zulkani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110436612208655898?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110436612208655898/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110436612208655898' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110436612208655898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110436612208655898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2004/12/kuburan-massal-itu-bernama-banda-aceh_29.html' title='Kuburan Massal itu bernama &quot;BANDA ACEH&quot;'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110436201895939809</id><published>2004-12-29T15:12:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:48:03.926-07:00</updated><title type='text'>Kala Ombak Gulung Tanah Rencong</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ffff66;"&gt;Kala Ombak Gulung Tanah Rencong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU pagi yang cerah, warga Banda Aceh tengah melakukan aktivitas rutinnya. Ada yang belanja ke pasar, tak sedikit yang melakukan olahraga senam di lapangan Blang Padang. Sekitar 08.10 WIB, tiba-tiba bumi berguncang keras. Warga pun menghentikan kegiatannya dan menyelamatkan diri. Mereka yang berada di dalam gedung serentak ke luar, karena takut tertimpa reruntuhan. Namun di luar ruangan, tanpa mereka sadari, bencana yang lebih hebat menunggu mereka: gelombang pasang sebagai akibat dari gempa bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibukota Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang berada di pinggir pantai itu, dalam tempo singkat disapu gelombang pasang yang dalam bahasa Jepang disebut tsunami, dengan kecepatan hingga 800 kilometer/jam! Akibatnya sungguh dahsyat. Dalam tempo singkat, seisi kota berpenduduk 300 ribu jiwa di "Tanah Rencong" itu pun porak-poranda disapu gelombang setinggi 2 sampai 4 meter hingga 5 kilometer ke daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban pun bergelimpangan. Di jalanan, di rumah-rumah, di pinggiran sungai dan di bawah gundukan-gundukan barang-barang milik warga yang tersapu ombak. Sementara, mereka yang berhasil selamat, dicekam kekalutan luar biasa. Mereka yang kehilangan sanak saudaranya, kebingungan mencari ke sana ke mari. Tak sedikit di antara warga yang menangis histeris menangisi kepergian orang yang mereka cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut seorang warga Banda Aceh bernama Muhammad Ali kepada acehkita.com, situasi di kota itu sungguh memprihatinkan. Ali, yang berada di Simpang Surabaya, Kota Banda Aceh itu mengisahkan, hari Minggu siang (26/12), banyak jenazah bergelimpangan di jalan. Namun Senin pagi, jenazah-jenazah itu sebagian sudah dievakuasi keluarganya masing-masing, setelah dikumpulkan di masjid-masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, 2.000 jenazah yang sudah dievakuasi. Saya sendiri mengangkat 100 mayat kemarin, kata Ali kepada acehkita melalui telepon satelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ali, jenazah kebanyakan berada di sekitar Lapangan Blang Padang, yang terdapat di jantung kota berusia 799 tahun itu. Ini dimungkinkan, karena hari Minggu, lokasi itu dipakai kegiatan senam pagi rutin yang melibatkan banyak orang. Di lokasi itu pula, Ali melihat sejumlah korban tewas berada dalam mobil, setelah disapu air bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perkirakan, korban di situ ada 300 orang, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di Blang Padang, menurut Ali, situasi buruk juga terjadi di pesisir Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa. Hari itu banyak warga yang sedang liburan ke pantai. Di sana juga saya perkirakan ada 300 jenazah, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Sofjan Djalil, yang menyertai kunjungan Wapres Jusuf Kalla ke lokasi musibah di Banda Aceh, kepada Metro TV mengatakan bahwa, Masjid Raya Baiturrahman yang tepat di jantung kota itu, tak luput dari amukan tsunami. Bagian menara masjid bersejarah itu dilaporkan mengalami kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecamatan-kecamatan di Banda Aceh yang diduga dalam kondisi parah, masing-masing Kecamatan Kutaraja dan Syiah Kuala. Sementara itu, lalu lintas dalam Kota Banda Aceh masih belum normal, karena banyaknya genangan air, lumpur, dan batang-batang kayu serta barang-barang milik warga --termasuk mobil-mobil yang terguling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Baiturrahman, kantor DPRD Provinsi NAD, emperan pertokoan di Simpang Surabaya, serta Rumah Sakit Kesdam dijadikan lokasi pengungsian warga, sekaligus tempat menyimpan sementara jenazah. Sementara RS Zainoel Abidin, sampai pagi ini masih digenangi air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Ali mengisahkan, ia sendiri menjadi saksi mata, gelombang pasang yang dahsyat menyapu pusat kota Banda Aceh, beberapa saat setelah gempa bumi tektonik yang menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) berkekuatan 6,8 Skala Richter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah Lam Paseh, rumah-rumah warga sampai rata dengan tanah. Ali mengaku turut membantu mengevakuasi para korban di lokasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil satu mayat, dan saya melihat mayat lainnya bertimbunan, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Simpang Lima, Pasar Swalayan Pante Pirak tak luput dari amukan air bah. Pusat perbelanjaan itu terletak persis di samping Krueng (Sungai) Aceh. Saking dahsyatnya gulungan ombak itu, Ali melihat ada tiga unit truk Reo (truk militer beroda 10) tersangkut di atas toko di Jalan Muhammad Jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih 5.000 tewas&lt;br /&gt;Hingga pukul 18.00 WIB Senin sore (27/12), dilaporkan korban tewas di Provinsi NAD mencapai 5.528 orang. Dari jumlah korban tewas tersebut, paling banyak di Kota Banda Aceh, yakni 3.000 orang. Di Aceh Utara, korban tewas 1.559 orang. Sedangkan korban meninggal lainnya, tersebar di Bireuen (132 orang), Pidie (645 orang), Lhokseumawe (157 orang), dan Aceh Timur (35 orang). Hingga kini, belum diperoleh data dari Kabupaten Aceh Barat, Pulau Simeulue -- yang merupakan daerah terdekat dengan pusat gempa-- karena jaringan komunikasi ke daerah itu putus total. Sementara itu, jaringan komunikasi dengan Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan Pidie, hingga kini juga terputus. Komunikasi hanya bisa dilakukan menggunakan telepon satelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain wilayah Aceh, yang dijuluki Serambi Mekkah ini, tsunami juga melanda daerah Sumatera Utara (Sumut), mengakibatkan korban tewas di Kabupaten Kepulauan Nias sebanyak 122 orang, Pantai Cermin delapan orang, dan Kabupaten Tapanuli Tengah satu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilaporkan pula, badai tsunami itu juga merenggut nyawa 45 orang anggota keluarga TNI/Polri, terdiri dari 18 istri TNI/Polri, 25 orang anak TNI/Polri dan dua orang mertua TNI/Polri. Sedangkan anggota TNI yang tewas dalam bencana alam ini, menurut data yang dilansir Panglima TNI Jendral TNI Endriartono Sutarto, sebanyak 377 personel. Sebanyak 19 personel di antaranya berasal dari satuan organik Kodam Iskandar Muda dan satuan penugasan dari Yonif-744 dan Yonif Marinir, 180 personel tewas dari satu kompi Kodam Iskandar Muda yang sedang berlatih di Ulee Gle, Pidie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang selamat dan dirawat di rumah sakit di NAD dan Sumut, sebanyak 602 orang. Mereka masing-masing dirawat di RS Cut Meutia Lhokseumawe (95 orang), RS PMI Lhokseumawe (157 orang), RSUD Biereun (296 orang), RSU Langsa (51 orang), RSU Melati Perbaungan (dua orang), dan RS Lubuk Pakam (satu orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pengungsi yang terdata saat ini mencapai 15.000 orang, terbagi di 35 titik di kedua provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Kesehatan (Depkes) saat ini berupaya mengevakuasi korban yang meninggal maupun luka-luka untuk dibawa ke rumah sakit terdekat, membuka Posko kesehatan 24 jam, memberikan rawat inap dan rawat jalan, melakukan koordinasi dengan lintas sektoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Depkes juga telah mengirim bantuan obat-obatan sebanyak 10 ton, dan Selasa (28/12) akan dikirim lagi empat ton plus puluhan tenaga medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Gubernur NAD Abdullah Puteh, yang tengah menghadapi persidangan kasus korupsi pembelian helikopter MI-2 di Pengadilan Tipikor Jakarta, meminta izin pada hakim untuk memimpin doa bersama bagi para korban tsunami di tanah kelahirannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110436201895939809?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110436201895939809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110436201895939809' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110436201895939809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110436201895939809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2004/12/kala-ombak-gulung-tanah-rencong.html' title='Kala Ombak Gulung Tanah Rencong'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110434574553268910</id><published>2004-12-29T10:39:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:43:24.946-07:00</updated><title type='text'>Tiba-tiba Laut Surut</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ffcc66;"&gt;Tiba-tiba Laut Surut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan : zam/ap/irf/dip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakaria (43 tahun), belum hilang rasa paniknya begitu bumi bergetar keras pada pukul 08.10 WIB. Dia segera keluar bersama isteri dan empat anaknya dari rumah kayunya yang bergemeretak di tepi pantai Desa Munasahlhok, Kecamatan Muarabatu, Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Tidak dipedulikannya lagi perabotan rumah yang berjatuhan akibat geliat gempa bumi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit kemudian, Zakaria menyaksikan sebuah fenomena alam yang menakjubkan. ''Air pantai tiba-tiba surut sekitar 1 kilometer,'' ungkapnya. Rasa panik Zakaria seakan lenyap oleh pemandangan yang tak pernah dilihatnya selama hidup di tepian pantai dan melaut sebagai nelayan. Tak sadar, langkahnya mengayun cepat seperti tersedot medan magnet ke arah menyurutnya air laut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakaria tidak sendirian. Banyak warga setempat juga penasaran untuk melihat surutnya air laut yang begitu jauh menjorok menuju lepas pantai. Sekitar 10 menit kemudian, terdengar debur ombak yang dahsyat seperti ledakan dinamit yang amat keras. Namun, sebelum hilang rasa kagetnya, warga tiba-tiba panik dan berlarian menuju tepi pantai. Ketika itu, air yang surut berbalik haluan dengan kecepatan tinggi. ''Gelombang airnya bergulung-gulung membentuk ombak besar menuju pantai,'' ungkap Halim, seorang saksi mata lainnya, yang tidak ikut turun ke bawah pantai saat air laut menyurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak warga yang tak mampu segera mencapai garis pantai atau daerah aman saat air laut itu kembali pasang. Mereka terperangkap oleh fenomena alam yang sempat menjadi pemandangan memukau. Sedangkan Zakaria, termasuk beruntung. Ia mampu mencapai rumahnya untuk berlindung. Namun, air pasang itu bergulung sampai melewati garis pantai. Manusia, pepohonan, rumah, dan segala yang ada di tepi pantai, pun diterjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakaria merasa tak aman kalau harus berlindung di rumah. Maka ia putuskan untuk lari menjauh. Orang tuanya, Ismail (85), menggapaikan tangan meminta tolong, dan segera ditariknya. Namun, pegangan Zakaria terhadap tangan Ismail terlepas oleh debur air pasang yang menerjang keras rumahnya. Sejak itu, Zakaria tak sadarkan diri. Ketika siuman pada siang hari, Zakaria sudah tergeletak di Puskesmas Geurugoh, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun, NAD. Di situ, ia juga mendapatkan istri, empat anak, dan orang tuanya masih hidup. Perasaan suka cita terbebas dari maut itu segera berubah duka. Muncul berita bahwa mertua Zakaria, Daud (80), yang tinggal bertetangga, tewas dalam amuk gelombang pasang air laut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud tercatat sebagai salah satu dari ribuan korban tewas akibat gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di pantai sebelah barat Sumatra Utara dan NAD. Musibah tersebut tercatat sebagai salah satu dari lima gempa besar yang terjadi sejak tahun 1900. ''Seluruh planet bergetar,'' kata Enzo Boschi, kepala lembaga geofisika nasional Italia, menggambarkan gempa yang terjadi kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantaslah jika keterkejutan keluarga Zakaria juga menjadi milik P Ramanamurthy, warga Andra Pradesh, India. ''Saya tidak pernah membayangkan bahwa peristiwa seperti ini bisa terjadi,'' ungkapnya. Rama menjelaskan bahwa saat tsunami datang, dia menyaksikan perahu-perahu nelayan tersapu gelombang seperti kertas yang hanyut di air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah dengan keduanya, Gerrard Donelly, warga Inggris yang sedang berwisata di Phuket, Thailand, juga sangat tersentak dengan peristiwa tersebut. Waktu itu dia mengaku mendengar bunyi ledakan yang sangat keras. ''Sungguh sangat keras. Saya kira itu serangan teroris,'' ujarnya. Setelah terdengar ledakan, gelombang laut datang sangat besar. Untuk menyelamatkan diri, dia pun langsung naik ke lantai atas hotel tempatnya menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu gempa dan tsunami reda, kepanikan mereka, juga jutaan orang yang tinggal di pantai yang mengelilingi Samudra Hindia tidak serta-merta sirna. Aliran listrik dan saluran komunikasi di sebagian wilayah di pantai-pantai itu mati. Korban tewas akibat peristiwa tersebut juga terus meningkat. Untuk membantu para korban, sesaat setelah bencana Dompet Dhuafa (DD) Republika, segera menuju NAD dengan membawa bantuan senilai Rp 500 juta. ''Saat ini kami sedang berada di Medan dan bersiap untuk menuju Aceh pada pukul 23.00 dengan kendaraan darat, karena pasca gempa tidak ada penerbangan langsung ke Aceh,'' ungkap Direkktur ACT DD Republika, Ahyudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Komunikasi Perusahaan PT Garuda Indonesia, Pujobroto, mengakui bahwa sejak peristiwa tersebut memang penerbangan ke Aceh ditunda sampai situasi kembali normal. Direktur Utama Perum Bulog, Widjanarko Puspoyo juga menginstruksikan jajarannya menyiapkan stok beras untuk membantu para korban.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110434574553268910?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110434574553268910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110434574553268910' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110434574553268910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110434574553268910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2004/12/tiba-tiba-laut-surut.html' title='Tiba-tiba Laut Surut'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9838259.post-110434318861928991</id><published>2004-12-29T09:58:00.000-08:00</published><updated>2005-09-26T11:41:46.353-07:00</updated><title type='text'>Banda Aceh Diguncang Gempa</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;color:#ffcc66;"&gt;Banda Aceh Diguncang Gempa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 26 Desember 2004 09:30&lt;br /&gt;Kota Banda Aceh, Minggu pagi (26/12), sekitar tujuh menit diguncang gempa yang cukup kuat, mulai pukul 08.05 WIB, mengakibatkan sejumlah bangunan ambruk. Belum diketahui kemungkinan adanya korban jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat guncangan yang belum diketahui pasti kekuatannya tersebut, sejumlah ruko yang sedang dalam pembangunan di kawasan Kelurahan Beurawe, Kecamatan Kota Alam Banda Aceh, tampak ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai berita ini diturunkan, aparat keamanan, polisi serta petugas dari Palang Merah Indonesia sudah berada di lokasi gempa karena dikhawatirkan ada pekerja bangunan yang tertimpa reruntuhan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu terasa guncangan akibat gempa, ribuan penduduk di kota berjumlah sekitar 350.000 itu langsung berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan beberapa penduduk yang ditemui di lokasi, gempa tersebut adalah yang terkuat yang pernah menimpa daerah mereka selama ini. [TMA, Ant]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9838259-110434318861928991?l=cintaku-be.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-be.blogspot.com/feeds/110434318861928991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9838259&amp;postID=110434318861928991' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110434318861928991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9838259/posts/default/110434318861928991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-be.blogspot.com/2004/12/banda-aceh-diguncang-gempa.html' title='Banda Aceh Diguncang Gempa'/><author><name>cinta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
